Tubuh Manusia Menjadi Kebun Sawit, Aries BM Bawa Luka Papua ke Panggung SIPA
Seniman Aries BM menampilkan Performance art “Wounded Indigenous Territory” (WIT) dalam rangkaian SIPA 2026 di Mangkunegaran Solo.
Performance art “Wounded Indigenous Territory” (WIT) karya seniman Aries BM yang dipentaskan dalam rangkaian Solo International Performance Art (SIPA) di Mangkunegaran Solo, Jumat (11/9/2026) malam. (istimewa) NUMLIT, SURAKARTA — Seorang manusia meronta di tengah panggung. Tubuhnya perlahan dibungkus tanah liat. Daun sawit kemudian ditancapkan di tubuh yang semakin tak lagi menyerupai manusia. Di atas kepalanya, genangan minyak menyala.
Table Of Content
Tak ada narasi panjang untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Namun tubuh, tanah, daun sawit, minyak, dan api berbicara dengan bahasa mereka sendiri.
Adegan tersebut menjadi bagian penting dari performance art “Wounded Indigenous Territory” (WIT) karya seniman Aries BM yang dipentaskan dalam rangkaian Solo International Performance Art (SIPA) di Mangkunegaran Solo, Jumat (11/9/2026) malam.
Aries BM merupakan dosen ISI Surakarta, Wakil Direktur Pascasarjana ISI Surakarta, sekaligus seniman seni rupa yang konsisten mengangkat isu sosial, politik, hak asasi manusia, dan krisis ekologis melalui pendekatan seni kontemporer yang kritis dan reflektif.
Di panggung SIPA 2026 itu, Aries tidak sedang sekadar menghadirkan tontonan artistik. Ia membawa persoalan ekologis dan kemanusiaan Papua ke hadapan penonton melalui bahasa simbolik yang tajam, tentang tanah adat yang terdesak, manusia yang kehilangan ruang hidup, serta modernisasi yang datang bersama ekspansi industri ekstraktif.
Di tangan Aries, tragedi ekologis tidak hadir sebagai angka tentang luas hutan yang hilang. Tragedi itu menjelma menjadi tubuh manusia.
Ketika Manusia Perlahan Berubah Menjadi Komoditas
Performance art tersebut dibangun melalui rangkaian simbol yang saling berkaitan.
Aries mengenakan jas hitam dan berjalan mendekat secara perlahan serta metodis. Jas formal itu menjadi representasi korporasi, birokrasi, dan kapitalisme global. Sebuah instrumen kekuasaan yang datang membawa narasi pembangunan dan modernitas.
Langkah demi langkah menjadi simbol bagaimana ekspansi modal masuk secara sistematis ke wilayah masyarakat adat.
Di sisi lain, seorang manusia digambarkan meronta-ronta. Gerak tubuhnya menjadi gambaran masyarakat adat yang ruang hidupnya semakin menyempit, terdesak, bahkan kehilangan kemampuan untuk menentukan nasib atas tanah leluhurnya sendiri.

Tubuh tersebut kemudian dibungkus dengan tanah liat. Tanah liat dalam karya ini tidak sekadar menjadi material artistik. Ia menyimbolkan proses ketika manusia seolah ditimbun oleh persoalan tanahnya sendiri, mengalami depersonalisasi, kehilangan hak, sekaligus dipaksa kembali menyatu dengan tanah yang justru telah dirampas dari ruang hidupnya.
Ironi itu semakin kuat ketika daun sawit ditancapkan pada tubuh yang telah terbungkus tanah liat. Tubuh manusia berubah menjadi semacam pohon atau hamparan kebun monokultur. Manusia tidak lagi tampil sebagai subjek. Ia seolah berubah menjadi bagian dari komoditas.
Di situlah Aries menyampaikan kritik paling tajamnya. Ketika alam dikomodifikasi secara brutal, manusia yang hidup di dalamnya pun berisiko diperlakukan seperti bagian dari komoditas tersebut.
Api di Atas Kepala dan Puncak Krisis
Pertunjukan kemudian bergerak menuju simbol yang paling ekstrem. Genangan minyak diletakkan di atas kepala dan dibakar.
Api menjadi puncak dari rangkaian simbol tentang industri ekstraktif dan kehancuran ekologis. Minyak merepresentasikan industri yang mengeruk isi bumi, sementara kobaran api menggambarkan kerusakan yang pada akhirnya kembali membakar ruang hidup manusia.
Api juga membawa makna yang lebih dalam. Tentang penderitaan, kehancuran ekologis, hingga keruntuhan spiritual masyarakat adat ketika hubungan sakral mereka dengan alam terputus.
Pada titik ini, “luka” dalam Wounded Indigenous Territory bukan lagi hanya luka pada tanah. Ia adalah luka pada manusia. Luka pada identitas. Luka pada kebudayaan. Dan, luka pada hubungan masyarakat adat dengan ruang hidup yang diwariskan turun-temurun.
Performance Aries tersebut juga berkolaborasi dengan kelompok tari Ayi Dance. Gerak tubuh dan ekspresi artistik mereka secara bersamaan menghadirkan kegelisahan terhadap situasi ekologis dan kemanusiaan yang terjadi di Papua.
Papua Tak Sekadar Kehilangan Hutan
Papua selama ini kerap dipandang sebagai wilayah dengan kekayaan alam luar biasa. Namun di balik kekayaan tersebut terdapat ruang hidup masyarakat adat yang berhadapan dengan perubahan besar akibat ekspansi industri perkebunan kelapa sawit dan monokultur kayu.
Bagi Aries, persoalan itu tidak cukup dibaca sebagai isu lingkungan.
“Alih fungsi hutan adat menjadi perkebunan skala besar juga menyentuh persoalan hak, identitas, kebudayaan, dan keberlangsungan hidup masyarakat lokal,” ujar dia seusai pentas.
Karena itu, melalui WIT, Aries mencoba membawa suara yang sering kali tenggelam di antara narasi investasi, pembangunan, dan kebijakan birokrasi.

Seni pertunjukan dipilih sebagai medium untuk menyampaikan kegelisahan tersebut. Bukan sebagai hiburan semata, melainkan sebagai perlawanan kultural.
Panggung menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa kerusakan ekologis tidak pernah berhenti pada hilangnya tutupan hutan. Ketika hutan berubah fungsi dan tanah adat kehilangan kedaulatannya, yang ikut terancam adalah manusia dan kebudayaan yang selama ini hidup bersamanya.
Seni sebagai Alarm yang Dibunyikan dari Solo
Melalui karya ini, Aries berharap publik tidak memandang persoalan Papua sebagai isu yang jauh dan hanya menjadi urusan masyarakat di wilayah tersebut.
Ia ingin menghadirkan empati sekaligus pertanyaan. Pembangunan seperti apa yang sebenarnya sedang dibangun ketika ruang hidup masyarakat adat justru semakin terdesak?
Bagi Aries, persoalan ekologis membutuhkan evaluasi terhadap model pembangunan yang destruktif. Kedaulatan masyarakat adat atas tanah leluhur, menurut gagasan yang dibawa melalui karya ini, harus menjadi bagian penting dari pembicaraan tentang masa depan Papua.
Sebab ketika kerusakan ekologis mencapai titik yang tidak lagi dapat dipulihkan, yang hilang bukan hanya pohon dan hutan.
Ada manusia yang kehilangan rumah. Ada kebudayaan yang kehilangan ruang hidup. Dan ada generasi yang mungkin hanya akan mengenal tanah leluhurnya melalui cerita.
Di panggung SIPA di Mangkunegaran Solo, Aries BM memilih cara yang berbeda untuk membicarakan semua itu. Ia tidak membawa peta konflik ke atas panggung. Ia tidak membawa tumpukan data. Ia membawa tubuh manusia. Lalu perlahan mengubahnya menjadi tanah, pohon, komoditas, dan akhirnya objek yang terbakar.
Sebuah metafora tentang bagaimana ketika tanah adat terluka, manusia yang hidup di atasnya pun ikut terluka. Dan dari Solo, luka itu dibawa ke hadapan publik sebagai sebuah alarm. Jangan sampai pembangunan membuat manusia kehilangan tempatnya sendiri di tanah leluhur. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.