Bukan Lagi Sekadar Tempat Membaca, Perpustakaan UIN Surakarta Ajak Mahasiswa “Berkonten” dari Ruang Buku
Mahasiswa diajak menjadikan Perpustakaan UIN raden Mas Said Surakarta sebagai objek kreativitas.
Pemenang lomba dalam rangka Library Fun Day 2026 menerima apresiasi dari petugas UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta, Senin (14/9/2026). (istimewa) NUMLIT, SURAKARTA — Perpustakaan selama ini identik dengan rak buku, meja baca, dan suasana yang tenang. Namun di tengah kebiasaan generasi muda yang semakin akrab dengan Instagram dan TikTok, cara berinteraksi dengan pengetahuan pun ikut berubah.
Table Of Content
Perubahan itulah yang coba dijawab UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta melalui Library Fun Day 2026, Senin (14/9/2026).
Berbeda dari sekadar menggelar perayaan Hari Kunjung Perpustakaan, kegiatan tersebut mengajak mahasiswa melihat perpustakaan dengan cara yang berbeda. Bukan hanya sebagai tempat membaca dan mencari referensi, tetapi juga sebagai ruang bertemu, berekspresi, membuat karya, dan membagikan pengalaman melalui media digital.
Momentum tersebut digelar bertepatan dengan Hari Kunjung Perpustakaan sekaligus rangkaian Dies Natalis ke-34 UIN Raden Mas Said Surakarta yang mengusung tema “Mentradisikan Lurik dan Mengunggulkan Glokalisasi.”
Di tengah derasnya budaya digital, perpustakaan mencoba menerjemahkan tema tersebut ke dalam satu pertanyaan sederhana. Bagaimana tradisi pengetahuan tetap dipertahankan ketika cara generasi muda mengakses dan membagikan pengetahuan sudah berubah?
“Perpustakaan berada di titik temu antara tradisi dan perubahan. Buku, koleksi, dan pengetahuan merupakan bagian dari tradisi akademik yang harus kita rawat. Namun, cara mahasiswa berinteraksi dengan pengetahuan terus berubah. Karena itu, perpustakaan juga harus mampu beradaptasi dengan teknologi dan budaya digital,” ujar Kepala UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta, M. Zainal Anwar, Senin (14/9/2026).
Salah satu bentuk adaptasi tersebut terlihat dari aktivitas yang ditawarkan dalam Library Fun Day 2026. Mahasiswa tidak hanya datang, duduk, membaca, lalu pulang. Mereka justru diajak menjadikan perpustakaan sebagai objek kreativitas.
Melalui Library Selfie Contest, mahasiswa dapat mengeksplorasi berbagai sudut perpustakaan, mengambil foto kreatif, kemudian membagikannya melalui Instagram.

Sementara melalui Library Video Contest, mahasiswa diajak membuat video pendek tentang fasilitas, suasana, maupun pengalaman mereka selama memanfaatkan perpustakaan dan mengunggahnya melalui TikTok.
Sekilas, aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi perpustakaan, ada pesan yang lebih besar di baliknya.
Mahasiswa yang selama ini terbiasa menjadi konsumen konten digital diajak menjadi produsen cerita tentang ruang pengetahuan.
Perpustakaan tidak lagi hanya menyediakan koleksi untuk dibaca. Ruang tersebut juga menjadi bahan cerita yang dapat diproduksi dan disebarluaskan mahasiswa melalui platform yang sehari-hari mereka gunakan.
“Kami ingin mahasiswa melihat perpustakaan bukan sebagai ruang yang kaku. Perpustakaan adalah ruang belajar, ruang bertemu, ruang mencari informasi, sekaligus ruang untuk melahirkan kreativitas,” kata Zainal.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi digital tidak ditempatkan sebagai ancaman terhadap budaya membaca.
Sebaliknya, teknologi dimanfaatkan untuk memperpanjang usia dan jangkauan pengalaman yang terjadi di perpustakaan.
Buku Tetap Penting di Tengah Ledakan Konten
Perubahan cara mengakses informasi tidak lantas membuat buku kehilangan relevansinya. Justru, Hari Kunjung Perpustakaan 2026 yang diperingati setiap 14 September membawa tema “Buku: Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa buku dan perpustakaan tetap memiliki fungsi penting di tengah derasnya arus informasi digital.
Banjir informasi membuat persoalan literasi bukan lagi sekadar apakah seseorang bisa menemukan informasi.
Persoalannya adalah apakah informasi tersebut dapat dibaca secara kritis, dipahami konteksnya, dibandingkan dengan sumber lain, dan digunakan secara bertanggung jawab.
Di titik inilah perpustakaan perguruan tinggi memiliki posisi strategis. Mahasiswa membutuhkan ruang untuk menemukan sumber yang kredibel, mengembangkan argumentasi, melakukan penelitian, sekaligus membangun kebiasaan akademik.
Karena itu, transformasi digital perpustakaan bukan berarti mengganti buku dengan media sosial. Yang berubah adalah cara perpustakaan membangun hubungan dengan penggunanya.
Lurik, Buku, dan TikTok dalam Satu Ruang
Semangat tersebut juga berkaitan dengan tema Dies Natalis ke-34 UIN Raden Mas Said Surakarta.
“Mentradisikan Lurik dan Mengunggulkan Glokalisasi” membawa gagasan tentang bagaimana identitas lokal tetap dirawat, tetapi pada saat yang sama mampu berinteraksi dengan dunia yang lebih luas.
Bagi Zainal, perpustakaan dapat mengambil peran dalam proses tersebut.
“Kalau lurik menjadi simbol bagaimana kita merawat identitas lokal, maka perpustakaan dapat menjadi ruang untuk merawat ingatan dan pengetahuan lokal. Sementara semangat glokalisasi mendorong kita agar pengetahuan tersebut tidak berhenti di ruang lokal, tetapi dapat berdialog dengan pengetahuan global melalui teknologi dan jejaring akademik,” ujarnya.
Dengan perspektif itu, buku, tradisi lokal, dan teknologi digital tidak perlu ditempatkan sebagai tiga dunia yang terpisah.
Buku menyimpan pengetahuan. Tradisi menyimpan identitas. Teknologi membuka akses dan memperluas jangkauan. Perpustakaan menjadi ruang yang mempertemukan ketiganya.
“Merawat tradisi bukan berarti kembali ke masa lalu, sementara menjadi modern bukan berarti meninggalkan identitas. Justru tugas kita adalah mempertemukan keduanya. Perpustakaan ingin mengambil bagian dalam proses itu melalui penguatan literasi, koleksi, layanan digital, dan ruang kreativitas mahasiswa,” kata Zainal.
Membuat Mahasiswa Punya Alasan untuk Datang
Untuk menciptakan pengalaman yang lebih dekat dengan pemustaka, Library Fun Day 2026 juga menghadirkan Welcome Snack & Drink mulai pukul 08.30 WIB.
Pemustaka yang datang dapat menikmati teh, kopi, wedang jahe, serta aneka kudapan sebagai bentuk penyambutan dan apresiasi.

Ada pula Lucky Visitor Doorprize, berupa hadiah kejutan yang diberikan melalui pengundian pada waktu-waktu tertentu selama kegiatan berlangsung. Namun hadiah dan kompetisi bukan tujuan akhirnya. Yang lebih penting adalah menciptakan kembali alasan bagi mahasiswa untuk datang ke perpustakaan.
Sebab tantangan perpustakaan di era digital bukan hanya menjaga koleksi tetap tersedia, tetapi memastikan perpustakaan tetap relevan dalam kehidupan penggunanya.
Mahasiswa hari ini mungkin mencari informasi melalui mesin pencari, berdiskusi melalui grup percakapan, menonton video penjelasan, atau menemukan gagasan baru melalui media sosial.
Namun ketika mereka membutuhkan pengetahuan yang lebih mendalam, sumber akademik yang dapat dipercaya, ruang untuk berpikir, dan lingkungan yang mendukung proses belajar, perpustakaan tetap memiliki tempat.
Dari Ruang Membaca Menjadi Ruang Produksi Pengetahuan
Karena itu, Library Fun Day 2026 dapat dibaca sebagai upaya kecil untuk menjawab perubahan besar dalam dunia literasi.
Perpustakaan tidak perlu berlomba menjadi media sosial. Perpustakaan juga tidak harus mengubah seluruh dirinya menjadi ruang hiburan.
Yang perlu dilakukan adalah memahami bagaimana generasi baru berinteraksi dengan pengetahuan, lalu menemukan cara agar perpustakaan tetap hadir dalam kebiasaan tersebut.
Ketika mahasiswa memotret sudut perpustakaan, membuat video, membaca buku, mencari referensi, berdiskusi, dan membagikan pengalamannya ke ruang digital, sebenarnya terjadi satu proses penting yaitu ruang fisik perpustakaan mulai terhubung dengan ruang pengetahuan digital.
Zainal merangkumnya dengan sederhana. “Buku merawat ingatan. Teknologi memperluas jangkauan. Dan perpustakaan mempertemukan keduanya.”
Pada akhirnya, tantangan perpustakaan bukan sekadar membuat mahasiswa lebih sering berkunjung. Lebih dari itu, perpustakaan perlu membuat mahasiswa merasa bahwa tempat tersebut masih punya hubungan dengan kehidupan mereka.
Sebab di era ketika hampir semua informasi bisa ditemukan dalam genggaman, perpustakaan harus menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar akses informasi: ruang untuk belajar lebih dalam, berpikir lebih kritis, berkarya, dan menemukan makna dari pengetahuan.
Dan mungkin, itulah cara baru perpustakaan mempertahankan tradisi membaca, bukan dengan menolak TikTok dan Instagram, tetapi dengan membuat buku dan pengetahuan ikut menemukan jalan menuju ruang digital tempat generasi muda hidup. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.