Kirab 16 RW Tak Sekadar Jaga Tradisi, Warga Pajang Berusaha “Memanggil” Keramaian Kembali ke Pasar Jongke
Kirab budaya Kelurahan Pajang diharapkan menjadi cara memperkenalkan kembali Pasar Jongke yang dinilai masih sepi setelah pembangunan kembali.
Peserta kirab budaya Kelurahan Pajang berjalan menuju Pasar Jongke, Surakarta, dengan mengenakan pakaian adat Jawa dan membawa panji serta alat musik tradisional, Minggu (13/09/2026). (Nurul Hidayah) NUMLIT, SURAKARTA — Iring-iringan warga dari 16 RW bergerak menyusuri jalan Kelurahan Pajang, Kota Surakarta, Minggu (13/9/2026).
Table Of Content
Beragam kreasi bernuansa Nusantara ditampilkan. Ada yang membawa atribut budaya, ada pula yang menyiapkan pertunjukan untuk menyemarakkan kirab. Namun perjalanan itu bukan sekadar menuju garis finis. Tujuan akhirnya adalah Pasar Jongke.
Di balik kemeriahan kirab budaya tersebut, warga Kelurahan Pajang menyimpan harapan sederhana yaitu pasar yang telah dibangun kembali dengan fasilitas lebih baik itu kembali ramai didatangi masyarakat.
Kirab budaya Kelurahan Pajang tahun ini memang dirancang dengan dua misi sekaligus. Di satu sisi, warga ingin menjaga tradisi dan mengenalkan kebudayaan kepada generasi berikutnya. Di sisi lain, keramaian kirab diharapkan menjadi cara untuk memperkenalkan kembali Pasar Jongke yang dinilai masih sepi setelah pembangunan kembali.
“Tujuannya untuk nguri-uri kebudayaan yang ada di sekitar Pajang dan juga untuk menghidupkan suasana Pasar Jongke yang sepi semenjak dibangun lagi,” kata salah satu warga, Jarot (50), saat diwawancarai di lokasi.
Kirab tersebut melibatkan warga dari RW 1 hingga RW 16. Masing-masing wilayah ikut menampilkan kreasi dengan tema “Unsur Nusantara”.
Bagi warga, keterlibatan 16 RW menunjukkan bahwa kirab bukan sekadar agenda seremonial kelurahan. Masyarakat ikut mengeluarkan tenaga dan biaya untuk memastikan wilayah mereka hadir dalam perhelatan tahunan tersebut.
Warga lainnya, Bukhori (78), mengatakan seluruh RW di Kelurahan Pajang ikut berpartisipasi.
“Kirab ini diikuti dari RW 1 sampai RW 16 dan setiap RW mengeluarkan uang untuk berpartisipasi mengikuti kegiatan tersebut,” ujarnya.
Partisipasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan budaya di tingkat kampung masih memiliki daya untuk menggerakkan warga dalam jumlah besar.

Bagi Jarot, tradisi semacam ini bukan sesuatu yang baru. Kirab budaya telah menjadi agenda tahunan Kelurahan Pajang selama sekitar 10 tahun.
Biasanya kegiatan digelar menjelang akhir tahun dan terlebih dahulu diawali dengan sosialisasi kepada warga di masing-masing RW.
“Sudah selama 10 tahun ini kelurahan mengadakan semacam kirab seperti ini,” katanya.
Dari Kirab ke Pasar
Yang membuat kirab tahun ini menarik bukan hanya banyaknya warga yang terlibat, tetapi juga ke mana mereka diarahkan. Kirab dimulai dari Kelurahan Pajang dan berakhir di Pasar Jongke. Pilihan tersebut bukan kebetulan.
Warga berharap keramaian yang tercipta sepanjang perjalanan ikut menarik perhatian masyarakat dan pengguna jalan. Mereka ingin orang yang melihat kirab tidak hanya berhenti menyaksikan rombongan, tetapi juga mengetahui kembali keberadaan Pasar Jongke.
Pasar yang telah dibangun dengan fasilitas lebih baik tersebut, menurut warga, masih belum mendapatkan tingkat keramaian seperti yang diharapkan.
“Semoga warga yang datang menyaksikan bisa kembali lagi meramaikan Pasar Jongke sebagai pasar untuk transaksi seperti dulu. Eman-eman sudah dibangun sebagus ini malah sepi,” tutur Jarot.
Harapan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Pasar Jongke tidak hanya berkaitan dengan bangunan atau fasilitas fisik.
Pasar membutuhkan orang. Membutuhkan kunjungan. Membutuhkan transaksi. Dan, pada akhirnya membutuhkan kebiasaan masyarakat untuk kembali datang dan berbelanja. Kirab budaya menjadi salah satu cara warga mencoba menciptakan momentum tersebut.
Ketika Budaya Menjadi Penggerak Ekonomi
Setelah kirab, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni, antara lain tari Gambyong dan musik keroncong.
Pada malam harinya, masyarakat dapat menyaksikan pagelaran ketoprak yang turut dihadiri Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani.
Dengan demikian, keramaian tidak berhenti ketika rombongan kirab tiba di Pasar Jongke. Pertunjukan seni membuat kawasan tersebut kembali menjadi ruang perjumpaan warga.
Di sinilah kegiatan budaya memiliki fungsi yang lebih luas. Ia bukan hanya tentang mempertahankan kesenian, tetapi juga menciptakan alasan bagi masyarakat untuk berkumpul di sebuah ruang publik.
Dalam konteks Pasar Jongke, keramaian tersebut diharapkan berkembang menjadi aktivitas ekonomi. Orang datang untuk melihat pertunjukan. Mereka mengenal kembali pasar. Kemudian diharapkan datang lagi pada hari lain untuk berbelanja.
“Eman-eman” Jika Pasar Hanya Ramai Saat Ada Acara
Harapan warga sebenarnya sederhana: Pasar Jongke jangan hanya ramai ketika ada kirab atau pertunjukan.
Keramaian dalam sebuah kegiatan budaya bisa menjadi pemantik. Namun keberlanjutan pasar tetap bergantung pada apakah masyarakat bersedia menjadikannya bagian dari aktivitas sehari-hari.
Karena itu, kirab Kelurahan Pajang dapat dibaca sebagai lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia adalah cara warga menyampaikan pesan bahwa keberadaan pasar tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik.
Pasar harus dihidupkan kembali melalui interaksi. Dan, interaksi membutuhkan masyarakat yang datang.
Minggu itu, warga Pajang memilih budaya sebagai cara untuk mendatangkan orang. Enam belas RW bergerak bersama, membawa identitas Nusantara, kesenian, dan kreativitas masing-masing menuju satu tempat yaitu Pasar Jongke.
Sebuah upaya kecil untuk menjawab persoalan besar tentang bagaimana membuat sebuah pasar kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Sebab sebuah pasar yang bagus bukan hanya yang bangunannya berdiri megah. Pasar baru benar-benar hidup ketika orang kembali datang, berbelanja, bertemu, dan melakukan transaksi di dalamnya.



No Comment! Be the first one.