Haul Solo Datangkan Keramaian, Pedagang Makanan di Gang Sempit Tak Selalu Ketiban Berkah
Keputusan membuka lapak hingga 24 jam menunjukkan bagaimana pedagang kecil berusaha menyesuaikan diri dengan ritme kegiatan haul yang berlangsung hingga malam dan dini hari.
Nafik (51) dan Ainun Fajriyah (71) berjualan di gang sempit di Jl. Kapten Mulyadi, Pasar Kliwon, Surakarta. Foto diambil Kamis (1/10/2026). (Nurul Hidayah). NUMLIT, SURAKARTA — Keramaian Haul Solo membawa lebih banyak orang ke kawasan Jalan Kapten Mulyadi, Pasar Kliwon, Surakarta. Namun, meningkatnya jumlah jamaah ternyata tidak otomatis membuat semua pedagang makanan menikmati kenaikan pendapatan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi itu dirasakan Ainun Jariyah (71) dan anaknya, Nafik (55), pedagang soto ayam, pecel, dan nasi goreng yang telah berjualan sekitar 20 tahun di sebuah gang sempit tak jauh dari kawasan Ar-Raudhoh, lokasi pelaksanaan Haul Solo.
Bagi Ainun dan Nafik, momentum haul biasanya menjadi salah satu periode yang ditunggu. Membeludaknya aktivitas masyarakat di sekitar kawasan tersebut membuat jumlah pembeli ikut meningkat dibandingkan hari biasa. Namun, tahun ini mereka merasakan situasi yang sedikit berbeda.
Nafik mengatakan, keberadaan relawan yang membagikan makanan dan minuman secara gratis kepada jamaah turut memengaruhi penjualan pedagang di sekitar lokasi haul.
“Kalau ada acara haul seperti ini, pendapatan biasanya naik, tidak seperti hari-hari biasanya. Tetapi semenjak ada makanan gratis dan minuman gratis yang dibagikan sukarelawan, pendapatan menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Nafik saat diwawancarai Kamis (1/10/2026).
Situasi tersebut membuat keramaian haul memiliki dua sisi bagi pedagang lokal. Di satu sisi, kedatangan jamaah dalam jumlah besar meningkatkan aktivitas ekonomi di kawasan sekitar. Di sisi lain, ketersediaan makanan gratis membuat sebagian jamaah tidak lagi membutuhkan makanan dari pedagang.
Ainun dan Nafik sebelumnya berjualan di pinggir Jalan Kapten Mulyadi. Namun, karena ada proyek pekerjaan perbaikan gorong-gorong membuat mereka harus memindahkan lapak ke dalam gang.
Meski lokasinya lebih sempit, mereka tetap bertahan berjualan di sana. Pedagang yang diperbolehkan membuka lapak di kawasan tersebut juga harus merupakan warga sekitar. Selain itu, aktivitas berdagang tidak boleh mengganggu akses kendaraan. Jalan di dalam gang tetap harus dapat dilalui mobil yang melintas.
Bagi Ainun dan Nafik, kondisi tersebut menjadi bagian dari dinamika berjualan di tengah kawasan yang setiap tahun mengalami lonjakan aktivitas ketika Haul Solo berlangsung.
Mereka pun tetap berusaha menangkap peluang ekonomi yang muncul dari keramaian tersebut.
Menjelang haul, stok bahan makanan disiapkan lebih banyak dibandingkan hari biasa. Soto, pecel, nasi goreng, dan sejumlah menu lainnya dipersiapkan untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan.
“Selama haul kami tetap buka seperti biasa, tetapi pada satu hari terakhir kami buka selama 24 jam,” kata Nafik.
Keputusan membuka lapak hingga 24 jam menunjukkan bagaimana pedagang kecil berusaha menyesuaikan diri dengan ritme kegiatan haul yang berlangsung hingga malam dan dini hari.
Bagi Ainun dan Nafik, Haul Solo tetap menjadi momentum yang mendatangkan keramaian ke lingkungan tempat mereka mencari nafkah. Ribuan jamaah yang datang membuat kawasan sekitar menjadi lebih hidup dan membuka peluang bagi usaha masyarakat setempat.
Namun, pengalaman mereka juga menunjukkan bahwa dampak ekonomi sebuah kegiatan besar tidak selalu dirasakan dengan cara yang sama oleh setiap pelaku usaha.
Keramaian memang mendatangkan calon pembeli. Tetapi ketika kebutuhan konsumsi jamaah sebagian telah terpenuhi melalui distribusi makanan dan minuman gratis, pedagang kecil seperti Ainun dan Nafik harus kembali bersaing mendapatkan pembeli.
Setelah sekitar dua dekade berjualan, keduanya memilih tetap bertahan. Bagi mereka, haul bukan hanya soal seberapa besar pendapatan yang bisa diperoleh, tetapi juga tentang bagaimana usaha kecil tetap dapat hidup berdampingan dengan tradisi, keramaian jamaah, dan berbagai bentuk kepedulian sosial yang hadir di dalamnya.



No Comment! Be the first one.