Ribuan Jamaah Datang, Becak Kembali Menjadi Sumber Rezeki di Haul Solo
Keberadaan ribuan jamaah Haul Solo membutuhkan berbagai layanan transportasi lokal, termasuk jasa becak.
Sejumlah tukang becak mangkal di sekitar Masjid Riyadh Pasar Kliwon, Solo, Rabu (30/9/2026). (Nurul Hidayah) NUMLIT, SURAKARTA — Di tengah ribuan langkah jamaah yang berdatangan menuju Masjid Riyadh, Solo, Jawa Tengah, ada cerita lain yang ikut bergerak di balik gelaran Haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
Bagi sebagian warga, momen tahunan tersebut bukan hanya menjadi peringatan keagamaan, tetapi juga membuka pintu rezeki.
Salah satunya dirasakan para tukang becak yang mangkal di sekitar Masjid Riyadh dan kawasan Pasar Kliwon. Selama pelaksanaan Haul Solo yang berlangsung 30 September hingga 4 Oktober 2026, aktivitas mereka meningkat seiring kedatangan jamaah dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri.
Bagi Salim (61), Haul Solo menjadi momentum untuk sementara mengubah pekerjaannya. Biasanya bekerja sebagai kuli bangunan, ia memilih mengayuh becak selama lima hari lima malam karena melihat peluang pendapatan yang lebih besar.
“Saya berganti pekerjaan dari kuli bangunan menjadi tukang becak selama lima hari lima malam karena pendapatannya lebih banyak kalau becak daripada menjadi tukang bangunan. Saya menyewa becak ini,” ujar Salim saat diwawancarai Rabu (30/9/2026).
Menurut Salim, keberadaan ribuan jamaah yang datang membutuhkan berbagai layanan transportasi lokal, termasuk jasa becak untuk mengantar mereka menuju lokasi kegiatan maupun kembali ke tempat penginapan.
Bukan hanya warga lokal, sebagian penumpang yang menggunakan jasa becak juga berasal dari luar Indonesia. Salim mengaku pernah mengantarkan jamaah dari sejumlah negara seperti Malaysia, Filipina, hingga Singapura.
“Kadang ada juga penumpang dari luar negeri. Mereka datang untuk mengikuti haul dan membutuhkan transportasi untuk berpindah tempat,” katanya.
Berkah Keramaian yang Menghidupkan Warga Kecil
Cerita serupa disampaikan Giyarto (74), tukang becak yang telah lama mencari nafkah di kawasan Solo. Menurutnya, suasana Haul Solo memang berbeda dibandingkan hari biasa.
“Kalau haul gini ramai, tapi dengan umur segini nggak kuat kalau sampai malam,” ujar Giyarto.
Meski faktor usia membuatnya tidak lagi mampu bekerja hingga larut malam, ia tetap merasakan perubahan aktivitas ekonomi selama pelaksanaan haul.
Bagi para tukang becak, Haul Solo bukan hanya tentang mengejar pendapatan tambahan. Ada interaksi sosial yang jarang mereka temui pada hari biasa. Mereka bertemu dengan jamaah dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda, bahkan dari berbagai negara.
Keramaian tersebut menjadi ruang pertemuan antara tradisi, spiritualitas, dan ekonomi masyarakat.
Dari Masjid Riyadh, Ekonomi Solo Ikut Bergerak
Dampak Haul Solo tidak hanya dirasakan para tukang becak. Meningkatnya jumlah jamaah turut menggerakkan berbagai sektor ekonomi lain di Kota Solo, mulai dari penginapan, pedagang kaki lima, kuliner, hingga pusat perdagangan seperti Pasar Klewer.
Banyaknya jamaah yang datang menjadikan kawasan sekitar lokasi haul semakin hidup. Pedagang mendapatkan pembeli, penyedia jasa transportasi mendapat pelanggan, sementara pelaku usaha lokal memperoleh peluang tambahan.
Bagi warga seperti Salim, keramaian Haul Solo menjadi pengingat bahwa sebuah kegiatan besar tidak hanya menghadirkan pesan spiritual, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
“Selama ada kesempatan bekerja dan mencari rezeki halal, kami bersyukur,” ujarnya.
Haul Habib Ali Al-Habsyi pun tidak hanya menjadi peristiwa yang mempertemukan ribuan jamaah dalam satu ruang ibadah, tetapi juga menjadi denyut ekonomi rakyat yang tumbuh dari kebersamaan dan keberkahan.



No Comment! Be the first one.