Sanggar Soreng Magelang Lahirkan “Penari Petani”
Meski dikembangkan dalam format kontemporer, karya tersebut tetap mempertahankan idiom keprajuritan yang menjadi karakter asli tari Soreng.
Poster pertunjukan “Penari Petani” yang didiseminasikan secara nasional melalui pementasan di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, pada 2 Mei 2026. (istimewa) NUMLIT, MAGELANG – Tradisi tidak selalu bertahan dengan cara tetap sama. Di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kesenian Soreng justru mencoba menemukan napas baru dengan menjadikan kehidupan petani sebagai sumber penciptaan karya.
Table Of Content
Dari proses tersebut lahir “Penari Petani”, sebuah karya tari kontemporer yang mengolah aktivitas keseharian masyarakat agraris mulai dari mencangkul, memikul beban hingga merawat tanaman, menjadi kosakata gerak tari baru.
Karya berdurasi 45 menit itu merupakan hasil program pendampingan residensial partisipatif “pulang ke kampung” yang dilakukan tim pengabdian Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bersama EkosDance Company melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026.
Aries Budi Marwanto dari Tim Pengabdian PISN 2026 mengatakan program ini berangkat dari persoalan yang dihadapi kesenian tradisional di kawasan agraris pedesaan, yakni krisis regenerasi dan ancaman marginalisasi di tengah perubahan zaman.
“Selama delapan bulan, proses pendampingan dipusatkan di Kemah Budaya Kaliandong, yang menjadi ruang pertemuan antara akademisi, seniman dan masyarakat untuk menggali kembali potensi tradisi Soreng sekaligus mencari kemungkinan pengembangannya,” ujar Aries, baru-baru ini.
Pendekatan yang digunakan bukan sekadar pelatihan tari. Tim menerapkan metode Participatory Action Research (PAR) serta lokakarya dramaturgis lintas disiplin dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian aktif dalam proses penciptaan.
Hasilnya, pengalaman hidup masyarakat agraris tidak hanya menjadi latar belakang cerita, tetapi diterjemahkan langsung menjadi sumber gerak.
Aktivitas yang selama ini dianggap sebagai rutinitas seperti mencangkul, membawa beban, mengolah dan merawat tanaman diolah menjadi bahasa artistik dalam “Penari Petani”.
Meski dikembangkan dalam format kontemporer, karya tersebut tetap mempertahankan idiom keprajuritan yang menjadi karakter asli tari Soreng.
Dari tradisi desa menuju panggung nasional
Transformasi tersebut kemudian dibawa keluar dari lingkungan asalnya. “Penari Petani” didiseminasikan secara nasional melalui pementasan di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, pada 2 Mei 2026. Karya tersebut dipentaskan dalam dua sesi, masing-masing pukul 15.00 WIB dan 19.00 WIB.
Pementasan di Jakarta menjadi salah satu penanda bahwa seni rakyat yang tumbuh dari kehidupan masyarakat desa dapat dikembangkan menjadi karya pertunjukan yang memiliki ruang lebih luas tanpa harus tercerabut dari akar tradisinya.
“Namun, keberhasilan program tidak hanya diukur dari lahirnya sebuah karya dan kesempatan tampil di panggung nasional. Pendampingan juga diarahkan untuk menjawab persoalan regenerasi yang selama ini menjadi tantangan bagi keberlangsungan sanggar,” kata Aries.
Anak muda kembali mengambil peran
Salah satu hasil yang terlihat adalah meningkatnya keterlibatan generasi muda dalam aktivitas Sanggar Soreng Warga Setuju (SWS).
Pada perayaan ulang tahun sanggar pada Juli 2026, partisipasi generasi muda tercatat mencapai 90 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa proses pendampingan tidak berhenti pada penciptaan karya, tetapi mulai membuka ruang baru bagi generasi muda untuk terlibat dalam kehidupan kesenian di lingkungannya.
Program tersebut sekaligus mendorong penataan kembali tata kelola sanggar melalui sistem pengarsipan digital.
Dokumentasi kegiatan menjadi bagian penting agar perjalanan sanggar, karya, serta pengetahuan yang dimiliki masyarakat tidak berhenti pada ingatan personal, tetapi dapat diwariskan dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
Ketika seni rakyat menjadi ruang dialog
Bagi tim pengabdian, proses tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga kesenian tradisional tidak harus selalu dilakukan dengan mempertahankan bentuk lama secara kaku.
Tradisi dapat terus hidup ketika masyarakat diberi ruang untuk berdialog dengan perubahan zaman.
Dalam kasus Soreng di Bandungrejo, kehidupan agraris justru menjadi sumber kreativitas untuk memperkaya bentuk pertunjukan.
Menurut Aries, pendekatan residensial partisipatif juga membuat proses pengembangan kesenian berlangsung lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Seni tidak ditempatkan semata sebagai tontonan, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan lokal, kreativitas generasi muda, dan gagasan artistik kontemporer.
“Dari proses tersebut, ‘Penari Petani’ akhirnya bukan hanya sebuah karya tari. Namun menjadi gambaran tentang bagaimana tradisi dapat beradaptasi tanpa kehilangan identitas, bagaimana generasi muda dapat kembali menemukan ruang di dalam kesenian lokal, dan bagaimana kehidupan masyarakat desa dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus inspirasi artistik,” terang dia.
Dari tanah yang dicangkul, lahir gerak yang dipentaskan. Dari tradisi yang nyaris terpinggirkan, tumbuh karya yang melangkah hingga panggung nasional. Dan dari sanalah Soreng menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga perlu diberi kesempatan untuk terus tumbuh. (Redaksi)



No Comment! Be the first one.