237 Siswa SD/MI Se-Solo Raya Adu Potensi di PK Competition 2026, dari Olimpiade hingga Panggung Bahasa
PK Competition 2026 mempertemukan siswa dari berbagai sekolah dalam kompetisi yang tidak hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga bahasa, seni, dan keagamaan.
Kepala SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Muhdiyatmoko, M.Pd. (kanan) berfoto bersama para pemenang salah satu kategori lomba PK Competition 2026 yang digelar SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026). (dok Humas SMP Muhammadiyah PK Kottabarat) NUMLIT, SURAKARTA — Bagi sebagian anak, mengikuti lomba bukan semata-mata soal mengejar piala. Ada keberanian yang harus dibangun ketika harus duduk menghadapi soal sulit, tampil membaca puisi, bercerita dalam bahasa asing, mendongeng dengan bahasa Jawa, atau melantunkan ayat Al-Qur’an di hadapan orang lain.
Table Of Content
Pengalaman itulah yang dirasakan 237 siswa SD/MI se-Solo Raya saat mengikuti PK Competition 2026 yang digelar SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026).
Mengusung tema “Nyalakan Potensimu, Pancarkan Prestasimu”, ajang tersebut mempertemukan siswa dari berbagai sekolah dalam kompetisi yang tidak hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga bahasa, seni, dan keagamaan.
Sebanyak 192 peserta mengikuti kompetisi Plasmic, sedangkan 45 peserta mengikuti Frasa.
Bagi penyelenggara, angka tersebut menunjukkan bahwa ruang untuk berkompetisi dan mengembangkan potensi masih dibutuhkan anak-anak sejak jenjang sekolah dasar.
Dari Matematika sampai Mendongeng Bahasa Jawa
PK Competition 2026 menghadirkan dua kompetisi utama, yakni Plasmic dan Frasa.
Plasmic menjadi arena bagi siswa yang ingin menguji kemampuan akademik melalui olimpiade Matematika, IPA, dan IPS. Sementara Frasa membuka ruang bagi kemampuan ekspresi melalui lomba membaca puisi, story telling bahasa Inggris, mendongeng bahasa Jawa, dan murottal Al-Qur’an.
Keragaman cabang tersebut membuat peserta tidak harus menunjukkan kemampuan dengan cara yang sama.
Ada yang berhadapan dengan lembar soal dan komputer. Ada yang harus mengandalkan kemampuan berbicara. Ada yang diuji melalui penghayatan puisi. Ada pula yang menunjukkan kemampuan melalui hafalan dan lantunan ayat Al-Qur’an.
Setelah pembukaan, peserta Plasmic mengikuti ujian berbasis Computer Based Test (CBT) di laboratorium komputer dan sejumlah ruang kelas. Sementara peserta Frasa tampil sesuai cabang perlombaan yang diikuti.
Kepala SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Muhdiyatmoko, M.Pd., mengatakan kompetisi tersebut dirancang sebagai ruang bagi siswa SD/MI untuk mengembangkan potensi mereka.
“Alhamdulillah, lomba diikuti kurang lebih 200 siswa SD/MI se-Solo Raya. Sesuai dengan tema, nyalakan potensimu, pancarkan prestasimu. Peserta sangat antusias mengikuti lomba,” ujarnya.

Menurut dia, kompetisi tersebut diharapkan tidak berhenti pada persoalan menang dan kalah.
“Harapannya, dengan adanya lomba ini potensi para siswa SD/MI se-Solo Raya bisa terwadahi dan menjadi sarana para siswa untuk melejitkan potensinya,” lanjutnya.
Sudah Juara OSN, Tetap Merasa Soal Matematika Menantang
Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Alvaro Allinson Kristanto dari SD Kanisius Keprabon 2 Surakarta.
Alvaro memilih mengikuti Olimpiade Matematika. Meski sebelumnya telah mencatat prestasi dengan meraih medali emas OSN Matematika dan The Best Exploration pada 2026, ia mengaku tetap menemukan tantangan dalam kompetisi tersebut.
“Saya sangat senang dan soalnya sangat menantang,” kata Alvaro.
Bagi anak seusianya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kompetisi bukan sekadar tempat untuk membuktikan siapa yang paling pintar.
Kompetisi juga menjadi ruang untuk menemukan soal yang lebih sulit, menghadapi tekanan, menguji strategi, dan mengetahui sejauh mana kemampuan diri telah berkembang.
Karena itu, meski berharap meraih juara pertama, Alvaro memiliki harapan lain yang lebih panjang.
“Saya berharap lomba ini harus diteruskan sampai generasi berikutnya. Saya juga berharap menjadi juara satu,” ujarnya.
Keinginan tersebut memperlihatkan bagaimana kompetisi dapat menjadi pengalaman yang diwariskan. Anak yang hari ini menjadi peserta, suatu saat dapat menjadi siswa yang kembali datang membawa kemampuan yang lebih matang.
Orang Tua Melihat Kompetisi sebagai Latihan Berdaya Saing
Bagi orang tua, manfaat kompetisi juga tidak semata-mata terlihat dari piala. Apri, orang tua peserta Hanif Nur Azfar Zainudin dari SD Islam Diponegoro Surakarta, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman positif bagi anak-anak.
“Acara ini sangat bagus sekali karena mendorong anak-anak berkompetisi secara sehat dan mendorong kualitas pendidikan lebih baik,” katanya.
Ia berharap ajang semacam itu dapat terus dikembangkan karena memberikan ruang bagi anak untuk menjadi lebih maju, kreatif, dan memiliki daya saing.
“Saya sangat mengapresiasi atas terselenggaranya lomba ini karena mendorong anak-anak menjadi lebih maju, kreatif, dan berdaya saing tinggi. Untuk ke depannya, saya berharap lomba seperti ini lebih sering diadakan,” ujarnya.
Harapan serupa datang dari pendamping MI Muhammadiyah Karanganyar yang membawa 14 peserta untuk mengikuti sejumlah cabang, antara lain IPA, Matematika, IPS, dan Pildacil.
“Harapannya bisa masuk juara. Semoga PK Competition terus dilanjutkan dari tahun ke tahun untuk memberikan ajang kompetisi para siswa SD/MI,” ungkapnya.
Kompetisi yang Mempertemukan Beragam Potensi
Dari arena Plasmic, sejumlah nama berhasil menjadi yang terbaik. Pada Olimpiade IPA, Juara I diraih Fakhri Al Ghozali Putra Yuniarta dari MI Muhammadiyah Karanganyar. Juara II Excel Aptasandhi dari SD Islam Al Azhar 28 Solo Baru dan Juara III Adhiguna Harimurti Widodo dari SD Muhammadiyah PK Kottabarat.

Pada Olimpiade IPS, Juara I diraih Muhammad Abidzar Arjuna A R dari SD Muhammadiyah Palur, disusul Danella Faihanah Gastiasih dari SD Muhammadiyah PK Kottabarat dan Naufal Althaf Astama dari MI Muhammadiyah Karanganyar.
Sementara pada Olimpiade Matematika, Alvaro Allinson Kristanto dari SD Kanisius Keprabon 2 keluar sebagai Juara I. Posisi berikutnya ditempati Antonius Arya Panji Nugroho dari SD Marsudirini Surakarta dan Muhammad Zayn Al Fatih dari SDII Al Abidin Surakarta.
Di kategori Frasa, Adzia Zahira Iskandar dari SDIT Ulil Albab menjadi Juara I Membaca Puisi. Gendis Sekarwangi Kusworo dari SD Aisyiyah Unggulan Gemolong menjadi Juara I Mendongeng Bahasa Jawa.
Untuk Story Telling, Juara I diraih Lameena Ryanti Safeena dari MI Muhammadiyah Karanganyar. Sedangkan kategori Murottal, Juara I diraih Alayya Ibnati Azzakiyyah dari MIM Unggulan Suruhkalang Jaten Karanganyar.
Deretan pemenang tersebut memperlihatkan bahwa potensi anak-anak Solo Raya datang dari banyak bidang dan sekolah.
Tidak ada satu jenis kemampuan yang menjadi ukuran tunggal. Ada kemampuan berhitung dan memecahkan masalah. Ada kemampuan memahami lingkungan sosial. Ada kemampuan berbahasa dan bercerita. Ada kemampuan mengolah ekspresi. Dan, ada kemampuan keagamaan.
Menyalakan Potensi Sebelum Bicara Prestasi
PK Competition 2026 kemudian ditutup dengan pengumuman dan pemberian penghargaan kepada para pemenang.
Namun, jika melihat kembali tema yang diusung, ada satu kata yang menarik yaitu “nyalakan”. Sebelum sebuah potensi berubah menjadi prestasi, ia memang harus lebih dulu dinyalakan.
Anak harus diberi kesempatan mencoba. Diberi ruang untuk salah. Diberi tantangan yang lebih tinggi. Dan yang tidak kalah penting, diberi pengalaman untuk berhadapan dengan anak-anak lain yang memiliki kemampuan berbeda.
Piala mungkin hanya dibawa pulang oleh sebagian peserta. Tetapi pengalaman menghadapi soal sulit, tampil di depan orang lain, menerima hasil, dan berani mencoba kembali adalah bekal yang dibawa semua peserta.
Karena itu, PK Competition 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kompetisi tersebut menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa di balik 237 anak yang datang dari berbagai SD/MI se-Solo Raya, ada ratusan potensi yang sedang mencari panggungnya masing-masing.
Dan mungkin, bagi sebagian dari mereka, kompetisi Sabtu itu bukan akhir dari perjalanan. Justru bisa menjadi salah satu pengalaman pertama ketika mereka menyadari ternyata saya punya kemampuan yang layak untuk dikembangkan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.