Jalur Mandiri UGM Kian Kompetitif, Hanya 8 dari 100 Pendaftar yang Lolos
Jika dirata-rata, satu kursi di UGM diperebutkan lebih dari 13 peserta. Namun pada sejumlah program studi favorit, tingkat persaingan jauh lebih tinggi.
NUMLIT, JOGJA — Bagi puluhan ribu peserta yang mengikuti Ujian Masuk Universitas Gadjah Mada berbasis Computer Based Test (UM UGM CBT) 2026, peluang lolos tahun ini bisa dibilang lebih ketat dibanding banyak seleksi perguruan tinggi lainnya.
Table Of Content
Dari total 44.972 peserta, hanya sekitar 3.729 calon mahasiswa yang akan diterima melalui jalur mandiri. Artinya, secara statistik hanya sekitar 8,3% peserta yang berpeluang lolos, atau setara 8 orang diterima dari setiap 100 pendaftar.
Angka tersebut menggambarkan betapa tingginya daya tarik UGM sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Seleksi yang berlangsung pada Selasa-Senin (2–8/6/2026) itu diikuti peserta dari berbagai daerah, dengan mayoritas memilih lokasi ujian di Yogyakarta sebanyak 40.190 orang, sementara 4.782 peserta mengikuti ujian di Jakarta.
Direktur Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D., menjelaskan bahwa para peserta memperebutkan kursi yang tersebar di 93 program studi sarjana dan sarjana terapan.
“Dari 44.972 peserta itu nanti yang akan diterima sekitar 3.729 orang. Pada prodi tertentu, daya saingnya bahkan lebih dari satu banding tiga belas,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM.
Jika dirata-rata, satu kursi di UGM diperebutkan lebih dari 13 peserta. Namun pada sejumlah program studi favorit, tingkat persaingan diperkirakan jauh lebih tinggi.
Program studi Kedokteran, Manajemen, dan Hukum masih menjadi magnet utama bagi calon mahasiswa. Selain itu, minat terhadap Kedokteran Gigi dan Hukum juga mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
Persaingan Ketat, Integritas Jadi Prioritas
Di tengah meningkatnya jumlah peserta, UGM tidak hanya fokus pada aspek seleksi akademik, tetapi juga memperkuat pengawasan untuk menjaga integritas ujian.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Ph.D., mengatakan perkembangan teknologi saat ini menghadirkan tantangan baru dalam pelaksanaan ujian masuk perguruan tinggi. Karena itu, berbagai prosedur pengamanan diperketat, mulai dari pemeriksaan peserta sebelum masuk ruang ujian hingga pengaturan barang bawaan selama pelaksanaan tes.
“Dengan perkembangan teknologi saat ini, potensi kecurangan bisa muncul dalam berbagai bentuk. Karena itu, kami terus memperkuat mitigasi dan pengawasan agar proses seleksi tetap berjalan secara adil dan kredibel,” kata Ova saat melakukan monitoring pelaksanaan ujian.

Menurutnya, pelaksanaan UM UGM CBT terus mengalami penyempurnaan setiap tahun. Evaluasi dari penyelenggaraan sebelumnya menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus mengantisipasi berbagai potensi kendala.
“Setiap tahun kami belajar dari pelaksanaan sebelumnya sehingga berbagai potensi kendala dapat diantisipasi lebih awal dan kualitas penyelenggaraan terus meningkat,” tambahnya.
Seleksi Ketat yang Tetap Inklusif
Di balik ketatnya persaingan, UGM juga memastikan bahwa proses seleksi tetap memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh peserta, termasuk penyandang disabilitas.
Kepala Unit Layanan Disabilitas UGM, Wuri Handayani, menjelaskan bahwa kampus menyiapkan berbagai fasilitas pendukung agar peserta dapat mengikuti ujian dengan optimal sesuai kebutuhan masing-masing.
Peserta disabilitas netra, misalnya, mendapatkan komputer yang telah dilengkapi aplikasi pembaca layar. Untuk soal yang masih mengandung informasi visual, peserta didampingi petugas yang membantu menarasikan gambar atau ilustrasi yang muncul dalam soal.
“Prinsipnya, kami ingin memastikan setiap peserta memiliki kesempatan yang setara untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam mengikuti seleksi,” ujarnya.
Peserta dengan disabilitas fisik, tuli, maupun disabilitas mental juga ditempatkan di ruang ujian yang telah disesuaikan agar dapat mengikuti proses seleksi dengan nyaman dan mandiri.
Lebih dari Sekadar Ujian Masuk
Dengan peluang lolos yang hanya sekitar delapan persen, UM UGM CBT tahun ini menjadi gambaran betapa ketatnya kompetisi untuk mendapatkan kursi di kampus kerakyatan tersebut.
Namun di balik angka-angka itu, UGM berupaya memastikan bahwa proses seleksi tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga berlangsung secara adil, transparan, dan inklusif.
Bagi hampir 45 ribu peserta yang tengah berjuang, UM UGM bukan sekadar ujian masuk perguruan tinggi. Ini adalah arena persaingan yang menguji kesiapan, ketekunan, dan daya juang untuk merebut satu dari ribuan kursi yang tersedia di salah satu universitas paling diminati di Indonesia. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.