Dari Panggung Kampus ke Juara Nasional, Tari Pangayoming Jiwo Harumkan Nama ISI Surakarta
Keberhasilan Tim Prodi Koreografi Inkuiri FSP ISI Surakarta menunjukkan bahwa seni pertunjukan masih menjadi ruang penting untuk merawat identitas budaya sekaligus menumbuhkan kreativitas generasi...
NUMLIT, SURAKARTA — Sebuah tarian tak selalu lahir dari gerak tubuh semata. Kadang, ia tumbuh dari kegelisahan, ketekunan, dan keyakinan bahwa budaya memiliki kekuatan untuk menyentuh jiwa manusia.
Table Of Content
Semangat itulah yang mengantarkan Tim Prodi Koreografi Inkuiri Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Surakarta, Jawa Tengah, meraih Juara 1 Nasional dalam ajang Narayana Tari Tingkat Nasional 2026, sebuah kompetisi tari bergengsi yang diselenggarakan Universitas Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro, Jawa Timur.
Di tengah persaingan para penari dan koreografer terbaik dari berbagai perguruan tinggi serta sanggar tari di Indonesia, tim ISI Surakarta berhasil mencuri perhatian dewan juri melalui karya berjudul “Pangayoming Jiwo”.
Karya tersebut tidak hanya membawa mereka masuk ke jajaran 10 finalis terbaik nasional, tetapi juga mengantarkan mereka berdiri di podium tertinggi kompetisi.
Perjalanan Panjang Menuju Panggung Nasional
Ajang Narayana Tari 2026 mengusung tema “Gerakan Energi Nusantara dalam Tari dan Rasa” (GENTARA). Tema tersebut menantang peserta untuk menerjemahkan kekayaan budaya Nusantara ke dalam karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman makna.
Perjalanan menuju kemenangan tentu tidak diraih dalam semalam. Seluruh peserta dari berbagai daerah terlebih dahulu harus melewati tahap seleksi daring yang ketat.
Dari ratusan karya yang masuk, hanya sepuluh tim terbaik yang berhak melangkah ke babak final dan tampil secara langsung di Auditorium Hasyim Asy’ari UNUGIRI Bojonegoro.
Bagi tim ISI Surakarta, lolos ke babak final saja sudah menjadi pencapaian yang membanggakan. Namun mereka memilih untuk melangkah lebih jauh.
Mereka datang bukan sekadar sebagai peserta, melainkan sebagai seniman muda yang ingin menunjukkan bahwa karya tari mampu berbicara melampaui kata-kata.
Ketika Tarian Menjadi Bahasa Jiwa
Melalui “Pangayoming Jiwo”, para penari menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya mengandalkan teknik dan estetika gerak, tetapi juga kekuatan narasi.
Di atas panggung, setiap gerakan menjadi medium untuk menyampaikan pesan tentang pengayoman, keteduhan, dan kekuatan batin manusia. Sebuah tema yang dekat dengan kehidupan, namun disajikan melalui bahasa seni yang puitis dan menyentuh.
Tiga penari muda yang menjadi ruh pertunjukan tersebut adalah Maria Angela Bondan Kareza Yoselina, Atikah Langen Ayuningtyas, dan Rania Dascha Putri Nabila.

Melalui kerja keras dan latihan yang panjang, ketiganya berhasil menerjemahkan visi koreografis menjadi pertunjukan yang mampu memikat perhatian penonton dan dewan juri. Di atas panggung, mereka tidak sekadar menari. Mereka bercerita.
Kemenangan yang Tidak Datang Sendiri
Di balik gemerlap trofi juara, terdapat proses panjang yang sering kali tidak terlihat publik.
Ada latihan yang berlangsung berulang kali hingga larut malam. Ada diskusi kreatif untuk menyempurnakan konsep karya. Ada revisi demi revisi agar setiap detail mampu menghadirkan pengalaman artistik yang utuh.
Karena itu, kemenangan ini tidak hanya menjadi milik para penari yang tampil di atas panggung. Kemenangan ini juga menjadi hasil dari dukungan dosen, mahasiswa, keluarga, dan seluruh sivitas akademika ISI Surakarta yang turut mengiringi perjalanan mereka.
“Terima kasih atas segala doa dan dukungan yang telah mengiringi proses perjuangan kami hingga berbuah manis. Kemenangan ini adalah kemenangan bersama,” ungkap tim dengan penuh rasa syukur.
Bukti Seni Indonesia Terus Bertumbuh
Prestasi ini menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia terus menghadirkan karya-karya berkualitas yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Lebih dari sekadar memenangkan lomba, keberhasilan Tim Prodi Koreografi Inkuiri FSP ISI Surakarta menunjukkan bahwa seni pertunjukan masih menjadi ruang penting untuk merawat identitas budaya sekaligus menumbuhkan kreativitas generasi muda.
Di tengah derasnya arus modernisasi, para mahasiswa ini memilih berbicara melalui bahasa tari. Mereka membuktikan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi yang terus hidup dan berkembang melalui tangan-tangan kreatif anak bangsa.
Dan pada malam puncak Narayana Tari 2026 di Bojonegoro, Minggu (31/5/2026), energi itu menemukan panggungnya.
Melalui “Pangayoming Jiwo”, mereka tidak hanya membawa pulang trofi juara. Mereka juga membawa pesan bahwa karya yang lahir dari ketulusan, kerja keras, dan kecintaan terhadap budaya akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.