Belajar Tanpa Batas Negara, Mahasiswa FT UNS Rasakan Atmosfer Akademik Dunia
Diskusi dengan akademisi dari negara lain membuat mahasiswa memahami bahwa ilmu pengetahuan berkembang melalui kolaborasi dan pertukaran perspektif.
NUMLIT, SURAKARTA — Bagi sebagian mahasiswa, ruang kelas mungkin hanya sebatas tempat belajar. Namun bagi Nadya Kartika Aptarini, mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, ruang belajar justru membawanya melintasi batas negara.
Table Of Content
Pada April 2026 lalu, Nadya berkesempatan menimba ilmu di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) melalui program UNS Global Challenge 2026, sebuah program mobilitas internasional yang membuka peluang bagi mahasiswa UNS untuk merasakan langsung atmosfer akademik dunia.
Selama dua pekan, tepatnya 6–19 April 2026, Nadya tidak hanya datang sebagai tamu di kampus luar negeri. Ia hadir sebagai pembelajar yang ingin melihat dunia lebih luas, memahami cara berpikir baru, sekaligus menguji kemampuannya di lingkungan akademik internasional.
“Program ini menjadi pengalaman yang sangat berharga karena saya bisa belajar langsung di lingkungan akademik internasional dan memperluas wawasan keilmuan,” ungkap Nadya.
Ketika Mahasiswa S1 Duduk di Kelas Pascasarjana
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Nadya justru terjadi ketika ia mengikuti perkuliahan jenjang magister di Faculty of Mechanical Engineering UTM.
Sebagai mahasiswa sarjana, ia harus beradaptasi dengan ritme diskusi yang jauh lebih dinamis. Di dalam kelas, mahasiswa pascasarjana terbiasa menyampaikan argumentasi, mengkritisi persoalan, hingga menawarkan solusi berdasarkan riset dan studi kasus.
Bagi Nadya, pengalaman tersebut membuka perspektif baru tentang dunia akademik yang selama ini hanya ia bayangkan.

Ia menyaksikan bagaimana gagasan diperdebatkan secara sehat, bagaimana sebuah masalah dianalisis dari berbagai sudut pandang, dan bagaimana mahasiswa dituntut tidak sekadar memahami teori, tetapi mampu menawarkan solusi yang aplikatif.
Pengalaman itu menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan tinggi bukan hanya soal nilai dan ujian, melainkan proses membangun cara berpikir yang kritis dan terbuka.
Belajar Bahwa Ilmu Tidak Mengenal Batas Negara
Selain mengikuti perkuliahan, Nadya juga memperoleh kesempatan melakukan konsultasi skripsi bersama supervisor di UTM.
Bagi mahasiswa tingkat akhir, sesi tersebut menjadi kesempatan langka. Ia mendapatkan masukan mengenai metode penelitian, cara menyusun kerangka berpikir yang lebih sistematis, hingga bagaimana mengembangkan penelitian agar memiliki dampak yang lebih luas.
Diskusi dengan akademisi dari negara lain membuatnya memahami bahwa ilmu pengetahuan berkembang melalui kolaborasi dan pertukaran perspektif.
Apa yang selama ini dipelajari di ruang kuliah UNS ternyata bisa diperkaya melalui sudut pandang internasional.
“Melalui konsultasi skripsi di UTM, saya mendapatkan banyak wawasan baru yang memperkaya pemahaman akademik dan keterampilan penelitian,” katanya.
Lebih dari Sekadar Pertukaran Pelajar
Namun perjalanan ke Malaysia tidak hanya memberikan pelajaran akademik.
Di sela-sela kegiatan kampus, Nadya berinteraksi dengan mahasiswa dan dosen dari berbagai negara. Ia belajar memahami perbedaan budaya, gaya komunikasi, hingga cara orang lain memandang suatu persoalan.
Interaksi lintas budaya itu secara perlahan membangun kepercayaan dirinya.
Ia belajar bahwa menjadi bagian dari komunitas global tidak selalu berarti harus menjadi yang paling pintar. Yang lebih penting adalah memiliki keberanian untuk beradaptasi, berdiskusi, dan terus belajar dari orang-orang yang berbeda latar belakang.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda yang akan hidup di era tanpa batas, ketika kolaborasi internasional menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.
Membuka Jendela Dunia dari Kampus
Kisah Nadya menjadi salah satu bukti bagaimana program internasional mampu membuka jendela dunia bagi mahasiswa Indonesia.
Melalui program seperti UNS Global Challenge, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di luar negeri, tetapi juga kesempatan membangun jejaring global, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.
Bagi Fakultas Teknik UNS, partisipasi mahasiswa dalam program internasional merupakan bagian dari komitmen untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki perspektif global dan kemampuan beradaptasi di lingkungan internasional.
Perjalanan Nadya ke Malaysia mungkin hanya berlangsung dua pekan. Namun pengalaman, wawasan, dan kepercayaan diri yang ia bawa pulang akan menjadi bekal yang jauh lebih panjang.
Karena terkadang, langkah kecil meninggalkan ruang kuliah sendiri justru menjadi awal untuk melihat dunia yang lebih besar. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.