Saat Aktivis Kampus Menaklukkan UGM sebagai Wisudawan Tercepat
Maureen Arsa Sanda Cantika dinobatkan sebagai lulusan Program Sarjana Terapan dengan masa studi tercepat pada Wisuda UGM periode Mei 2026.
NUMLIT, JOGJA — Banyak mahasiswa menganggap masa kuliah sebagai fase memilih antara aktif organisasi atau fokus akademik. Namun bagi Maureen Arsa Sanda Cantika, keduanya bukan pilihan yang harus dipertentangkan.
Table Of Content
Di tengah kesibukan mengikuti organisasi, kompetisi nasional, hingga berbagai kegiatan kampus, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Geografis (SIG) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu justru mencatatkan prestasi istimewa.
Ia dinobatkan sebagai lulusan Program Sarjana Terapan dengan masa studi tercepat pada Wisuda UGM periode Mei 2026, yakni hanya 3 tahun 5 bulan.
Capaian tersebut jauh lebih cepat dibanding rata-rata masa studi lulusan Sarjana Terapan yang mencapai 4 tahun 4 bulan.
Menariknya, gelar sebagai wisudawan tercepat tidak pernah menjadi target utama perempuan asal Yogyakarta tersebut.
“Saya merasa sangat senang, bersyukur, sekaligus tidak menyangka dapat menyandang predikat sebagai lulusan tercepat pada periode ini,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM, Senin (15/6/2026).
Bagi Maureen, keberhasilan itu merupakan hasil dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten sejak awal kuliah. Ia disiplin mengelola waktu dan menyelesaikan setiap tanggung jawab tepat waktu.
Ia membiasakan diri membuat target harian, menyelesaikan tugas, laporan praktikum, proyek akademik, hingga berbagai aktivitas nonakademik tanpa menunda pekerjaan.
“Saya percaya bahwa konsistensi dan kinerja yang baik dalam menyelesaikan hal-hal kecil akan membentuk kebiasaan yang berpengaruh terhadap pencapaian yang lebih besar,” katanya.
Ketika Geografi Bertemu Teknologi
Ketertarikan Maureen pada Sistem Informasi Geografis berangkat dari keyakinannya bahwa geografi bukan sekadar mempelajari peta atau bentang alam.
Di era digital, ilmu geospasial justru menjadi salah satu instrumen penting untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan, lingkungan, hingga mitigasi bencana.
Ia melihat bidang ini memiliki keunikan karena menggabungkan ilmu geografi dengan teknologi informasi, analisis data, penginderaan jauh, dan kecerdasan komputasi.
“Menurut saya, kemampuan mengintegrasikan aspek keruangan dengan perkembangan teknologi menjadi kompetensi yang sangat relevan untuk masa depan,” ujarnya.
Ketertarikan itu kemudian diwujudkan dalam penelitian tugas akhir yang mengangkat tema pemantauan kebakaran hutan dan pemulihan vegetasi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Melalui sistem monitoring spasial-temporal berbasis Google Earth Engine, Maureen memanfaatkan data satelit untuk menganalisis tingkat keparahan kebakaran sekaligus memantau proses pemulihan vegetasi pascabencana.
Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana teknologi geospasial mampu memberikan solusi berbasis data dalam pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana.
Aktif di Kampus, Berprestasi di Tingkat Nasional
Jika banyak mahasiswa kesulitan menjaga keseimbangan antara akademik dan aktivitas organisasi, Maureen justru menjadikan keduanya sebagai ruang belajar yang saling melengkapi.
Pada tahun pertama kuliah, ia aktif mengikuti berbagai kepanitiaan kampus untuk memperluas relasi dan mengasah kemampuan bekerja dalam tim.
Memasuki tahun kedua, ia mulai menjajal berbagai kompetisi akademik. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika berhasil menjadi finalis kompetisi GIS tingkat nasional.

Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang mendorongnya keluar dari zona nyaman.
“Pengalaman itu menjadi awal bagi saya untuk berani mencoba berbagai peluang yang tersedia selama menjadi mahasiswa,” tuturnya.
Tahun 2024 menjadi salah satu periode paling produktif dalam perjalanan kuliahnya. Ia bergabung dalam himpunan mahasiswa sekaligus mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Bersama tim lintas fakultas, Maureen berhasil meraih medali perunggu pada kategori PKM Kewirausahaan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-37. Prestasi tersebut tidak berhenti di sana.
Pada PIMNAS ke-38, timnya kembali lolos sebagai satu-satunya wakil UGM pada kategori kewirausahaan dan berhasil membawa pulang medali emas serta medali perunggu.
Pada ajang yang sama, Maureen juga dipercaya mewakili UGM sebagai Dimas-Diajeng dalam acara pembukaan PIMNAS.
“Pengalaman tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena diberi kesempatan membawa nama universitas pada ajang nasional,” katanya.
Kekuatan Relasi dan Kolaborasi
Dari berbagai pengalaman yang dijalani, Maureen menyadari bahwa kesuksesan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik.
Menurutnya, relasi dan kemampuan berkolaborasi justru menjadi modal penting yang sering kali membuka peluang-peluang baru.
Ia mengaku banyak mendapatkan ide, pengalaman, hingga kesempatan berharga dari pertemuannya dengan mahasiswa lintas disiplin ilmu.
Pengalaman itulah yang kemudian membawanya dipercaya menjadi pembicara di berbagai forum kemahasiswaan dan berbagi pengalaman kepada adik tingkat.
“Diskusi adalah salah satu cara tercepat untuk berkembang. Banyak hal yang bisa dipelajari ketika kita mau bertemu dan bertukar pikiran dengan orang lain,” ujarnya.
Bermimpi Besar, Melangkah Konsisten
Bagi Maureen, menjadi lulusan tercepat bukanlah soal siapa yang paling dahulu mencapai garis akhir.
Lebih dari itu, keberhasilan tersebut adalah tentang bagaimana memanfaatkan setiap kesempatan yang hadir selama perjalanan menjadi mahasiswa.
Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing.
Karena itu, mahasiswa tidak perlu terpaku pada pencapaian orang lain, melainkan fokus pada proses pengembangan diri yang sedang dijalani.
Menurutnya, gelar, penghargaan, maupun prestasi akademik pada akhirnya hanyalah penanda dari satu fase kehidupan.
Yang jauh lebih penting adalah karakter, integritas, dan kemauan untuk terus belajar setelah semua pencapaian itu diraih.
Ia pun berpesan agar mahasiswa berani bermimpi besar dan tidak takut keluar dari zona nyaman.
“Satu keputusan yang kita ambil hari ini bisa menjadi awal dari masa depan yang berbeda. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali menghasilkan perubahan besar dalam hidup,” tuturnya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.