Menyusuri Malam 1 Sura Bersama Ratusan Langkah yang Membisu
Kirab Lampah Hening menjadi ruang refleksi yang mempertemukan nilai tradisi Jawa, spiritualitas, dan pendidikan karakter dalam satu perjalanan.
NUMLIT, WONOGIRI — Malam itu, suara kendaraan, percakapan, dan hiruk pikuk keseharian seolah menghilang. Yang terdengar hanya desir angin, gesekan langkah kaki, dan alunan gending Jawa yang mengalun pelan di kawasan Pringgondani, Wonogiri, Jawa Tengah.
Table Of Content
Di tengah dunia yang semakin ramai oleh notifikasi dan percakapan tanpa jeda, ratusan orang justru memilih diam.
Mereka berjalan dalam Kirab Lampah Hening yang digelar Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri untuk menyambut Tahun Baru Jawa 1960, Senin (15/6/2026).
Mengenakan busana adat Jawa Gagrak Surakarta, para peserta melangkah tanpa kata dalam prosesi tapa bisu yang sarat makna.
Bagi sebagian orang, pergantian tahun identik dengan pesta dan perayaan. Namun di Wonogiri, malam 1 Sura dirayakan dengan cara berbeda. Mereka merenung, mengingat, dan menata diri.
Kirab yang digagas mahasiswa Jurusan Kepanditaan STABN Raden Wijaya ini tidak sekadar menjadi agenda budaya tahunan.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi yang mempertemukan nilai tradisi Jawa, spiritualitas, dan pendidikan karakter dalam satu perjalanan.
Menapak Jejak Pangeran Sambernyawa
Kirab Lampah Hening terinspirasi dari perjalanan hidup Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, tokoh besar yang dikenal karena keberanian dan kegigihannya melawan penjajahan.
Semangat perjuangan itulah yang ingin dihidupkan kembali kepada generasi muda. Bukan melalui peperangan, melainkan melalui laku batin yang mengajarkan keteguhan pikiran, kejernihan hati, dan kesadaran diri.
Sebelum kirab dimulai, rangkaian ritual diawali dengan pengambilan tirta suci dari tiga sumber mata air, yakni Sendang Mondroini, Sendang Sinongko, dan Sendang Siwani.
Air tersebut menjadi simbol penyucian diri sebelum memasuki tahun yang baru.
Malam kemudian semakin khidmat ketika narasi perjuangan Raden Mas Said dibacakan di hadapan peserta. Kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan pada prinsip-prinsip kehidupan menjadi pengantar sebelum obor dinyalakan.

Ketika Ketua STABN Raden Wijaya, Sulaiman, menyalakan Obor Sambernyawa, cahaya api perlahan membelah gelap malam. Bagi peserta, nyala obor itu bukan sekadar penerangan perjalanan, melainkan simbol semangat yang diwariskan lintas generasi.
Belajar dari Keheningan
Dari Lapangan Basket Pringgondani, rombongan mulai bergerak menyusuri rute sekitar dua kilometer. Tidak ada percakapan.
Tidak ada instruksi yang berulang. Hanya langkah-langkah yang bergerak serempak mengikuti irama perjalanan.
Bagi banyak peserta, justru dalam keheningan itulah mereka menemukan ruang untuk mendengarkan diri sendiri.
Sulaiman mengatakan, keheningan bukan sekadar diam tanpa aktivitas. Menurutnya, hening adalah pintu untuk melahirkan kesadaran yang lebih mendalam.
“Hening merupakan akar dari keluhuran nilai, dan dengan hening muncul kesadaran dan kewaspadaan,” ujarnya.
Pesan itu terasa relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat. Ketika teknologi membuat manusia selalu terhubung dengan dunia luar, ruang untuk berdialog dengan diri sendiri justru semakin sempit.
Menurut Sulaiman, mahasiswa saat ini memang harus memiliki daya saing global dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Namun kemampuan tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran diri agar tidak kehilangan arah.
“Harapannya, dari semua kompetensi melalui laku hening, maka akan menjadi sadar dalam ucapan, tindakan, dan pikiran,” tambahnya.
Tradisi yang Menyatukan
Kirab Lampah Hening juga menunjukkan bagaimana budaya masih memiliki ruang hidup di tengah masyarakat modern.
Ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa, masyarakat umum, hingga pemerhati budaya berjalan bersama tanpa memandang latar belakang.
Mereka dipersatukan oleh tujuan yang sama, menghormati warisan leluhur sekaligus memaknai pergantian waktu sebagai momentum memperbaiki diri.
Setelah menyelesaikan perjalanan, para peserta kembali ke titik awal. Alunan gending Jawa kembali terdengar, seolah menyambut mereka yang baru saja menyelesaikan perjalanan fisik sekaligus perjalanan batin.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Sriyanto, yang membacakan sambutan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Dikutip dari laman resmi Pemkab Wonogiri, menurutnya kirab tersebut menjadi bukti harmonisasi antara nilai budaya, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat yang masih terjaga dengan baik.
Ketika Diam Menjadi Pelajaran
Di era ketika segala sesuatu bergerak cepat dan serba instan, Kirab Lampah Hening menghadirkan pelajaran yang sederhana namun mendalam. Terkadang manusia perlu berhenti sejenak untuk memahami ke mana langkahnya akan dibawa.
Malam 1 Sura di Wonogiri bukan hanya tentang pergantian angka dalam penanggalan Jawa. Ia menjadi pengingat bahwa kebijaksanaan sering kali lahir bukan dari keramaian, melainkan dari keheningan.
Dan ketika ratusan orang memilih berjalan tanpa kata di bawah cahaya obor dan temaram malam, mereka sedang merawat sesuatu yang semakin langka hari ini yaitu kemampuan untuk mendengar suara hati sendiri. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.