UNIBA Surakarta Kupas Strategi UMKM Bertahan dan Tumbuh di Tengah Disrupsi Digital
Dalam kuliah umum di UNIBA Surakarta, Kusliha Rasidy memaparkan blueprint transformasi UMKM agar mampu bersaing di era digital dan menembus pasar internasional.
NUMLIT, SURAKARTA — Di tengah derasnya arus digitalisasi, tantangan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tidak lagi sebatas menghasilkan produk berkualitas.
Persaingan kini bergeser pada kemampuan membaca pasar, membangun merek, memanfaatkan teknologi, hingga menembus pasar internasional.
Pesan tersebut mengemuka dalam Kuliah Umum Program Studi Manajemen dan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta yang mengangkat tema Blueprint Peluang & Strategi Bisnis UMKM di Era Digitalisasi dengan subtema Membangun Ekosistem UMKM yang Inklusif, Digital, dan Berdaya Saing Global.
Kegiatan yang digelar di Ruang Sidoluhur UNIBA Surakarta pada Jumat (19/6/2026) itu menghadirkan Kusliha Rasidy, A.Md.Farm., C.Herbs., CPS, Founder Wanita Dibalik UMKM, sebagai narasumber utama.
Dalam paparannya, Kusliha menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi UMKM yang ingin bertahan dan berkembang di tengah perubahan perilaku konsumen.
“UMKM tidak cukup hanya hadir di marketplace atau media sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana membangun strategi bisnis yang berkelanjutan, memahami perilaku konsumen digital, dan mampu memperluas pasar hingga tingkat global,” ujarnya.
Menurut Kusliha, UMKM masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Selain mendominasi struktur ekonomi nasional, sektor ini juga menyerap sebagian besar tenaga kerja dan memberikan kontribusi lebih dari 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Namun, perkembangan teknologi telah mengubah pola persaingan usaha. Jika sebelumnya keberhasilan ditentukan oleh kapasitas produksi dan distribusi, kini faktor digital menjadi penentu utama pertumbuhan bisnis.
Melalui blueprint yang dipaparkannya, Kusliha menjelaskan bahwa pemasaran digital memberikan berbagai keunggulan dibanding metode konvensional.
Pelaku usaha dapat menjangkau pasar lebih luas tanpa batas geografis, melakukan promosi dengan biaya yang lebih efisien, berinteraksi langsung dengan pelanggan, serta memanfaatkan data untuk memahami kebutuhan konsumen secara lebih akurat.
“Media sosial dan mesin pencari bukan sekadar sarana promosi. Keduanya bisa menjadi alat membangun komunitas pelanggan, memperkuat merek, dan meningkatkan loyalitas konsumen,” katanya.
Selain pemasaran, aspek permodalan juga menjadi perhatian penting dalam pengembangan UMKM. Kusliha mendorong pelaku usaha memanfaatkan berbagai sumber pembiayaan yang tersedia, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit modal kerja perbankan, layanan financial technology (fintech), hingga program hibah dan CSR dari pemerintah maupun perusahaan.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem usaha yang sehat.
Menurutnya, pertumbuhan UMKM akan lebih cepat apabila didukung jejaring yang kuat melalui komunitas bisnis, pameran, kemitraan dengan pemerintah daerah, hingga dukungan media.
“Kolaborasi membuka banyak peluang. UMKM bisa mendapatkan pasar baru, mitra distribusi, masukan dari konsumen, hingga akses terhadap berbagai program pendampingan usaha,” jelasnya.
Dalam kuliah umum tersebut, Kusliha juga memetakan sejumlah sektor usaha yang dinilai memiliki prospek besar di era digital. Pada sektor kuliner, misalnya, tren cloud kitchen dan produk ready-to-cook dinilai semakin relevan karena mampu menekan biaya operasional sekaligus memperluas jangkauan pasar melalui platform digital.
Sementara pada sektor fesyen dan kriya, produk yang memiliki sentuhan personalisasi dan kekuatan identitas lokal seperti batik modern serta kerajinan tangan memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar nasional maupun internasional.
Adapun pada sektor kecantikan dan wellness, produk berbahan alami lokal seperti kunyit, lidah buaya, dan rumput laut dinilai semakin diminati karena selaras dengan tren konsumen yang mengutamakan kesehatan, keberlanjutan, dan transparansi bahan baku.

Lebih jauh, Kusliha mengajak pelaku UMKM untuk mulai berani membidik pasar ekspor. Menurutnya, kawasan ASEAN, Timur Tengah untuk produk halal, hingga pasar Eropa untuk produk kerajinan menjadi peluang yang layak digarap.
Untuk mencapai tahap tersebut, ia memperkenalkan lima tahapan transformasi UMKM, yakni membangun literasi dan legalitas usaha, masuk ke marketplace, mengakses permodalan formal, mengoptimalkan iklan dan pemanfaatan data digital, hingga melakukan ekspansi ke pasar global.
Meski demikian, berbagai tantangan masih perlu dihadapi. Di antaranya pencampuran keuangan pribadi dan usaha, keterbatasan sumber daya manusia yang memahami teknologi digital, hingga belum konsistennya standar kualitas produk.
Sebagai solusi, Kusliha mendorong penggunaan aplikasi keuangan digital, pemanfaatan jasa pemasaran digital profesional, serta penerapan standar operasional produksi yang lebih baik.
Bagi Fakultas Ekonomi UNIBA Surakarta, kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya membekali mahasiswa dengan wawasan praktis mengenai dinamika dunia usaha yang terus berkembang.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis tentang manajemen dan bisnis, tetapi juga mendapatkan gambaran nyata mengenai tantangan dan peluang yang dihadapi UMKM di era digital.
Menutup paparannya, Kusliha menyampaikan pesan yang menjadi inti dari blueprint yang disusunnya.
“Lokal produknya, digital metodenya, global pasarnya. Sudah saatnya UMKM Indonesia naik kelas dan mendunia,” tegasnya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.