UMKM Belajar AI dari Dosen UNS, Disabilitas Ikut Naik Kelas
Peserta pelatihan diperkenalkan pada berbagai cara memanfaatkan AI untuk pembuatan konten promosi, penguatan personal branding, optimalisasi media sosial.
NUMLIT, SURAKARTA — Kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) kini tidak lagi identik dengan perusahaan besar atau industri teknologi.
Di Solo Raya, teknologi tersebut mulai diperkenalkan kepada pelaku usaha mikro dan kecil sebagai alat untuk memperkuat pemasaran, membangun merek, hingga memperluas pasar.
Melalui program pengabdian masyarakat, Tim Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar pelatihan pemasaran digital berbasis AI bagi pelaku UMKM pada 17–20 Juni 2026. Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan sejumlah pelaku usaha yang dikelola penyandang disabilitas.
Ketua Tim Pengabdian FKIP UNS, Dr. Joko Yuwono, M.Pd., mengatakan transformasi digital menjadi kebutuhan mendesak bagi UMKM agar mampu bersaing di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin bergantung pada teknologi.
“Program ini dirancang berdasarkan kebutuhan yang disampaikan langsung oleh para pelaku UMKM. Kami berharap peserta tidak hanya memahami konsep pemasaran digital, tetapi juga mampu mengimplementasikan berbagai strategi yang diperoleh untuk memperkuat usaha mereka,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UNS.
Sebelum pelatihan dilaksanakan, tim melakukan identifikasi kebutuhan mitra secara daring pada 10 Juni 2026.
Hasilnya menunjukkan sebagian besar UMKM masih menghadapi tantangan dalam memasarkan produk secara digital, membuat konten promosi yang menarik, hingga memanfaatkan teknologi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan materi pelatihan yang dikemas secara aplikatif dan sesuai kebutuhan pelaku usaha.
Belajar AI untuk Konten dan Penjualan
Pelatihan berlangsung dalam dua tahap, yakni secara daring pada 17 Juni dan luring pada 20 Juni 2026. Kegiatan menghadirkan narasumber internasional Dr. Reezlin Abd. Rahman dari Kolej Komuniti Sungai Petani, Malaysia, serta praktisi bisnis Adryan Henryka Putra, Founder Alpha Digital Printing Solo.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai cara memanfaatkan AI untuk mendukung pemasaran usaha.
Mulai dari pembuatan konten promosi, penguatan personal branding, optimalisasi media sosial, hingga strategi memperoleh pelanggan baru secara lebih efektif.
Tak hanya itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai pemanfaatan Customer Relationship Management (CRM), penggunaan chatbot sederhana, analisis data pemasaran, hingga strategi personalisasi layanan kepada pelanggan.
Kolaborasi akademisi Indonesia-Malaysia dan praktisi industri memberikan perspektif yang lebih luas kepada peserta mengenai tren pemasaran digital yang berkembang saat ini.
UMKM Disabilitas Ikut Beradaptasi
Salah satu aspek yang menonjol dalam program ini adalah keterlibatan pelaku usaha penyandang disabilitas. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa transformasi digital harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Melalui pelatihan tersebut, peserta diajak memahami bahwa teknologi digital dan AI bukan ancaman, melainkan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas usaha.
Dengan kemampuan membuat konten yang lebih menarik, membangun identitas merek, serta memanfaatkan media digital secara optimal, pelaku UMKM diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan daya saing bisnisnya.

UNS memastikan program ini tidak berhenti pada sesi pelatihan semata. Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian akan melakukan pendampingan kepada peserta pada 18 Juli dan 1 Agustus 2026.
Pendampingan tersebut bertujuan membantu pelaku usaha menerapkan strategi pemasaran digital yang telah dipelajari ke dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
Melalui program ini, FKIP UNS ingin mendorong lahirnya UMKM yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus membangun ekosistem kewirausahaan yang inklusif dan berkelanjutan.
Di tengah pesatnya perkembangan AI, pelatihan ini menjadi sinyal bahwa teknologi tidak hanya milik perusahaan besar.
Dengan pendampingan yang tepat, pelaku usaha mikro pun dapat memanfaatkannya untuk tumbuh, berkembang, dan bersaing di era ekonomi digital. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.