Ketika Ribuan Payung Menutup Langit Balekambang
Payung-payung yang menghiasi Balekambang bukan hanya mempercantik taman, tetapi ikut menaungi sebuah ekosistem kecil tempat seni, wisata, dan ekonomi rakyat bertemu.
NUMLIT, SURAKARTA — Menjelang malam, Taman Balekambang Solo tak lagi terasa seperti taman yang sekadar menjadi tempat berjalan-jalan.
Table Of Content
Ribuan payung tradisional menggantung di sepanjang jalur pedestrian, pengunjung memenuhi kawasan taman, sementara aroma makanan dari deretan stan UMKM kuliner bercampur dengan suara pertunjukan seni.
Minggu (6/9/2026) menjadi hari terakhir Festival Payung Indonesia (FESPIN) XIII yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026). Mengusung tema “Catra Padi Sepayung Dewi Sri”, festival ini menutup rangkaian perhelatannya dengan suasana yang tetap ramai hingga malam.
Pantauan di lokasi pada pukul 16.00–20.00 WIB menunjukkan pengunjung didominasi keluarga. Area parkir tampak penuh, sementara stan-stan kuliner di dalam kawasan festival terus menjadi titik keramaian.
Namun, bagi sebagian orang, FESPIN bukan hanya soal menikmati pertunjukan dan berburu foto. Festival tiga hari itu juga menjadi kesempatan bagi pedagang kecil untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

Di antara kerumunan pengunjung, Mei, penjual es kopyor di area pasar malam festival, merasakan langsung perubahan suasana selama FESPIN berlangsung.
Menurutnya, jumlah pembeli meningkat dibandingkan hari-hari biasa. Puncak keramaian bahkan terjadi pada Sabtu (5/9/2026), ketika masyarakat memanfaatkan malam Minggu untuk keluar bersama keluarga maupun teman.
“Paling ramai kemarin hari Sabtu, karena mungkin pas malam Minggu ya jadi orang-orang pada keluar. Acara ini bagus karena selalu diadakan tiap tahun, dan dalam dua tahun ini tempatnya konsisten terus di Balekambang,” ujar Mei.
Bagi pedagang seperti Mei, keramaian festival memiliki arti yang sangat sederhana. Lebih banyak orang datang, lebih banyak kesempatan dagangan terjual.
Di sinilah festival budaya menemukan sisi lain dari keberadaannya. Seni dan budaya yang dipertontonkan kepada publik sekaligus menciptakan ruang ekonomi bagi pelaku usaha kecil yang berada di sekitarnya.
Payung Tak Sekadar Jadi Dekorasi
Jika pedagang mendapatkan manfaat dari keramaian, pengunjung datang karena FESPIN menawarkan pengalaman visual yang berbeda.
Ribuan payung tradisional yang menghiasi kawasan Balekambang menjadi salah satu daya tarik paling mencolok.
Payung-payung tersebut bukan sekadar ornamen. Masing-masing dihiasi lukisan dengan detail dan karakter yang berbeda, membuat jalur pedestrian berubah menjadi ruang foto yang menarik.
Putri, salah seorang pengunjung, termasuk yang menikmati suasana tersebut.
“Suasana sore di Balekambang jadi terasa jauh lebih meriah karena banyak payung yang digantung. Menariknya, setiap payung punya lukisan yang detail dan berbeda-beda. Festival ini sendiri aslinya buka dari pukul 07.00 WIB sampai jam 22.00 WIB. Pokoknya seru dan nggak nyesel datang ke sini,” kata Putri.
Sembari menikmati segelas Teh Gardoe dingin, Putri menikmati suasana Balekambang yang berubah menjadi lebih semarak selama festival.
Bagi pengunjung, payung-payung itu menjadi pengalaman visual. Namun bagi festival, kehadirannya membawa pesan yang lebih jauh: kerajinan tradisional bisa ditempatkan dalam ruang publik modern tanpa kehilangan daya tariknya.
Seni Tari Menjadi Penutup Hari
Menjelang malam, keramaian Balekambang bergeser menuju panggung pertunjukan.
Selama tiga hari penyelenggaraan FESPIN, pertunjukan tari tradisional menjadi salah satu agenda yang dinantikan pengunjung. Setiap malam, panggung dipenuhi pertunjukan seni yang menjadi bagian penting dari pengalaman festival.
Pada hari terakhir, antrean untuk menyaksikan pertunjukan mulai terlihat sekitar pukul 18.30 WIB. Setelah penonton memenuhi area panggung, pertunjukan tari kolosal dimulai sekitar pukul 19.30 WIB.
Panggung menjadi pusat perhatian. Penonton yang sebelumnya tersebar di berbagai sudut taman perlahan berkumpul, menyaksikan pertunjukan hingga malam.
Suasana tersebut menunjukkan bagaimana festival mampu mengubah cara masyarakat menikmati ruang publik.

Taman bukan hanya tempat untuk berjalan atau bersantai. Selama FESPIN, Balekambang berubah menjadi ruang pertemuan antara seni, tradisi, kuliner, komunitas, dan masyarakat.
Dewi Sri, Payung, dan Berkah yang Mengalir
Tema “Catra Padi Sepayung Dewi Sri” membawa simbol yang dekat dengan kehidupan masyarakat yaitu padi, Dewi Sri, dan payung.
Pada hari terakhirnya, simbol tersebut seolah menemukan bentuk lain dalam keramaian Balekambang. Ada seniman yang mempertahankan tradisi melalui karya. Ada penari yang menghidupkan panggung. Ada pengunjung yang datang untuk menikmati dan mengapresiasi. Ada pula pedagang kecil yang berharap keramaian festival membawa rezeki. Semuanya bertemu dalam satu ruang.
FESPIN XIII akhirnya bukan hanya meninggalkan deretan payung dan dokumentasi pertunjukan setelah festival berakhir. Ia juga meninggalkan gambaran tentang bagaimana sebuah festival budaya dapat membuat ruang publik kembali hidup sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat kecil.
Minggu malam itu, Balekambang perlahan kembali tenang setelah tiga hari menjadi pusat keramaian.
Namun, bagi Mei dan pedagang lainnya, keramaian yang baru saja berlalu mungkin akan dikenang dengan cara berbeda, sebagai momentum kebanjiran rezeki dari para pengunjung.
Bagi Putri dan pengunjung lainnya, kenangannya berupa dokumentasi foto-foto estetik di bawah payung-payung penuh warna.
Sementara bagi para pelaku seni, FESPIN menjadi ruang untuk kembali mempertemukan tradisi dengan publik.
Dan di antara semua itu, satu hal terasa jelas. Payung-payung yang menghiasi Balekambang bukan hanya mempercantik taman, tetapi ikut menaungi sebuah ekosistem kecil tempat seni, wisata, dan ekonomi rakyat bertemu.



No Comment! Be the first one.