Bukan Sekadar Mengejar Nilai, SD Muhammadiyah 1 Surakarta Bangun Kelas yang Memuliakan Anak
Memasuki usia ke-91 tahun, SD Muhammadiyah 1 Surakarta tidak hanya berbicara tentang peningkatan mutu akademik, tetapi juga berupaya mengubah pengalaman belajar anak melalui kelas yang lebih humanis...
NUMLIT, SURAKARTA — Bagaimana jika ukuran keberhasilan sebuah kelas bukan hanya nilai rapor, tetapi juga seberapa jauh anak merasa dihargai, didengar, dan mampu memahami hubungan antara pelajaran dengan kehidupan sehari-hari?
Table Of Content
Gagasan itulah yang tengah dibangun SD Muhammadiyah 1 Surakarta. Memasuki usia ke-91 tahun, sekolah tersebut tidak hanya berbicara tentang peningkatan mutu akademik, tetapi juga berupaya mengubah pengalaman belajar anak melalui kelas yang lebih humanis dan relevan.
“Kita ingin melahirkan suasana kelas yang humanis, relevan, dan benar-benar hadir untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak,” ujar Staf Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SD Muhammadiyah 1 Surakarta, Sri Martono Lanjar Sari, Selasa (1/9/2026).
Upaya itu salah satunya dirumuskan melalui Kelompok Belajar (Kombel) yang menjadi ruang bagi para pendidik untuk bersama-sama mengevaluasi sekaligus merancang strategi pembelajaran.
Sepanjang Agustus, perhatian sekolah diarahkan pada dua hal yang saling berkaitan, yakni membangun budaya saling memuliakan antara guru dan murid serta menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan realitas kehidupan anak.
“Sepanjang bulan ini, fokus penuh diarahkan untuk menguatkan sikap saling menghargai antara guru dan murid,” kata dia.
Pelajaran Harus Punya Hubungan dengan Kehidupan Anak
Bagi SD Muhammadiyah 1 Surakarta, pembelajaran yang relevan berarti materi tidak berhenti sebagai pengetahuan yang harus dihafalkan untuk menghadapi ujian.
Setiap materi diupayakan memiliki kaitan dengan kehidupan nyata yang dijalani siswa. Dengan pendekatan tersebut, anak diharapkan tidak hanya mengetahui sebuah konsep, tetapi memahami manfaat dan konteks penggunaannya.
“Setiap materi pelajaran selalu kita kaitkan dengan realitas kehidupan nyata anak-anak,” ujarnya.
Pendekatan itu sekaligus menjadi bagian dari upaya sekolah membangun ekosistem pendidikan yang humanis. Anak tidak ditempatkan semata sebagai penerima materi, tetapi sebagai individu yang sedang tumbuh dan membutuhkan ruang belajar yang aman, bermakna, serta sesuai dengan dunianya.
Sekolah meyakini pendekatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik. Lebih jauh, pembelajaran diarahkan untuk membentuk karakter pembelajar sepanjang hayat.
“Dari Ketelan, Surakarta, sebuah ikhtiar untuk memuliakan anak dan menghidupkan kelas kini sedang terus dirajut,” imbuhnya.
Dari Kelas Humanis Menuju Sekolah Model
Gagasan memuliakan anak tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam agenda pengembangan sekolah yang lebih panjang.
SD Muhammadiyah 1 Surakarta menargetkan kurikulum dikembangkan secara bertahap, mulai dari tahap Pra-Berkembang hingga Tahapan Unggul. Dalam prosesnya, pembelajaran mendalam dipadukan dengan pengenalan koding dan kecerdasan artifisial (AI).
Dengan demikian, teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang ingin dibangun sekolah.
Pada tahap akhir, sekolah menargetkan terbentuknya lingkungan belajar yang inovatif, reflektif, sekaligus memberikan dampak lebih luas kepada publik.
Visinya bahkan diarahkan agar satuan pendidikan tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar, tetapi juga berkembang menjadi pusat praktik baik, inovasi teknologi, dan rujukan etika digital.
Guru, Orang Tua, hingga Dunia Kerja Diajak Terlibat
Untuk mencapai target tersebut, pengembangan pembelajaran tidak hanya dibebankan kepada guru di ruang kelas.
Sekolah memasukkan penguatan kemitraan dengan orang tua, komunitas, dan dunia kerja sebagai bagian dari strategi pengembangan. Kolaborasi tersebut diharapkan membuat pengalaman belajar anak semakin dekat dengan persoalan dan kebutuhan kehidupan nyata.
Di sisi lain, pembelajaran mendalam dan asesmen holistik terus dioptimalkan agar perkembangan anak tidak dilihat hanya dari satu ukuran, terutama angka.
Pengembangan projek koding dan AI juga dirancang secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Optimalisasi pembelajaran mendalam dan asesmen holistik. Penguatan kemitraan dengan orang tua, komunitas, dan dunia kerja. Pengembangan projek koding & AI secara menyeluruh dan berkelanjutan,” pungkas Sri Martono.
Pada akhirnya, perubahan yang ingin dibangun SD Muhammadiyah 1 Surakarta bermula dari sesuatu yang sangat sederhana. Anak harus merasa dimuliakan sebelum diminta untuk berprestasi.
Sebab kelas yang hidup bukan hanya kelas yang ramai oleh aktivitas, melainkan kelas yang membuat anak merasa bahwa apa yang dipelajarinya berarti bagi dirinya, lingkungannya, dan masa depannya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.