Nyore, Ritual Jeda Sederhana ala Anak Kampus
Aktivitas "nyore" diisi dengan duduk santai, menyeruput kopi, ngobrol dengan teman, atau sekadar memandangi matahari yang perlahan turun.
NUMLIT, SUKOHARJO — Setelah seharian duduk di kelas, mengerjakan tugas, memikirkan kuliah, atau bahkan mengejar pekerjaan, tidak semua mahasiswa memilih langsung pulang.
Sebagian justru mencari satu hal yang sederhana. Sore yang tidak terburu-buru.
Duduk santai, menyeruput kopi, ngobrol dengan teman, atau sekadar memandangi matahari yang perlahan turun. Aktivitas sederhana itu kini akrab disebut “nyore”.
Salah satu tempat yang bisa menjadi pilihan untuk menikmati waktu tersebut adalah kawasan Jl. Tengah Sawah, Pucangan, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Pada Kamis (3/9/2026), suasana sore di kawasan itu menjadi ruang kecil bagi mahasiswa untuk melepas penat setelah menjalani rutinitas.
Tidak ada agenda khusus. Tidak ada target yang harus dikejar. Hanya sore.
Bagi Zaki Dwi, mahasiswa semester III Program Studi Hukum Keluarga Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, nyore menjadi cara sederhana memanfaatkan waktu senggang.
Baginya, suasana alam menjadi alasan tersendiri untuk keluar dan menikmati sore.
“Cuma buat menikmati waktu senggang di sore hari, apalagi pas musim kemarau seperti ini. Mataharinya kelihatan dan nggak ketutup mendung, menurutku indah. Suasana kayak gitu yang bikin aku pengin nyore,” ujar Zaki, saat diwawancarai di lokasi, Kamis (3/9/2026).
Bagi Zaki, tidak perlu alasan yang rumit untuk menikmati waktu luang.

Ketika matahari masih terlihat jelas dan langit sedang bersahabat, itu sudah cukup menjadi alasan untuk berhenti sejenak dari rutinitas.
Sebab, di tengah jadwal kuliah yang padat, ada kalanya menikmati pemandangan sore justru menjadi hiburan paling sederhana.
Kopi, Senja, dan Waktu untuk Diri Sendiri
Sementara itu, Zaqi Fedian, mahasiswa semester III Program Studi Manajemen Bisnis Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta, melihat “nyore” dari sudut yang sedikit berbeda.
Baginya, menikmati waktu luang adalah bagian dari bagaimana seseorang mengatur kehidupannya sendiri.
“Ya aku punya kendali waktu atas diriku sendiri. Jadi aku bisa belajar, kerja, berpikir, dan kesibukan lainnya tanpa kehilangan waktu buat menikmati hidup dan istirahat,” kata Zaqi.
Kesibukan mahasiswa memang tidak selalu berhenti ketika kelas selesai. Ada tugas yang menunggu, pekerjaan yang harus diselesaikan, urusan finansial, organisasi, hingga berbagai persoalan pribadi.
Karena itu, menurut Zaqi, waktu istirahat tetap perlu disediakan. Menariknya, istirahat tersebut tidak harus diwujudkan dalam kegiatan besar. Secangkir kopi dan suasana sore sudah cukup.
“Walaupun cuma sekadar minum kopi dan menikmati sore, itu penting buat relaksasi setelah mikirin kuliah, finansial, dan kesibukan lainnya. Biar otak nggak terlalu tertekan,” ujarnya.
Tidak Harus Mahal untuk Bisa Menikmati Hidup
Barangkali itulah yang membuat “nyore” terasa dekat dengan kehidupan mahasiswa. Ia tidak membutuhkan tempat mewah atau agenda yang rumit.
Kadang, yang dibutuhkan hanya waktu kosong beberapa jam, tempat yang nyaman, segelas kopi, dan teman berbincang. Bahkan, menikmati sore seorang diri pun bisa menjadi pilihan.
Di Jl. Tengah Sawah, Pucangan, Kartasura, Zaki dan Zaqi menemukan cara masing-masing untuk menikmati jeda.
Zaki memilih menikmati pemandangan. Zaqi memilih menikmati kendali atas waktunya. Keduanya bertemu pada satu hal: sore tidak harus selalu produktif.
Ada waktunya mahasiswa belajar. Ada waktunya bekerja. Ada waktunya mengejar berbagai target. Tetapi ada pula waktunya untuk duduk dan tidak melakukan apa-apa yang terlalu serius.
Pada akhirnya, “nyore” mungkin memang bukan sekadar istilah untuk menghabiskan waktu menjelang malam.
Ia adalah ritual kecil anak kampus untuk mengingat bahwa hidup tidak melulu tentang tugas, kuliah, pekerjaan, dan target.
Kadang, cukup duduk, menyeruput kopi, melihat matahari turun, lalu berkata dalam hati, “Hari ini sudah cukup. Besok lanjut lagi”.



No Comment! Be the first one.