Panggung 18 Inovasi Teknologi UNS di Luar Laboratorium
Penyelenggaraan SIF ke-21 menjadi bagian dari upaya UNS mendorong ekosistem pendidikan, penelitian, dan inovasi yang semakin terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
Seminar dan edukasi teknologi melalui NVIDIA Campus Edutech UNS bertajuk “AI for Future Careers: Smart, Creative & Responsible” menyemarakkan Smart IT Festival (SIF) ke-21 di Balai Kota Surakarta, Sabtu-Minggu (19–20/9/2026). (dok Humas UNS) NUMLIT, SURAKARTA — Teknologi buatan kampus mulai mencari panggung di luar laboratorium. Bukan sekadar dipresentasikan sebagai hasil penelitian, 18 produk inovasi karya mahasiswa dan dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta diperkenalkan langsung kepada publik, industri, pemerintah, hingga calon investor melalui Smart IT Festival (SIF) ke-21.
Table Of Content
Digelar di Balai Kota Surakarta, Sabtu-Minggu (19–20/9/2026), festival yang diselenggarakan Program Studi D-3 Teknik Informatika (TI) dan D-4 Teknologi Informasi dan Kecerdasan Artifisial (STARTIKA) Sekolah Vokasi UNS tersebut mengusung tema “Driving Innovation for Human-Centered AI Future.”
Tema itu sekaligus memperlihatkan arah yang ingin dibangun UNS: teknologi tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi didorong menjadi solusi yang berangkat dari persoalan nyata dan dapat dikembangkan bersama dunia industri.
Berbagai inovasi yang dipamerkan mencakup teknologi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), hingga sistem informasi. Di antaranya VR Mancing Mania, Smart Sistem Parkir UNS, aplikasi AI RAGNOZA, dan Smart Farming TANDUR.
Ragam produk tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi dikembangkan untuk menjawab kebutuhan di berbagai sektor, mulai pendidikan, pertanian, transportasi, perikanan hingga layanan masyarakat.
Dari Riset Menjadi Produk yang Bisa Dipakai
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian Sekolah Vokasi UNS, Dr. Heru Sasongko, S.Farm., M.Sc., Apt., menilai pengembangan teknologi di lingkungan perguruan tinggi perlu semakin dekat dengan persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.
Menurutnya, penelitian tidak semestinya berhenti pada capaian akademik, tetapi perlu diarahkan menjadi produk yang relevan dan memberikan manfaat.
“Kami mendorong mahasiswa dan dosen untuk melakukan penelitian yang berbasis pada kebutuhan nyata yang dihadapi oleh masyarakat. Penelitian seperti ini tidak hanya akan menghasilkan produk yang inovatif, tetapi juga relevan dan dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat. Smart IT Festival ini adalah salah satu contoh konkret bagaimana penelitian bisa diwujudkan menjadi produk yang bermanfaat,” terang Heru.
Semangat tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam SIF 2026. Festival tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga membuka kesempatan bagi pengembang teknologi di UNS untuk bertemu dengan calon pengguna dan mitra pengembangan.
Penanggung jawab SIF 2026, Yudho Yudhanto, S.Kom., M.Kom., mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang apresiasi sekaligus promosi bagi mahasiswa dan dosen pengembang produk teknologi di UNS.
“Smart IT Festival menjadi ruang bagi para pengembang produk IT di UNS untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat sekaligus memperoleh peluang untuk dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi dengan dunia industri,” jelas Yudho.
AI Tak Cukup Hanya Dipakai, Anak Muda Harus Mampu Menciptakan
Persoalan perkembangan AI juga menjadi bagian dari rangkaian SIF 2026. Melalui NVIDIA Campus Edutech UNS bertajuk “AI for Future Careers: Smart, Creative & Responsible”, mahasiswa dan generasi muda diajak melihat perkembangan AI bukan hanya dari sisi penggunaan, tetapi juga peluang untuk menjadi pencipta teknologi.
Kegiatan tersebut menghadirkan Adrian Lesmono, Country Business Lead NVIDIA Indonesia. Pesan yang dibawa cukup relevan dengan perkembangan teknologi saat ini. Generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan AI secara cerdas, kreatif, sekaligus bertanggung jawab.
Selain itu, SIF 2026 juga mempertemukan mahasiswa dan dosen dengan sejumlah praktisi industri serta pelaku teknologi, di antaranya Yani Aji Susilo, CEO PT Oemah Solution Indonesia; Cycas Rifky, M., CEO Kode Giri dan CTSO SSI Group; Devin Maeztri, Indonesia Partnerships Manager of Automattic–WordPress; serta Anjas Maradita, AI-Driven Content Creator dan CEO Pekerja AI.
Kehadiran praktisi tersebut memperluas ruang dialog antara dunia akademik dan kebutuhan industri yang terus berubah.
Pemerintah Dorong Riset Jangan Berhenti di Dokumen
Kepala BRIDA Kota Surakarta, Kentis Ratnawati, S.H., M.M., yang membuka SIF 2026, menilai kegiatan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Kota Surakarta.
Ia mendorong agar kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah terus diperkuat sehingga inovasi teknologi dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi ajang untuk terus mendorong riset dan pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kami juga mendorong kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah untuk menciptakan ekosistem yang mendukung lahirnya teknologi-teknologi baru yang tidak berhenti pada dokumen penelitian saja,” ujar Kentis.
Pernyataan tersebut menegaskan tantangan yang lebih besar bagi perguruan tinggi: bagaimana memastikan hasil riset memiliki jalur untuk berkembang setelah penelitian selesai.
Dalam konteks itu, SIF menjadi salah satu ruang pertemuan antara produk teknologi kampus dengan masyarakat dan industri.
Teknologi untuk Manusia, Bukan Sebaliknya
Pemilihan tema “Driving Innovation for Human-Centered AI Future” juga memberi pesan bahwa perkembangan teknologi tidak semata-mata berbicara mengenai seberapa canggih sebuah sistem.
Teknologi juga perlu dilihat dari manfaatnya bagi manusia. Hal tersebut tercermin dari jenis inovasi yang dipamerkan. Smart Farming TANDUR, misalnya, membawa teknologi ke sektor pertanian. Smart Sistem Parkir UNS berkaitan dengan kebutuhan transportasi dan pengelolaan ruang. Sementara aplikasi berbasis AI dan teknologi lainnya membuka kemungkinan pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam berbagai kebutuhan.
Dengan demikian, SIF 2026 memperlihatkan bahwa inovasi teknologi dapat berangkat dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi UNS, penyelenggaraan SIF ke-21 sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong ekosistem pendidikan, penelitian, dan inovasi yang semakin terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
Festival tersebut juga mendukung sejumlah agenda Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain pendidikan berkualitas, industri dan inovasi, kota berkelanjutan, ketahanan pangan, serta kemitraan.
Pada akhirnya, 18 inovasi yang tampil di Balai Kota Surakarta bukan hanya menunjukkan apa yang mampu dibuat oleh mahasiswa dan dosen UNS.
Lebih jauh, karya-karya tersebut menunjukkan sebuah pertanyaan penting bagi dunia pendidikan tinggi: setelah sebuah riset selesai dibuat, sejauh mana ia mampu keluar dari kampus dan bekerja untuk manusia?
Smart IT Festival 2026 mencoba menjawab pertanyaan itu dengan mempertemukan teknologi, masyarakat, pemerintah, dan industri dalam satu ruang.
Dari sana, karya akademik memiliki peluang untuk bergerak satu tahap lebih jauh. Dari penelitian menjadi produk, dari produk menjadi solusi, dan dari solusi menjadi inovasi yang benar-benar digunakan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.