Di SMK Penerbangan Solo, Siswa Belajar dengan Standar “Go or No Go”
Konsekuensi pekerjaan di dunia penerbangan membuat kedisiplinan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan.
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan di SMK Penerbangan Bina Dirgantara Solo, Rabu (23/9/2026). (Azzumar Firdaus) NUMLIT, SURAKARTA — Di usia ketika sebagian remaja masih sibuk mengejar nilai ujian, siswa SMK Penerbangan Bina Dirgantara Solo sudah berhadapan dengan dunia yang memiliki aturan berbeda. Sebuah kesalahan kecil bukan sekadar membuat nilai berkurang, tetapi bisa menyangkut keselamatan penerbangan.
Table Of Content
Di sekolah yang berada di kawasan dekat Pangkalan Udara Adi Soemarmo itu, para siswa belajar membongkar komponen pesawat, mengenali sistem mesin, memahami instrumen navigasi, hingga menjalankan prosedur keselamatan kerja. Mereka tidak hanya dituntut bisa, tetapi juga harus tahu kapan sebuah pekerjaan dinyatakan layak atau justru harus ditolak.
Standar itulah yang membuat pendidikan di SMK Penerbangan Bina Dirgantara Solo berbeda. Dalam ujian praktik, misalnya, siswa tidak semata-mata berhadapan dengan angka 70, 80, atau 90. Sistem penilaiannya mengenal prinsip “Go or No Go”, kompeten atau tidak kompeten.
Artinya sederhana. Jika sebuah pekerjaan dinilai aman dan sesuai standar, maka dinyatakan go. Jika terdapat kesalahan yang berpotensi membahayakan, jawabannya no go.
Wakil Kepala Kesiswaan sekaligus Guru Produktif Elektronika, Avionik, dan Instrumen, Sunarman, mengatakan standar tersebut merupakan bagian dari budaya keselamatan yang harus ditanamkan sejak siswa pertama kali mengenal dunia penerbangan.
“Jika mesin mobil mati di jalan, kita bisa berhenti di tepi jalan. Tetapi jika mesin pesawat mati di udara, dampaknya fatal,” ujar Sunarman, saat diwawancarai Rabu (23/9/2026).
Bukan Sekadar Belajar Mesin Pesawat
SMK Penerbangan Bina Dirgantara Solo lahir dari gagasan sekitar 10 purnawirawan TNI Angkatan Udara yang melihat kebutuhan pendidikan kedirgantaraan di Solo. Lokasinya yang berdekatan dengan Lanud Adi Soemarmo menjadi salah satu modal penting dalam pengembangan sekolah.
Sejak awal, sekolah memperoleh dukungan tenaga pengajar dari personel aktif maupun purnawirawan TNI AU. Para siswa juga mendapat pengalaman berinteraksi dengan pesawat dan lingkungan kedirgantaraan.

Kini pendidikan diarahkan pada dua bidang utama, yakni Airplane Powerplant serta Elektronika Avionik dan Instrumen.
Pada bidang Powerplant, siswa mempelajari pemeliharaan struktur dan mesin pesawat, mulai dari penanganan korosi dan keretakan struktur hingga pemeriksaan berkala berdasarkan jam terbang.
Sementara bidang avionik membawa siswa mengenal dunia elektronik pesawat, seperti instrumen navigasi, indikator kinerja mesin, altimeter, sistem komunikasi, hingga perangkat pendukung penerbangan lainnya.
Dengan kata lain, siswa tidak sekadar belajar bagaimana pesawat bisa terbang. Mereka belajar bagaimana memastikan pesawat tetap layak dan aman untuk terbang.
Budaya Keselamatan Dimulai dari Hal Sederhana
Konsekuensi pekerjaan di dunia penerbangan membuat kedisiplinan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan.
Di ruang praktik, misalnya, siswa diwajibkan menggunakan wearpack. Aturan tersebut bukan sekadar soal penampilan, tetapi berkaitan dengan keselamatan ketika berhadapan dengan komponen bergerak, cairan hidrolik bertekanan tinggi maupun bahan kimia.
Budaya keselamatan juga dibangun melalui kebiasaan mengikuti prosedur. Sebab dalam industri penerbangan, keterampilan tanpa disiplin dapat menjadi persoalan. Siswa harus memahami bahwa prosedur bukan untuk memperlambat pekerjaan, melainkan bagian dari sistem keselamatan.
Teknologi Berubah, Dasar Tidak Boleh Hilang
Tantangan pendidikan penerbangan tidak berhenti pada keselamatan. Perkembangan teknologi juga memaksa sekolah terus memperbarui pembelajaran.
Dunia penerbangan kini bergerak dari instrumen analog menuju sistem digital terintegrasi atau glass cockpit. Namun sekolah tetap mempertahankan pembelajaran sistem analog sebagai fondasi.
“Transisi dari sistem analog ke sistem digital terus kita ikuti. Namun materi dasar analog tetap diajarkan sebagai landasan sebelum siswa mempelajari teknologi digital,” jelas Sunarman.
Sekolah juga berkomunikasi dengan maskapai dan perusahaan Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) melalui unit Hubungan Industri untuk mengikuti perkembangan kebutuhan dunia kerja.
Sebelum siswa kelas XII menjalani Praktik Kerja Lapangan, sekolah melakukan pemetaan perusahaan dan bidang kerja yang sesuai. Siswa dapat diarahkan ke berbagai bidang, mulai dari baterai, komunikasi, instrumen navigasi, mesin utama hingga landing gear.
Namun ada satu hal yang tidak bisa disediakan sepenuhnya oleh sekolah yaitu pengalaman menghadapi seluruh perkembangan teknologi industri yang bergerak cepat. Karena itu, siswa dituntut memiliki kemampuan belajar mandiri.
“Siswa harus memiliki motivasi tinggi untuk terus belajar secara mandiri karena perkembangan teknologi penerbangan berjalan sangat cepat,” kata Sunarman.
Ketika Sekolah Bertemu Regulasi
Pendidikan di SMK Penerbangan juga menghadapi tantangan yang tidak kalah penting adalah bagaimana memastikan lulusan dapat terserap di industri.
Guru Produktif sekaligus mantan Wakasek Sarana dan Prasarana, Lili Dewi Diyodjati, menjelaskan bahwa siswa memang dibekali sertifikat uji kompetensi dari dunia usaha dan dunia industri. Namun sertifikat tersebut belum otomatis membuat lulusan dapat langsung menjadi teknisi pesawat.
Lulusan SMK umumnya memulai karier sebagai helper atau asisten mekanik. Untuk naik menjadi teknisi resmi, mereka perlu memperoleh basic license.
Persoalannya, menurut pihak sekolah, terdapat perubahan persyaratan kualifikasi pendidikan untuk mengikuti ujian lisensi dasar teknisi pesawat yang membuat lulusan SMK menghadapi tantangan lebih besar untuk masuk langsung ke jenjang teknisi.
Karena itu, sekolah mendorong lulusan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang linier atau menempuh jalur lisensi resmi.

“Harapan kami untuk industri adalah adanya penyesuaian regulasi agar lulusan SMK penerbangan dapat kembali terserap secara maksimal di dunia kerja penerbangan,” ujar Lili.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjadi lulusan sekolah penerbangan bukan berarti perjalanan menuju profesi teknisi langsung selesai setelah menerima ijazah.
Justru, pendidikan SMK menjadi fondasi awal yang harus dilanjutkan dengan pendidikan, pengalaman, sertifikasi, dan proses pengembangan kompetensi.
Dari Hanggar Menuju Masa Depan
Bagi siswa, pengalaman belajar di sekolah tersebut tetap menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di sekolah menengah biasa.
Andrea Yesa Lekstia Prakoso, siswa kelas XII jurusan Airplane Powerplant 1, tertarik masuk karena melihat dunia pendidikan di sekolah tersebut menawarkan pengalaman yang berbeda.
“Sekolah ini unik dan menawarkan banyak hal baru untuk dipelajari,” tuturnya.
Pengalaman praktik menjadi salah satu daya tarik utama. Siswa dapat mengenal komponen pesawat secara langsung, memahami mekanisme penerbangan, dan merasakan bagaimana teori diterapkan dalam lingkungan yang menyerupai dunia kerja.
Menariknya, cita-cita siswa pun tidak selalu berakhir di hanggar.
Yesa, misalnya, berencana melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Dirgantara Yogyakarta. Ia juga memiliki cita-cita bekerja sebagai pramugari atau ground handling staff di bandara.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan penerbangan tidak selalu mengunci siswa pada satu profesi. Ekosistem aviasi menyediakan berbagai jalur karier yang dapat dijelajahi sesuai minat dan kompetensi.
Pada akhirnya, SMK Penerbangan Bina Dirgantara Solo tidak hanya mengajarkan bagaimana memperbaiki mesin atau membaca instrumen pesawat.
Sekolah ini sedang membentuk cara berpikir yang berbeda pada anak-anak muda bahwa dalam dunia tertentu, kemampuan saja tidak cukup. Ada standar, ada prosedur, ada tanggung jawab, dan ada keselamatan manusia yang harus dipertaruhkan.
Di situlah makna “Go or No Go” menjadi lebih dari sekadar sistem penilaian. Hal itu menjadi cara untuk mengajarkan kepada siswa bahwa dalam dunia penerbangan, tidak ada ruang untuk sekadar “hampir benar” ketika keselamatan menjadi taruhannya.



No Comment! Be the first one.