Bukan Sekadar Mengajar, Guru MTsN 13 Boyolali Didorong Tinggalkan Jejak Lewat Tulisan
Guru tidak hanya dituntut mampu menyampaikan gagasan dalam lingkungan akademik, tetapi juga perlu memahami bagaimana sebuah isu pendidikan dikomunikasikan kepada publik.
Kepala MTs Negeri 13 Boyolali, Rosyid Eko Priyono, S.Pd., M.Pd. (tengah) membuka kegiatan Pelatihan Pengembangan Tradisi Menulis dan Berbagi Inspirasi, Rabu (23/9/2026). (dok panitia) NUMLIT, BOYOLALI — Pengalaman seorang guru di ruang kelas sering kali menyimpan banyak cerita, gagasan, dan solusi yang sebenarnya bisa menginspirasi orang lain. Namun, tanpa dituliskan, pengalaman tersebut kerap berhenti sebagai pengetahuan pribadi.
Table Of Content
MTs Negeri 13 Boyolali mencoba mengubah kondisi itu. Madrasah yang berada di Tanjung, Klego, Boyolali tersebut mencanangkan gerakan “Satu Guru, Satu Karya” melalui Pelatihan Pengembangan Tradisi Menulis dan Berbagi Inspirasi, Rabu (23/9/2026).
Sekitar 30 guru mengikuti pelatihan yang dibuka langsung Kepala MTs Negeri 13 Boyolali, Rosyid Eko Priyono, S.Pd., M.Pd. Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Bramastia, M.Pd., kolumnis sekaligus pemerhati kebijakan pendidikan dan dosen S2 Pendidikan Sains Pascasarjana FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Program tersebut tidak sekadar diarahkan agar guru mampu menulis. Lebih jauh, madrasah ingin membangun kebiasaan agar pengalaman dan praktik baik yang lahir dari ruang kelas dapat diolah menjadi karya yang bisa dibaca dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pengalaman Guru Tidak Lagi Berhenti di Ruang Kelas
Rosyid mengatakan, banyak pengalaman berharga yang dimiliki guru dalam menjalankan proses pembelajaran. Pengalaman tersebut, menurutnya, perlu dibagikan melalui berbagai bentuk karya.
“Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir guru-guru yang berani menuangkan ide dalam bentuk karya ilmiah, artikel, opini, narasi inspiratif, maupun tulisan positif di media sosial,” ujarnya.
Dengan demikian, pengalaman dan praktik baik yang selama ini terjadi di ruang kelas tidak hanya berhenti menjadi pengalaman pribadi.
Pengetahuan tersebut dapat berkembang menjadi inspirasi bagi sesama pendidik, peserta didik, maupun masyarakat.
Gagasan itu kemudian dirangkum dalam semangat yang ingin dibangun MTs Negeri 13 Boyolali melalui “Guru Menulis, Guru Berkarya, Guru Menginspirasi.”
Rosyid menilai guru tidak hanya memiliki peran dalam mendidik generasi, tetapi juga dapat meninggalkan jejak pemikiran melalui karya.
“Satu tulisan mungkin sederhana, tetapi jika lahir dari ketulusan, pengalaman, dan semangat berbagi, ia dapat memberikan manfaat yang luas,” katanya.
Karena itu, program tersebut ditargetkan tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Setiap guru diharapkan mampu menghasilkan sedikitnya satu karya yang dapat dibaca, diapresiasi, dan memberikan manfaat bagi dunia pendidikan.
Menulis Bukan Sekadar Merangkai Kata
Dalam pelatihan, Dr. Bramastia mengajak para guru melihat aktivitas menulis dari perspektif yang lebih luas.
Menurutnya, menulis merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir. Kebiasaan menulis juga dapat membantu guru menjaga pikirannya tetap dinamis dalam menghadapi perubahan zaman.
“Guru yang sering menulis bisa menumbuhkan semangat baru dan membuat pikiran senantiasa dinamis menerima perubahan zaman,” ujar Bramastia.
Bagi Bramastia, tulisan juga dapat menjadi bentuk berbagi kepada lingkungan sekitar. Menulis tidak hanya menghasilkan karya untuk kepentingan pribadi, tetapi dapat menjadi sarana menyebarkan gagasan, pengalaman, dan inspirasi kepada orang lain.
Ia bahkan menyebut aktivitas menulis sebagai salah satu bentuk kesalehan sosial, karena gagasan yang dituangkan dalam tulisan dapat memberikan manfaat lebih luas ketika dibaca orang lain.
Guru Didorong Berani Bersuara di Media
Salah satu materi utama dalam pelatihan tersebut adalah bagaimana menulis opini untuk media massa.
Materi ini menjadi penting karena guru tidak hanya dituntut mampu menyampaikan gagasan dalam lingkungan akademik, tetapi juga perlu memahami bagaimana sebuah isu pendidikan dikomunikasikan kepada publik.
Guru memiliki pengalaman langsung berhadapan dengan persoalan pendidikan. Dari pengalaman tersebut, banyak isu yang sebenarnya dapat diolah menjadi tulisan opini.

Namun, sebuah tulisan tidak cukup hanya berisi gagasan. Menurut Bramastia, penulis juga perlu memperhatikan bagaimana tulisan tersebut ditutup. Ia menekankan pentingnya closing statement yang kuat, menarik, dan meninggalkan kesan bagi pembaca.
“Ending harus dirumuskan secara kuat, menarik, dan meninggalkan kesan pada pembaca,” katanya.
Menurutnya, bagian akhir tulisan dapat menjadi ruang untuk memberikan penegasan kembali atas gagasan yang telah disampaikan sekaligus memperkuat posisi atau pandangan penulis terhadap isu yang dibahas.
Dengan penutup yang kuat, pesan dalam sebuah opini akan lebih mudah melekat di benak pembaca.
Dari Guru Menulis Menjadi Guru Menginspirasi
Gerakan “Satu Guru, Satu Karya” pada akhirnya membawa pesan yang lebih besar dari sekadar target menghasilkan tulisan.
Ada upaya untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi karya, dan karya menjadi inspirasi.
Di ruang kelas, guru setiap hari berhadapan dengan berbagai persoalan pendidikan. Mereka menemukan cara mengajar, menghadapi karakter peserta didik, beradaptasi dengan perubahan zaman, hingga mencari solusi atas berbagai tantangan pembelajaran.
Semua itu merupakan pengalaman yang berharga. Ketika pengalaman tersebut dituliskan, manfaatnya tidak lagi hanya dirasakan oleh guru yang mengalaminya.
Hal itu dapat menjadi referensi bagi guru lain, bahan pembelajaran bagi peserta didik, sekaligus menjadi bagian dari percakapan publik mengenai pendidikan.
Karena itu, “Satu Guru, Satu Karya” bukan sekadar ajakan untuk menulis. Ini menjadi upaya mendorong guru agar tidak hanya hadir sebagai pengajar di ruang kelas, tetapi juga hadir sebagai pemilik gagasan yang berani berbicara, berbagi, dan meninggalkan jejak pemikiran melalui tulisan.
Sebab seorang guru mungkin hanya mengajar satu generasi di ruang kelas. Namun, sebuah tulisan yang lahir dari pengalaman dan pemikirannya bisa dibaca jauh lebih banyak orang dan menginspirasi generasi berikutnya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.