STABN Raden Wijaya Disebut Miniatur Indonesia, Bupati Wonogiri Dorong Naik Status Jadi Universitas
Bupati Wonogiri menyampaikan dukungan terhadap proses peningkatan status STABN Raden Wijaya menjadi institut maupun universitas.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno (kiri) menghadiri prosesi Wisuda Sarjana XVI dan Magister I STABN Raden Wijaya, Rabu (23/9/2026). (dok Humas STABN Raden Wijaya) NUMLIT, WONOGIRI – Ada gambaran kecil tentang Indonesia di sebuah kampus di Wonogiri. Mahasiswanya datang dari berbagai daerah, membawa latar belakang budaya yang berbeda, lalu bertemu dalam satu ruang pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri, Jawa Tengah.
Table Of Content
Keberagaman itulah yang membuat Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyebut STABN Raden Wijaya sebagai miniatur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pernyataan tersebut disampaikan Setyo saat menghadiri prosesi Wisuda Sarjana XVI dan Magister I STABN Raden Wijaya, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, keberadaan mahasiswa dari berbagai daerah bukan sekadar memperkaya kehidupan akademik kampus, tetapi juga menjadi gambaran nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Wonogiri, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran para mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang menempuh pendidikan di STABN Raden Wijaya,” ujar Setyo.
Menurutnya, keberagaman yang hadir di lingkungan kampus menjadi modal penting dalam memperkuat persatuan bangsa. Pendidikan tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga tempat bertemunya berbagai latar belakang dalam semangat kebersamaan.
Dari Wonogiri untuk Indonesia
Bagi Setyo, wisuda bukanlah titik akhir perjalanan para mahasiswa. Gelar akademik justru menjadi awal bagi para lulusan untuk membawa pengetahuan yang diperoleh ke tengah masyarakat.
Ia berharap para wisudawan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan profesinya sekaligus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
“Kiranya tahap keberhasilan ini menyelesaikan studi menjadi awal yang baik, bagaimana kita melanjutkan langkah dalam mewujudkan keberhasilan kita berikutnya, dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan profesi untuk bisa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus menempatkan perguruan tinggi bukan hanya sebagai tempat mencetak lulusan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pembangunan masyarakat.

STABN Raden Wijaya sendiri telah hadir di Wonogiri selama hampir 19 tahun. Dalam perjalanan tersebut, kampus dinilai telah memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus berkembang menjadi salah satu institusi pendidikan yang memiliki posisi penting di daerah.
Pemkab Wonogiri Dorong STABN Naik Kelas
Setelah hampir dua dekade hadir di Wonogiri, Pemerintah Kabupaten Wonogiri kini melihat peluang pengembangan STABN Raden Wijaya ke tingkat yang lebih tinggi.
Setyo menyampaikan dukungan terhadap proses peningkatan status STABN Raden Wijaya menjadi institut maupun universitas.
Menurutnya, peningkatan status tersebut diharapkan dapat memperluas kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat Wonogiri dan wilayah yang lebih luas.
“Pemerintah Kabupaten Wonogiri mendukung peningkatan status menjadi institut atau universitas agar mampu berkontribusi lebih besar dan semakin luas,” tegasnya.
Dorongan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan STABN Raden Wijaya tidak hanya dipandang sebagai institusi pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai aset pengembangan sumber daya manusia di Wonogiri.
Semakin luas kapasitas akademik yang dimiliki, semakin besar pula peluang kampus untuk memberikan kontribusi dalam pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, serta pemberdayaan masyarakat.
Diminta Lebih Aktif di Tengah Masyarakat
Setyo juga mengajak sivitas akademika STABN Raden Wijaya untuk semakin aktif terlibat dalam kegiatan pemerintahan dan kemasyarakatan.
Menurutnya, kampus memiliki sumber daya intelektual yang dapat ikut mendukung pembangunan daerah.
Ia berharap STABN Raden Wijaya dapat mengambil bagian dalam mewujudkan visi Wonogiri yang berdaya saing, maju, sejahtera, dan berkelanjutan.
Dengan demikian, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan setiap tahun, tetapi juga dari sejauh mana ilmu dan sumber daya manusia yang lahir dari kampus mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Wisuda Bukan Garis Akhir
Prosesi Wisuda Sarjana XVI dan Magister I akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Di balik toga dan ijazah yang diterima para lulusan, tersimpan harapan agar mereka menjadi bagian dari masyarakat yang mampu menerjemahkan ilmu menjadi kontribusi nyata.
Bagi STABN Raden Wijaya, keberagaman mahasiswa menjadi gambaran kecil Indonesia. Sementara bagi Wonogiri, keberadaan kampus tersebut menyimpan harapan untuk terus berkembang dan memberi dampak yang lebih luas.
Setyo pun menyampaikan selamat kepada seluruh wisudawan dan berharap perjalanan akademik mereka menjadi pijakan untuk memberikan kontribusi di berbagai tingkatan.
“Selamat dan sukses kepada para wisudawan, semoga mampu memberikan implikasi positif bagi masyarakat dan berkontribusi untuk pembangunan secara lokal, regional, maupun nasional,” pungkasnya.
Dari sebuah kampus di Wonogiri, pesan yang muncul cukup sederhana yaitu pendidikan tidak berhenti ketika seseorang menerima ijazah. Justru setelah wisuda, ilmu diuji oleh seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada masyarakat. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.