Dari Sak Semen Bekas Jadi Janaka-Srikandi Setinggi 1,5 Meter, Tri Haryoko Bawa Wayang ke Panggung Kriya Nusa 2026
Meski menggunakan material yang tidak lazim, proses pembuatan wayang kulit jumbo tetap mengadopsi teknik pembuatan wayang kulit.
Tri Haryoko dari Sanggar Omah Wayang Mas Kamto, Sukoharjo, Jawa Tengah, menunjukkan dua wayang berukuran jumbo hasil kreasinya. (istimewa) NUMLIT, SUKOHARJO — Siapa sangka sak semen bekas bisa berubah menjadi Janaka dan Srikandi?
Di tangan Tri Haryoko dari Sanggar Omah Wayang Mas Kamto, Sukoharjo, Jawa Tengah, material yang biasanya berakhir sebagai limbah justru disulap menjadi dua sosok wayang berukuran jumbo. Tingginya mencapai 150 sentimeter, jauh melampaui ukuran wayang kulit pada umumnya.
Karya tersebut akan dipamerkan dalam Kriya Nusa 2026, Pameran Kerajinan Nusantara yang digelar di Hall A-B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Sabtu-Rabu (26-30/9/2026).
Bukan hanya ukurannya yang mencuri perhatian. Material yang digunakan juga menjadi bagian penting dari cerita di balik karya tersebut.
Tri memanfaatkan sak semen yang telah dipress dan didaur ulang sebagai bahan dasar. Meski menggunakan material yang tidak lazim, proses pembuatannya tetap mengadopsi teknik pembuatan wayang kulit.
Dari material tersebut, Tri terlebih dahulu membuat sketsa karakter. Setelah itu, bahan dipahat dan dibentuk secara detail seperti proses pengerjaan wayang kulit. Tahap berikutnya adalah pewarnaan, sebelum akhirnya wayang dilengkapi gapit yang dibuat dari kayu sawo dan rotan. Seluruh proses tersebut diselesaikan dalam waktu sekitar empat hari.
“Yang paling menarik memang bahannya menggunakan daur ulang sak semen. Tetapi prosesnya tetap seperti membuat wayang kulit. Yang membedakan, ukurannya jumbo sehingga pengerjaannya harus ekstra hati-hati,” ujar Tri Haryoko, Jumat (25/9/2026).
Bagi Tri, eksperimen tersebut bukan sekadar membuat wayang berukuran besar. Ia ingin menunjukkan bahwa pengembangan seni tradisi tidak harus selalu terpaku pada material yang selama ini digunakan.
Wayang, menurut dia, dapat terus berkembang dengan memanfaatkan berbagai material yang tersedia di lingkungan sekitar.

Eksperimen itu sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi dan inovasi tidak harus berjalan berlawanan. Teknik lama tetap dipertahankan, sementara material dan bentuknya diberi ruang untuk berkembang.
Pilihan karakter Janaka dan Srikandi juga membawa pesan tersendiri. Keduanya merupakan tokoh pewayangan yang telah lama dikenal dalam khazanah budaya Jawa, tetapi kini ditampilkan melalui material yang jauh dari kesan konvensional. Dari kulit ke sak semen, dari ukuran panggung wayang ke ukuran 1,5 meter.
Perubahan tersebut justru menjadi cara Tri memperkenalkan kembali karakter wayang melalui pendekatan visual yang berbeda.
Karya Tri akan hadir bersama ratusan karya kriya dari berbagai daerah dalam Kriya Nusa 2026. Pameran yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tersebut diikuti 257 peserta dengan 410 booth.
Bagi Tri, keikutsertaan dalam pameran nasional itu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bahwa wayang tidak harus berhenti sebagai artefak tradisi.
Ia ingin wayang terus menemukan ruang baru, termasuk melalui kolaborasi dengan berbagai bentuk seni dan budaya kontemporer.
“Harapannya ke depan ada pihak-pihak yang mau menggandeng Sanggar Omah Wayang Mas Kamto agar kami bisa terus berkarya. Wayang tidak hanya berjalan di ranah tradisi, tetapi juga bisa dikolaborasikan dengan apa saja, misalnya musik kontemporer maupun musik Barat,” katanya.
Menurut Tri, eksplorasi material juga menjadi bagian penting dari masa depan seni wayang. Bahan yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat memiliki kehidupan baru ketika disentuh kreativitas.
“Bahan pembuatan wayang ternyata bisa menggunakan bahan yang ada di sekitar kita. Semoga bisa menambah inspirasi dalam mengembangkan seni wayang dengan bahan selain kulit,” ujarnya.
Di situlah Janaka dan Srikandi karya Tri menemukan maknanya. Keduanya bukan hanya wayang berukuran jumbo yang akan berdiri di ruang pamer Kriya Nusa 2026. Mereka menjadi bukti bahwa menjaga tradisi tidak selalu berarti mempertahankan segala sesuatu dalam bentuk yang sama.
Kadang, agar wayang tetap hidup di tengah perubahan zaman, yang perlu dipertahankan adalah ruh dan proses kreatifnya. Sementara bahan, bentuk, dan cara menyampaikannya boleh terus berinovasi. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.