Haul Solo Bukan Hanya Soal Keramaian, Tukang Ojek Raup Berkah dari Arus Jamaah
Tukang ojek menjadi salah satu mata rantai yang ikut menopang mobilitas jamaah Haul Solo.
Tukang ojek menunggu dan mencari pelanggan di sepanjang Jalan Kapten Mulyadi Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (3/10/2026). (Nurul Hidayah) NUMLIT, SURAKARTA — Bagi ribuan jamaah yang datang ke Solo untuk menghadiri rangkaian Haul Solo, sepeda motor menjadi salah satu moda penting untuk menembus padatnya aktivitas di sekitar kawasan acara. Bagi para tukang ojek offline, derasnya arus jamaah itu sekaligus menjadi peluang untuk menambah penghasilan.
Bendot (38), warga Semanggi, Solo, merupakan salah satu tukang ojek yang merasakan langsung dampak keramaian tersebut. Sehari-hari ia mangkal di sekitar depan RS Kustati dan kawasan belakang tembok benteng Keraton Solo.
Selama rangkaian haul berlangsung, aktivitasnya sebagai tukang ojek meningkat. Penumpang datang silih berganti dengan tujuan yang beragam, mulai dari kawasan sekitar lokasi acara hingga perjalanan ke tempat yang lebih jauh.
“Untuk penghasilan paling banyak satu hari Rp500.000, paling sedikit Rp70.000,” ujar Bendot, saat diwawancarai Sabtu (3/10/2026).
Menurut Bendot, jumlah jamaah yang datang pada pelaksanaan haul tahun ini juga terasa lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menduga salah satu penyebabnya adalah puncak rangkaian acara yang berlangsung pada Minggu sehingga lebih banyak masyarakat memiliki waktu untuk datang.
“Yang menghadiri haul tahun ini lebih banyak daripada tahun kemarin. Kemungkinan karena puncaknya jatuh di hari Minggu dan kebanyakan yang datang dari Kalimantan,” katanya.
Bagi Bendot, keramaian tersebut bukan sekadar pemandangan tahunan. Banyaknya jamaah berarti bertambahnya mobilitas masyarakat dan pada saat yang sama, terbukanya kesempatan bagi pekerja informal seperti dirinya untuk mendapatkan pemasukan lebih besar.
Mahasiswa Ikut Menangkap Peluang
Peluang ekonomi dari keramaian haul juga dimanfaatkan Ilham (23), warga Solo yang sehari-hari berstatus mahasiswa.
Berbeda dengan Bendot yang menjadikan ojek sebagai pekerjaan utama, Ilham hanya menjalani pekerjaan tersebut secara sementara selama rangkaian haul. Selama lima hari terakhir, ia membagi waktu antara mengikuti perkuliahan dan mencari tambahan penghasilan dengan menjadi tukang ojek.
“Lima hari ini saya membagi waktu untuk kuliah dan nyambi ojek di sini karena lumayan penghasilannya. Dengan modal motor, saya bilang kalau saya tukang ojek,” ujar Ilham.
Bagi Ilham, pekerjaan tersebut relatif mudah dilakukan karena tidak membutuhkan modal besar. Sepeda motor yang sehari-hari digunakan untuk aktivitasnya dapat sekaligus menjadi sarana memperoleh penghasilan tambahan ketika momentum keramaian datang.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dampak sebuah kegiatan besar tidak selalu berhenti pada penyelenggara, jamaah, atau pelaku usaha formal. Arus manusia yang datang dalam jumlah besar juga menciptakan peluang ekonomi bagi kelompok pekerja informal yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Tukang ojek menjadi salah satu mata rantai yang ikut menopang mobilitas jamaah. Mereka membantu mengantarkan warga menuju lokasi tertentu, menghubungkan kawasan yang sulit dijangkau kendaraan besar, sekaligus memanfaatkan meningkatnya kebutuhan transportasi selama haul.
Bendot dan Ilham berharap seluruh rangkaian Haul Solo berjalan lancar. Di sisi lain, mereka juga berharap keramaian jamaah terus memberikan manfaat bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas ekonomi di sekitar lokasi.
“Harapannya acara berjalan lancar dan kita juga mendapat penumpang yang banyak,” ujar keduanya.
Bagi mereka, haul akhirnya tidak hanya menjadi momentum spiritual yang mempertemukan jamaah dari berbagai daerah. Di tengah derasnya arus manusia menuju Solo, terselip pula cerita tentang bagaimana sebuah tradisi keagamaan mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil, termasuk dari jok sepeda motor para tukang ojek yang setia menunggu penumpang.



No Comment! Be the first one.