Dari Amplop Donasi Jadi Pelajaran Kemanusiaan, Siswa SMPN 9 Surakarta Galang Rp10,89 Juta untuk Penyintas Gempa NTT
SMPN 9 Surakarta menitipkan donasi yang dikumpulkan sukarela kepada SOLOPEDULI untuk disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana di NTT.
NUMLIT, SURAKARTA — Pelajaran tentang kepedulian ternyata tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Di SMP Negeri 9 Surakarta, nilai empati justru dipraktikkan melalui aksi nyata.
Table Of Content
Dari amplop-amplop donasi yang dikumpulkan secara sukarela, keluarga besar sekolah berhasil menghimpun Rp10.892.500 untuk membantu penyintas gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Donasi tersebut kemudian dititipkan kepada SOLOPEDULI untuk disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana. Amanah kemanusiaan itu diserahkan pada Selasa (8/9/2026) di ruang Kepala SMPN 9 Surakarta.
Kepala SMPN 9 Surakarta, Siti Latifah, S.Pd., M.Pd., menyerahkan donasi bersama Wakil Kepala Sekolah bidang Humas, Sie Kesiswaan dan perwakilan OSIS. Donasi diterima Tri Jarwono, Amil SOLOPEDULI Cabang Solo.
Bagi sekolah, aksi tersebut bukan semata tentang nominal bantuan. Ada proses pendidikan karakter yang berjalan di baliknya. Selain mengajak siswa melihat bahwa ketika orang lain menghadapi musibah, mereka juga dapat mengambil bagian sesuai kemampuan.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mendapatkan pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga belajar tentang kepedulian, empati, dan berbagi dengan sesama,” kata Siti Latifah.
Menurut dia, donasi yang terkumpul mungkin belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat terdampak gempa. Namun, bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi bentuk kepedulian sekaligus meringankan beban para penyintas.
“Kami berharap donasi yang dikumpulkan dari keluarga besar SMPN 9 Surakarta ini dapat memberikan manfaat bagi saudara-saudara kita yang terdampak gempa di NTT. Mungkin jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan kebutuhan di sana, tetapi kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban mereka,” ujarnya.
Dimulai dari Pertemuan Wali Murid
Gerakan solidaritas tersebut bermula dari pembinaan wali kelas pada Jumat, 21 Agustus 2026. Dalam kesempatan itu, sekolah menyampaikan rencana untuk menggalang kepedulian bagi penyintas gempa NTT.
Selanjutnya, siswa diberikan amplop untuk berdonasi secara sukarela. Pengumpulan dilakukan selama 24–28 Agustus 2026 melalui wali kelas masing masing untuk selanjutnya dikumpulkan ke Wakil Kepala Sekolah bidang Humas dan tim Kesiswaan.
Gerakan tersebut kemudian menjadi aksi bersama yang melibatkan siswa, guru, karyawan, dan orang tua.
Saat ini SMPN 9 Surakarta memiliki 851 siswa serta 56 guru dan karyawan. Dengan demikian, keluarga besar sekolah mencapai 907 orang. Jumlah tersebut menjadi modal sosial ketika seluruh unsur sekolah bergerak untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
Bagi para siswa, keterlibatan dalam penggalangan dana juga memberi pengalaman langsung bahwa kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki banyak uang atau sudah dewasa.
Bukan Kali Pertama Titip Amanah ke SOLOPEDULI
Kepercayaan SMPN 9 Surakarta kepada SOLOPEDULI bukan kali pertama terjadi. Pada Januari 2026, keluarga besar sekolah tersebut juga pernah menitipkan donasi kemanusiaan melalui SOLOPEDULI untuk membantu masyarakat terdampak bencana di Aceh.
Kembali dipercayanya SOLOPEDULI menunjukkan adanya hubungan kepercayaan yang dibangun melalui aksi kemanusiaan sebelumnya.
Bagi lembaga amil tersebut, kepercayaan itu sekaligus menjadi tanggung jawab untuk memastikan donasi yang dihimpun dapat diteruskan kepada penerima manfaat.
Tri Jarwono mengapresiasi keluarga besar SMPN 9 Surakarta yang kembali menitipkan donasi melalui SOLOPEDULI.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar SMPN 9 Surakarta yang kembali mempercayakan amanah kemanusiaan kepada SOLOPEDULI. Bagi kami, kepercayaan ini adalah tanggung jawab yang harus dijaga,” ujarnya.
Ia memastikan donasi tersebut akan disalurkan untuk membantu masyarakat terdampak gempa di NTT.
Tri juga melihat keterlibatan siswa sebagai bagian penting dari pendidikan kepedulian sejak usia sekolah.
“Kepedulian tidak harus menunggu dewasa. Dari lingkungan sekolah pun anak-anak sudah bisa belajar berbagi dan membantu saudara yang sedang mengalami musibah,” katanya.
Ketika Sekolah Menjadi Ruang Belajar Kemanusiaan
Aksi SMPN 9 Surakarta memperlihatkan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh dari aktivitas sederhana. Mengumpulkan donasi, mengajak teman untuk berbagi, hingga menyerahkan bantuan kepada lembaga kemanusiaan menjadi pengalaman yang mempertemukan siswa dengan persoalan nyata di luar lingkungan sekolah.
Bagi sekolah, pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penggalangan dana. Nilai yang ingin ditanamkan adalah kebiasaan untuk peka terhadap lingkungan dan tidak bersikap acuh ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap tumbuh rasa kemanusiaan dalam diri siswa sehingga mereka terbiasa peduli ketika melihat saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan bantuan,” tutur Siti Latifah.
Sementara bagi SOLOPEDULI, donasi yang dihimpun dari lingkungan sekolah kembali menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan dapat dimulai dari ruang-ruang sederhana.
Dari sekolah di Surakarta, kepedulian itu kemudian bergerak menuju NTT. Nilainya bukan hanya pada Rp10,89 juta yang terkumpul, tetapi juga pada pengalaman ratusan siswa untuk belajar bahwa menjadi manusia yang peduli berarti bersedia mengambil bagian ketika orang lain sedang menghadapi kesulitan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.