Bukan Sekadar Pameran Tugas, Mahasiswa DKV ISI Surakarta Uji Karya hingga Kemampuan Kelola Proyek Kreatif
Sebanyak 86 karya yang dipamerkan berasal dari berbagai mata kuliah semester dasar, mulai dari menggambar dasar, tipografi, ilustrasi, komputer grafis, videografi, hingga perancangan identitas visual.
NUMLIT, SURAKARTA — Sebanyak 86 karya mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta Angkatan 2024 dipajang dalam pameran bertajuk REFRAKSI.
Table Of Content
Namun, pameran yang berlangsung di Galeri Kampus 2 ISI Surakarta pada 27–29 Agustus 2026 itu tidak sekadar menjadi ruang untuk memamerkan hasil tugas kuliah.
REFRAKSI menjadi semacam ruang uji bagi mahasiswa untuk menunjukkan sejauh mana mereka berkembang setelah menjalani tahun pertama perkuliahan, sekaligus belajar menghadapi proses kreatif yang lebih menyerupai dunia profesional.
Sebanyak 86 karya yang dipamerkan berasal dari berbagai mata kuliah semester dasar, mulai dari menggambar dasar, tipografi, ilustrasi, komputer grafis, videografi, hingga perancangan identitas visual.
Karya-karya tersebut dibagi ke dalam tiga subtema, yakni Hope, Pride, dan Chaos.
Subtema Hope terdiri atas 28 karya, dengan 26 karya mandiri dan dua karya kelompok. Pride menghadirkan 29 karya, terdiri atas 28 karya mandiri dan satu karya kelompok. Sementara Chaos juga menampilkan 29 karya, dengan 27 karya mandiri dan dua karya kelompok.
Keragaman karya tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana mahasiswa mulai menemukan karakter visual dan cara pandang masing-masing setelah melalui berbagai proses pembelajaran di semester dasar.
Nama REFRAKSI sendiri diambil dari fenomena pembiasan cahaya yang menghasilkan spektrum warna ketika melewati medium berbeda. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan sebagai metafora perjalanan mahasiswa DKV.
Seperti cahaya yang mengalami pembiasan dan menghasilkan warna berbeda, mahasiswa juga mengalami berbagai proses, tantangan, dan eksplorasi selama belajar. Dari proses tersebut, muncul gagasan, karakter, dan karya yang beragam.
“Melalui REFRAKSI kami ingin menunjukkan proses pembiasan ide dan karya kami selama setahun pertama. Setiap tantangan yang kami lewati membiaskan kami menjadi pribadi dan desainer yang lebih berwarna,” kata Ketua Penyelenggara REFRAKSI, Firstyan Chandra.
Belajar Mengelola Pameran, Bukan Hanya Membuat Karya
Yang menarik, proses belajar mahasiswa tidak berhenti pada produksi karya. Pameran tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran pengelolaan proyek kreatif.
Mahasiswa terlibat dalam berbagai tahapan penyelenggaraan, mulai dari kurasi, eksekusi, hingga publikasi. Dengan demikian, REFRAKSI menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa karya kreatif tidak berdiri sendiri, tetapi membutuhkan kemampuan perencanaan, kerja tim, komunikasi, dan manajemen proyek.
Dosen pembimbing kegiatan, Alfiandi Eka Kusuma, mengatakan pengalaman tersebut penting sebagai bekal mahasiswa ketika nantinya mengerjakan proyek kreatif yang lebih besar.
“Kami ingin pameran ini tidak hanya jadi portofolio, tapi juga bekal mereka untuk mengelola project kreatif yang lebih besar ke depannya,” ujarnya, di sela-sela pameran.
Dengan pendekatan tersebut, REFRAKSI tidak hanya mengukur kualitas visual karya mahasiswa. Pameran juga menjadi ruang untuk menguji kemampuan mereka dalam mengubah ide menjadi sebuah proyek yang dapat dipertanggungjawabkan dari sisi konsep hingga pelaksanaan.
Ketika Kampus Membuka Pintu ke Industri Kreatif
Upaya mendekatkan mahasiswa dengan dunia profesional juga terlihat dari rangkaian kegiatan pendukung REFRAKSI.
Pada hari pertama, digelar talkshow bertema “Mengenal Dunia Kerja & Unjuk Gigi Lewat Portofolio” dengan menghadirkan Faza Dzikrullah, Owner Hatypo Studio.
Talkshow tersebut memberikan perspektif mengenai dunia kerja di industri kreatif sekaligus pentingnya mahasiswa menyiapkan portofolio sebagai salah satu cara menunjukkan kemampuan kepada calon klien maupun industri.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa DKV yang sedang berada pada tahap awal membangun identitas kreatif. Karya tugas kuliah tidak lagi berhenti sebagai tugas untuk mendapatkan nilai, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari rekam jejak kemampuan yang nantinya dibawa ke dunia profesional.
REFRAKSI juga memperluas ruang belajar melalui workshop “Introduction to Digital Drawing” yang berkolaborasi dengan HUION Indonesia.
Workshop menghadirkan dua narasumber profesional, Aris Naka Abe dan Frederico Bayu Murti, serta secara khusus ditujukan bagi siswa SMK di Kota Surakarta.
Melalui kegiatan tersebut, REFRAKSI tidak hanya mempertemukan mahasiswa dengan praktisi industri, tetapi juga membuka ruang berbagi pengetahuan kepada calon generasi kreatif yang masih berada di jenjang sekolah.
Materi digital drawing menjadi pintu masuk untuk mengenalkan teknik dasar digital art sekaligus melihat peluang berkarya di bidang desain sejak dini.
Dari Tugas Kuliah Menjadi Bekal Profesional
Tingginya antusiasme pengunjung selama pameran menunjukkan bahwa karya-karya mahasiswa semester dasar dapat menjadi ruang apresiasi sekaligus pembelajaran publik.
Bagi mahasiswa, REFRAKSI menjadi titik penting untuk melihat kembali perjalanan satu tahun pertama mereka. Dari tugas menggambar, tipografi, ilustrasi, hingga karya berbasis teknologi digital, semuanya menjadi bagian dari proses membangun kemampuan visual dan menemukan karakter kreatif.
Lebih jauh, pengalaman mengelola pameran memberikan dimensi pembelajaran lain yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membuat desain.
Mahasiswa belajar menyusun konsep, memilih dan mengkurasi karya, bekerja dalam tim, mengelola acara, berkomunikasi dengan publik, hingga mempromosikan kegiatan.
Di titik inilah REFRAKSI memiliki makna lebih dari sekadar pameran tugas mata kuliah. 86 karya yang dipajang menjadi jejak perkembangan mahasiswa, sementara proses di balik pameran menjadi latihan pertama untuk mengelola proyek kreatif secara nyata.
Dari cahaya yang dibiaskan menjadi spektrum warna, mahasiswa DKV FSRD ISI Surakarta Angkatan 2024 pun sedang menjalani proses serupa: menemukan warna masing-masing sebelum melangkah lebih jauh ke dunia industri kreatif. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.