Ketika Keraton Pajang Tak Lagi Riuh, Peziarah Datang Membawa Doa dan Cerita
Keraton Pajang bukan sekadar nama yang tersisa dalam buku sejarah. Bagi orang-orang yang menjaga petilasan ini, cerita tentang kerajaan tersebut merupakan bagian dari warisan yang perlu terus...
NUMLIT, SUKOHARJO — Tidak ada suara riuh wisatawan. Tidak terlihat antrean panjang untuk berfoto. Tak tampak pula hiruk-pikuk seperti yang biasa ditemukan di sejumlah destinasi wisata sejarah.
Table Of Content
Di Sono Jiwo, Makamhaji, Sukoharjo, suasana justru berjalan pelan. Di tempat inilah petilasan Keraton Pajang berada. Sebuah tempat yang menyimpan jejak sejarah Kerajaan Pajang, tetapi kini lebih banyak didatangi orang-orang yang datang dengan tujuan berbeda yakni berdoa, berziarah, atau melakukan tirakat.
Kesunyian justru menjadi bagian dari kehidupan petilasan tersebut. Di sana, orang datang bukan untuk mengejar keramaian. Mereka datang membawa persoalan masing-masing. Ada yang memanjatkan doa, berharap urusannya dilancarkan, atau sekadar mencari ruang untuk menenangkan diri.
Selama bertahun-tahun, tempat itu dijaga Jasmin, 73 tahun. Ia menjadi juru kunci sekaligus salah satu orang yang menyaksikan bagaimana petilasan tersebut tetap didatangi masyarakat meski tidak menawarkan kemasan wisata sebagaimana destinasi pada umumnya.
Tidak ada tiket masuk. Tidak ada tarif khusus. Pengunjung biasanya memberikan uang secara sukarela.
“Di sini saya tidak dibayar. Kebanyakan yang datang ke sini ngasih seikhlasnya. Kalau bahasa kasarnya saya seperti pengemis yang meminta uang, tapi saya masih punya harga diri,” ujar Jasmin, saat diwawancarai Rabu (2/9/2026).
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan sisi lain dari keberlangsungan sebuah situs yang tidak hidup dari tiket wisata.
Petilasan bertahan dari kepedulian orang-orang yang datang, orang-orang yang menjaga, serta mereka yang masih merasa memiliki hubungan dengan cerita yang tersimpan di dalamnya.
Datang Bukan untuk Berwisata
Bagi sebagian pengunjung, petilasan Kraton Pajang bukan sekadar lokasi bersejarah. Mereka datang untuk menjalani aktivitas spiritual.
Menurut Jasmin, pengunjung memiliki beragam tujuan. Sebagian datang untuk berdoa dan memohon kelancaran dalam menghadapi persoalan atau urusan yang sedang dijalani.
Karena itu, suasana petilasan lebih banyak diwarnai aktivitas ziarah dan tirakat daripada kegiatan wisata. Ada pula pengunjung dari kalangan mahasiswa.
Jasmin menyebut mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta pernah datang dan melakukan tirakat dalam waktu cukup lama. Salah satunya bahkan disebut menjalani tirakat hingga 12 hari.
Cerita semacam itu menunjukkan bahwa keberadaan petilasan masih memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat modern.

Ketika banyak tempat bersejarah berusaha menarik pengunjung melalui berbagai atraksi, petilasan Keraton Pajang justru bertahan dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana yaitu cerita sejarah dan pengalaman batin orang-orang yang datang kepadanya.
Sejarah yang Menolak Hilang
Keraton Pajang bukan sekadar nama yang tersisa dalam buku sejarah. Bagi orang-orang yang menjaga petilasan ini, cerita tentang kerajaan tersebut merupakan bagian dari warisan yang perlu terus disampaikan.
Jasmin menyebut kisah mengenai Kerajaan Pajang bahkan telah dikenal hingga luar Pulau Jawa. Namun, tantangan terbesar sebuah situs sejarah bukan semata-mata bagaimana mempertahankan bangunannya.
Ada tantangan lain yang lebih sunyi. Bagaimana membuat ceritanya tetap hidup. Sebab, sebuah tempat dapat tetap berdiri, tetapi kehilangan makna ketika generasi berikutnya tidak lagi mengetahui cerita yang berada di baliknya.
Kesadaran itulah yang juga menjadi perhatian Darmanto, salah seorang yang turut membantu menjaga kawasan petilasan.
Menurutnya, merawat petilasan bukan hanya soal menjaga lokasi secara fisik. Cerita mengenai awal berdirinya Kerajaan Pajang hingga pengaruhnya terhadap perjalanan sejarah Indonesia juga perlu terus disampaikan kepada generasi berikutnya.
Bagi Darmanto, cerita tersebut merupakan bagian penting dari proses alih generasi.
Malam Jumat Kliwon dan Tradisi yang Bertahan
Di tengah suasana yang relatif sepi, tradisi masyarakat masih menjadi salah satu cara menjaga denyut kehidupan petilasan.
Salah satunya adalah ritual malam Jumat Kliwon yang diisi dengan kegiatan bancaan.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan kebiasaan masyarakat sekaligus mengenalkan kembali keberadaan petilasan kepada publik.
Kegiatan itu juga mendapat dukungan dari masyarakat maupun pihak yang memiliki perhatian terhadap keberlangsungan petilasan.
Salah satunya Bambang, pengusaha asal Klaten, yang disebut memberikan bantuan untuk mendukung kegiatan dan upaya nguri-uri keberadaan peninggalan Kerajaan Pajang.
Dukungan semacam itu menjadi penting bagi situs yang tidak bertumpu pada model wisata komersial.
Menjaga Sejarah Berarti Bertahan Hidup
Ada sisi lain dari cerita petilasan Kraton Pajang yang jarang terlihat oleh pengunjung. Orang-orang yang membantu merawatnya juga harus menjalani kehidupan sehari-hari.
Darmanto, misalnya, tidak hanya memikirkan bagaimana kawasan tersebut tetap terawat. Ia juga berupaya mencari ruang untuk bekerja.
Ia bahkan meminta agar lahan di sekitar kawasan dapat dimanfaatkan sebagai tempat mencuci kendaraan.
Di sini, pelestarian sejarah bertemu dengan persoalan yang sangat sehari-hari. Bagaimana orang yang ikut menjaga peninggalan sejarah tetap dapat menghidupi dirinya.
Persoalan tersebut membuat upaya mempertahankan situs sejarah tidak sesederhana menjaga bangunan dan membersihkan halaman.
Ada manusia di baliknya. Ada juru kunci yang bertahun-tahun menjaga tempat. Ada warga yang membantu. Ada masyarakat yang datang. Ada pula orang-orang yang menyumbangkan tenaga maupun dukungan agar tradisi tidak berhenti.
Petilasan Keraton Pajang mungkin tidak menawarkan keramaian. Namun, kesunyian bukan berarti tempat itu kehilangan kehidupan.
Setiap pengunjung yang datang membawa doa, setiap orang yang melakukan tirakat, setiap tradisi malam Jumat Kliwon yang tetap dijalankan, dan setiap cerita sejarah yang kembali disampaikan merupakan tanda bahwa ingatan tentang tempat tersebut belum sepenuhnya hilang.
Justru di tengah derasnya perkembangan destinasi wisata, keberadaan petilasan seperti Keraton Pajang mengingatkan bahwa warisan sejarah tidak selalu bertahan karena dikemas menjadi objek wisata.
Sebagian bertahan karena masih dipercaya, dikunjungi, diceritakan, dan dirawat.
Di Sono Jiwo, Makamhaji, sejarah itu tidak berteriak meminta perhatian. Ia menunggu dalam kesunyian. Menunggu orang datang untuk mendengar cerita, memanjatkan doa, atau sekadar mengingat bahwa pernah ada sebuah kerajaan yang jejaknya masih tersisa di tempat itu.
Dan selama masih ada orang yang mau menjaga serta menceritakannya kepada generasi berikutnya, Keraton Pajang mungkin memang tidak pernah benar-benar sepi.



No Comment! Be the first one.