Lewat SWARUPA 2026, Publik Diajak Menemukan Diri Lewat Seni
Beragam karya dipamerkan dalam SWARUPA 2026, Pameran Seni Rupa Nasional yang digelar di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Minggu-Kamis (13–17/9/2026).
Prof. Dr. M. Baiquni, M.A. (istimewa) NUMLIT, JOGJA — Sebuah gunung yang pernah mengguncang ingatan kolektif bangsa hadir dalam tiga lukisan. Pagi, Siang, dan Malam Anak Krakatau.
Table Of Content
Bukan sekadar lanskap alam, tiga karya tersebut menjadi bagian dari cara seorang akademisi sekaligus perupa membaca hubungan manusia dengan alam, perubahan zaman, dan pengalaman hidup. Karya-karya itu dipamerkan dalam SWARUPA 2026, Pameran Seni Rupa Nasional yang digelar di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Minggu-Kamis (13–17/9/2026).
SWARUPA tidak berhenti pada upaya memajang karya seni. Pameran ini membawa gagasan lebih jauh yaitu bagaimana manusia menemukan dirinya, membaca zaman, dan menghidupkan kembali kebudayaan melalui karya.
Gagasan tersebut tercermin dari nama SWARUPA, yang berasal dari kata swa yang berarti diri dan rupa yang berarti bentuk atau wujud. Dengan demikian, SWARUPA dapat dimaknai sebagai “wujud diri” atau proses ketika seseorang menemukan bentuk dirinya melalui karya seni.
Di ruang pamer, gagasan itu diterjemahkan melalui karya-karya dengan latar pengalaman, kegelisahan, imajinasi, dan cara pandang yang beragam.
Tiga Wajah Anak Krakatau
Salah satu karya yang menarik perhatian berasal dari seorang profesor yang juga berkecimpung sebagai dosen Sustainable Tourism dan menempuh pendidikan doktoral bidang pariwisata di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A.

Ia menghadirkan tiga lukisan yang mengambil objek Anak Krakatau, masing-masing merekam suasana pagi, siang, dan malam.
Pilihan objek tersebut seolah mengajak penonton melihat alam bukan hanya sebagai pemandangan, tetapi sebagai ruang yang menyimpan pengalaman dan ingatan.
Gunung dan lanskap alam dapat menjadi lebih dari sekadar objek visual. Ia menjadi medium untuk membaca bagaimana manusia hidup berdampingan dengan ruang, menghadapi perubahan, sekaligus memahami posisi dirinya di tengah alam yang terus bergerak.
Dalam konteks SWARUPA, karya semacam itu menjadi relevan dengan gagasan bahwa pengalaman manusia tidak pernah lahir di ruang kosong. Lingkungan, tempat, sejarah, perubahan sosial, hingga fenomena ekologis turut membentuk cara seorang seniman memandang dunia.
Karena itu, sebuah lukisan dapat dibaca sebagai semacam rekaman kultural suatu ruang.
Seni Tidak Harus Memberikan Jawaban Tunggal
Gagasan tersebut semakin kuat dalam orasi kebudayaan yang disampaikan Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., dalam pembukaan SWARUPA 2026.
Baiquni mengajak publik melihat pameran bukan sekadar tempat untuk memajang benda seni, melainkan ruang perjumpaan antara gagasan seniman dan pengalaman pengunjung.
Menurutnya, seni rupa merupakan bahasa yang tidak selalu berbicara melalui kalimat. Ia dapat berbicara melalui rupa, warna, tekstur, ruang, simbol, imajinasi, bahkan keheningan.
Karena itu, satu karya dapat melahirkan tafsir berbeda ketika bertemu dengan orang yang berbeda.
“Sebuah karya seni pada hakikatnya bukan sekadar benda. Ia adalah pengalaman manusia yang diberi bentuk,” ujar dia, Minggu (13/9/2026).

Dalam orasinya, Baiquni juga menekankan bahwa SWARUPA tidak menawarkan satu jawaban mutlak. Pengunjung datang membawa pengalaman, pengetahuan, dan latar belakang masing-masing. Dari perjumpaan itulah makna baru dapat muncul. Bagi Baiquni, kekuatan seni justru terletak pada kemampuannya membuka dialog.
Dari Swarupa Menuju Swadaya dan Swasembada
Orasi tersebut kemudian membawa gagasan SWARUPA ke wilayah yang lebih luas. Baiquni melihat perjalanan kebudayaan tidak seharusnya berhenti pada kemampuan seseorang menemukan dirinya.
Setelah menemukan diri, manusia perlu menemukan sesama, masyarakat, lingkungan, bangsa, hingga tanggung jawab terhadap masa depan.
Ia merumuskannya dalam tiga tahapan yaitu Swarupa atau menemukan diri, Swadaya atau membangun kemampuan bersama, dan Swasembada yang dapat diartikan menjadi mandiri serta memberikan manfaat bagi sesama dan semesta.
Di titik tersebut, seni tidak lagi hanya berbicara mengenai ekspresi individual. Seni dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama.
“Jika kebudayaan hanya menghasilkan benda, kita akan memiliki koleksi. Jika kebudayaan menghasilkan pertunjukan, kita akan memiliki tontonan. Tetapi jika kebudayaan menghasilkan kesadaran, maka kita sedang membangun peradaban,” pesan Baiquni.
Pesan itu menjadi salah satu gagasan utama yang dibawa dalam pembukaan SWARUPA. Baiquni juga mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak cukup diukur dari kemampuan membangun gedung dan teknologi.
Bangsa yang besar, menurut gagasan yang disampaikannya, adalah bangsa yang mampu menjaga ingatan, merawat kebudayaan, menghargai para pencipta, serta mewariskan kemanusiaan kepada generasi berikutnya.
Ketika Seni Bertemu Pesan Leluhur
Suasana kebudayaan dalam pembukaan SWARUPA semakin kuat dengan kehadiran Yati Pesek, maestro seni dan budayawan senior yang menjadi pembuka pameran. Pesan yang disampaikannya sederhana, tetapi berakar kuat pada nilai Jawa.

Ia mengingatkan masyarakat untuk selalu eling kepada Gusti Ingkang Mubeng Dumadi, mengingat Tuhan sebagai pencipta kehidupan.
Namun pesan itu tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan. Yati Pesek juga mengingatkan pentingnya berbakti kepada orang tua dan eyang-eyang, sekaligus tidak melupakan leluhur.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa modernitas tidak harus membuat manusia kehilangan akar budayanya.
“Eling sama Gusti Ingkang Mubeng Dumadi yang pertama, jangan lupa berbakti kepada orang tua, eyang-eyang, ingat leluhur,” kata Yati Pesek.
Harapannya, nilai tersebut tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi menjadi jalan menuju kehidupan yang bagja mulya saklawasipun.
Pameran yang Mempertemukan Masa Lalu dan Masa Depan
Pemilihan Museum Sonobudoyo sebagai ruang penyelenggaraan juga memperkuat karakter SWARUPA. Museum merupakan ruang yang menyimpan ingatan panjang kebudayaan Yogyakarta dan Nusantara. Namun dalam konsep SWARUPA, masa lalu tidak diposisikan sebagai sesuatu yang harus membebani masa depan.
Sebaliknya, tradisi dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan masa depan. Teknologi dapat digunakan tanpa kehilangan kemanusiaan. Dunia global dapat dimasuki tanpa harus kehilangan identitas lokal. Karena itulah SWARUPA mempertemukan seni rupa dengan berbagai elemen kebudayaan.
Pembukaan pameran juga menghadirkan Srikandi Pendapa Asdraft, Guyub Organic, El Nathan, Yati Pesek Java Classic Dance, serta aksi painting on the spot oleh Heru Dodot dan Oswald AW.
Sementara catatan kuratorial pameran disampaikan Dr. Drs. Hajar Pamadhi, MA (Hons) dan motivasi seni rupa oleh M. Lugas Syllabus, S.Sn.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pameran tidak hanya ingin memperlihatkan karya, tetapi juga menciptakan ruang perjumpaan antara seniman, akademisi, budayawan, mahasiswa, kolektor, komunitas, dan masyarakat umum.
Ketika Seni Menjadi Cara Membaca Zaman
Pada akhirnya, SWARUPA 2026 membawa satu pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar bagaimana sebuah karya dibuat. Manusia seperti apa yang ingin dibangun melalui kebudayaan?
Di tengah perubahan sosial yang cepat, arus informasi, teknologi digital, dan berbagai persoalan lingkungan, seni masih memiliki ruang penting untuk menggali, mengamati, mempertanyakan, mempertemukan, sekaligus merefleksikan kehidupan.
Tiga lukisan Anak Krakatau, misalnya, dapat dilihat bukan hanya sebagai tiga lanskap berbeda dalam satu hari. Ia dapat menjadi cara untuk membaca alam, perubahan, ingatan, dan posisi manusia di dalamnya.
Pesan Yati Pesek mengingatkan manusia agar tidak kehilangan akar. Sementara gagasan Baiquni mengajak manusia melangkah lebih jauh. Dari menemukan diri menuju kemampuan membangun kehidupan bersama.
Di situlah SWARUPA mencoba menempatkan seni. Bukan sekadar benda yang dipandang. Bukan sekadar pertunjukan yang ditonton. Melainkan ruang untuk menemukan diri, membaca zaman, merawat ingatan, membangun dialog, dan pada akhirnya menumbuhkan kesadaran.
Sebab ketika seni mampu membuat manusia kembali bertanya tentang siapa dirinya, dari mana ia berasal, bagaimana ia memperlakukan sesamanya dan alam, serta apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya, maka karya seni telah melampaui dinding ruang pamer.
Ia mulai bekerja sebagai bagian dari kebudayaan. Dan, dari sanalah perjalanan Swarupa, Swadaya, hingga Swasembada menemukan maknanya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.