Berawal dari Pandemi dan Modal Nekat, Owner Gudeg Koyor Mercon Sumringah Sukses Bawa Kuliner Solo Tembus Jakarta
Gudeg Koyor Mercon Sumringah menghadirkan gudeg versi berbeda yang lebih gurih, lebih ramah di lidah banyak orang, dan tetap memiliki karakter khas Solo.
NUMLIT, SURAKARTA — Di tengah situasi pandemi Covid-19 tahun 2020, saat banyak usaha berhenti dan banyak orang kehilangan pekerjaan, Hapsari Chandra Dewi justru mengambil langkah yang berbeda.
Table Of Content
Berbekal modal terbatas dan resep keluarga, ia membangun usaha kuliner bernama Gudeg Koyor Mercon Sumringah.
Usaha yang kini memiliki cabang di Solo dan Jakarta itu ternyata bermula dari outlet kecil di kawasan Sumber, Surakarta. Saat itu, Hapsari sengaja membuka usaha bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk membantu warga sekitar yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi.
“Waktu pandemi banyak tetangga yang menganggur. Akhirnya saya buka usaha kecil-kecilan dan mengajak mereka ikut bekerja,” ujarnya, saat ditemui di outletnya, Kamis (7/5/2026).
Siapa sangka, langkah sederhana itu perlahan berkembang menjadi bisnis kuliner yang dikenal luas. Setelah berpindah ke kawasan Kerten, Surakarta pada 2021, Gudeg Koyor Mercon Sumringah terus memperluas pasar hingga akhirnya membuka cabang di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta.
Gudeg dengan Cita Rasa Solo
Hapsari mengaku sengaja memilih gudeg sebagai identitas usahanya, meski makanan tersebut lebih identik dengan Yogyakarta. Namun ia ingin menghadirkan versi berbeda yang lebih gurih, lebih ramah di lidah banyak orang, dan tetap memiliki karakter khas Solo.
“Tidak semua orang suka gudeg yang manis. Kami membuat versi yang lebih gurih supaya bisa dinikmati lebih banyak kalangan,” katanya.

Keunikan utama menu mereka terletak pada kombinasi gudeg dengan koyor pedas atau “mercon”. Ide itu muncul setelah melihat tren masyarakat yang menyukai makanan pedas.
“Gudegnya tetap autentik, tapi kami tambahkan sensasi koyor pedas supaya beda dari yang lain,” jelasnya.
Tak hanya gudeg, outlet tersebut juga menghadirkan beragam kuliner tradisional Solo seperti lontong opor, jenang tumpang, hingga paket hantaran khas Jawa dengan kemasan rotan dan plating daun pisang agar nuansa tradisional tetap terasa.
“Kami ingin orang datang bukan sekadar makan, tapi merasakan pengalaman menikmati sajian khas Solo seperti di rumah sendiri,” tambahnya.
Dari Dunia Media ke Bisnis Kuliner
Perjalanan Hapsari membangun usaha ternyata tak lepas dari pengalaman masa mudanya. Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada Jogja itu pernah magang di dunia televisi nasional seperti Metro TV, tvOne, hingga Trans TV.
Ilmu komunikasi, pemasaran, hingga media handling yang ia pelajari justru banyak membantu saat membangun bisnis kuliner dan batik yang kini dijalaninya.
“Kalau hanya bisa masak belum tentu bisa menjual produk. Di bisnis kuliner, rasa penting, tapi strategi marketing dan storytelling juga penting,” ujarnya.
Karena itu, ia aktif mengikuti pameran dan jejaring bisnis, termasuk bergabung dengan Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI). Melalui berbagai event seperti INACRAFT dan festival kuliner di Jakarta Convention Center, nama Gudeg Koyor Mercon Sumringah mulai dikenal lebih luas.
Dalam salah satu pameran di Jakarta, penjualan mereka bahkan mampu mencapai sekitar 300 porsi per hari.
“Dari situ kami melihat pasar Jakarta ternyata sangat terbuka untuk kuliner tradisional Solo,” katanya.
Kesuksesan itu juga menarik perhatian sejumlah pihak, termasuk perbankan. Hapsari menyebut usahanya kini menjadi mitra BRI untuk berbagai dukungan pengembangan usaha.
Bertahan di Tengah Persaingan Kuliner
Meski berkembang pesat, Hapsari mengakui tantangan bisnis kuliner tidak pernah mudah. Persaingan dengan brand legendaris yang sudah puluhan tahun berdiri menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, ia dan tim rutin melakukan benchmarking terhadap produk sejenis untuk mengetahui posisi bisnis mereka di pasar.
“Kami harus terus berinovasi. Jangan hanya jual makanan, tapi juga pengalaman dan kreativitas,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Manajer Outlet, Titik Rondiyah, yang menyebut pengelolaan bisnis kuliner modern membutuhkan kemampuan yang kompleks, mulai dari pengelolaan SDM, media sosial, hingga strategi promosi digital.
“Sekarang tantangannya bukan cuma soal rasa, tapi bagaimana membuat brand tetap relevan dan dekat dengan pelanggan,” katanya.

Pesan untuk Anak Muda yang Ingin Memulai Usaha
Di balik kesuksesan bisnisnya, Hapsari juga membagikan sejumlah pesan bagi anak muda yang ingin merintis usaha.
Menurutnya, hal pertama yang harus dimiliki adalah akar dan identitas usaha yang kuat. Ia menilai bisnis yang memiliki cerita dan nilai khas akan lebih mudah bertahan dibanding sekadar mengikuti tren.
“Jangan hanya ikut tren sesaat. Harus ada sejarah atau identitas yang dibangun dalam bisnis kita,” ujarnya.
Selain itu, disiplin juga menjadi kunci penting dalam menjalankan usaha, terutama menjaga kualitas produk dan memahami pengelolaan keuangan.
“Pebisnis tidak boleh malas dengan angka. Karena bisnis itu pasti berkutat dengan hitungan dan evaluasi,” katanya.
Hal lain yang tak kalah penting adalah membangun jaringan atau networking. Menurut Hapsari, bergabung dengan komunitas maupun organisasi bisa membuka banyak peluang baru.
“Dari networking kita dapat insight, peluang, bahkan dukungan moral untuk terus berkembang,” tandasnya.
Tak kalah penting, ia mengingatkan bahwa dunia usaha selalu memiliki dua kemungkinan: untung atau rugi. Karena itu, mental untuk bangkit dan melakukan evaluasi harus dimiliki setiap pelaku usaha.
“Kalau rugi jangan langsung berhenti. Harus segera bangkit dan evaluasi,” ujarnya.
Namun ketika usaha sedang berkembang dan menghasilkan keuntungan, Hapsari percaya ada nilai lain yang tidak boleh dilupakan, yakni spiritualitas dan berbagi kepada sesama.
“Kalau sedang cuan jangan lupa banyak bersedekah. Bisnis menurut saya sangat terkait dengan nilai spiritual. Kita tidak pernah tahu besok dapat rezeki dari mana dan sebesar apa. Sedekah itu cara menjaga keberkahan harta sekaligus membuka pintu rezeki dari arah yang kadang tidak terduga,” katanya.
Dengan semangat tersebut, Gudeg Koyor Mercon Sumringah kini tak hanya menjadi usaha kuliner, tetapi juga simbol bagaimana kreativitas, konsistensi, dan keberanian membaca peluang mampu mengubah masa sulit menjadi cerita sukses. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.