Wisuda, Feodalisme, dan Ilusi Kedewasaan
Esai ini ditulis oleh Candranata, siswa kelas XII SMA Al Islam 1 Surakarta, Jawa Tengah.
NUMLIT, SURAKARTA — Secara esensial, seremoni wisuda atau pelepasan SMA adalah sebuah euforia peralihan yang menandai berakhirnya masa belajar di Sekolah Menengah Atas.
Ia dikonstruksi sebagai gerbang menuju kedewasaan dan realita yang sebenarnya. Akan tetapi, jika kita menelisik lebih dalam lagi, perayaan ini seringkali tidak lepas dari bayang-bayang feodalisme.
Terdapat hierarki semu yang dirayakan; para siswa dibariskan layaknya kawula, mengenakan atribut, menanti legitimasi dari para pemegang otoritas sekolah. Layaknya kita berjalan di atas rel yang sudah dibangun orang lain, menanti stasiun akhir yang ternyata sekadar peron kosong.
Pelepasan seringkali diglorifikasi sebagai puncak pendakian. Euforia yang meluap dan derai air mata kebanggaan dibangun secara sosial sebagai klimaks dari sebuah narasi heroik. Namun, ketika momen-momen ini tiba, tak jarang kita sebagai pelajar merasa perayaan demikian ini begitu datar.
Perjalanan intelektual di bangku SMA terasa begitu cepat, mekanis, dan berakhir pada sebuah titik yang seolah tidak seistimewa jargon usang yang sering didengungkan: “masa-masa SMA adalah masa terindah.”
Jika kita membedah perjalanan akademik ini ke belakang, wajar jika rasa hambar begitu padat. Di sinilah letak anomali sistem pendidikan kita, yang melenceng jauh dari gagasan Paulo Freire mengenai pendidikan sebagai praktik pembebasan.
Alih-alih membebaskan kesadaran dan memanusiakan manusia, sekolah lebih sering mempraktikkan “sistem bank”—sebuah mekanisme di mana siswa direduksi menjadi wadah pasif yang terus-menerus didikte oleh dogma dan akan ditimpa sanksi formal maupun sanksi sosial jika pemikiran maupun tindakan kita dianggap menyalahi moral mayoritas. Kebebasan berpikir dikebiri demi citra publik dan administrasi akreditasi institusi.
Jika kita sambungkan dengan pemikiran Franz Kafka, dia telah lama memotret absurditas ini dalam suatu realita dari rutinitas masyarakat: hari-hari yang dihabiskan di balik tumpukan tugas, menafsirkan teks-teks baku, dan menghafalkan deretan teori yang mungkin tak akan bersentuhan dengan realitas masa depan. Secara perlahan, institusi mengubah kita menjadi sekrup kecil dalam mesin birokrasi raksasa.
Kembali pada hiruk-pikuk pelepasan, di tengah gedung yang gegap gempita, muncul sebuah kesadaran baru: euforia kelulusan pada hakikatnya adalah gema dari mentalitas kawanan (herd mentality).
Friedrich Nietzsche dengan tajam akan memaki perayaan ini sebagai sebentuk afirmasi massal terhadap nilai-nilai yang dipaksakan oleh masyarakat.
Kelulusan SMA pada akhirnya terasa seperti momen dalam cerita Kafka, di mana seorang tahanan akhirnya dibebaskan, namun ia justru merasa lunglai karena tidak tahu cara hidup di realita yang sebenarnya—di luar jeruji rutinitas.
Kehampaan ini muncul dari kesadaran bahwa ikatan afeksi yang terjalin samar, tawa di kantin, dan kompetisi nilai hanyalah dekorasi panggung yang kini dibongkar paksa lantaran kontrak sosial telah usai.
Perasaan kecewa akan wajar terasa kalau ternyata “pencapaian” ini tidak mengubah apa pun di dalam diri kita; kita tetaplah sosok yang sama, yang kini hanya berpindah dari satu gerbong birokrasi bernama sekolah, menuju gerbong lainnya di dunia luar.
Kekecewaan yang terbit di balik pakaian kelulusan justru merupakan kesadaran terhadap ilusi tersebut. Hal demikian ini patut disyukuri sebab hal semacam ini ialah momen saat kita menyadari bahwa medali dan atribut pelepasan tidak memiliki nilai inheren apa pun, selain dari ilusi makna yang kita proyeksikan kepada suatu kelompok institusi.
Seperti seruan Nietzsche untuk melampaui kondisi manusia menuju Übermensch (Manusia Unggul), ketiadaan makna di hari kelulusan adalah sebuah kanvas kosong.
Kita dituntut untuk menghancurkan nilai-nilai usang—termasuk tuhan baru yang sering kita kenal dengan “prestise akademis”—dan mulai memahat makna kita sendiri secara berdaulat tanpa harus terbebani dengan kompetisi usang demi mendapatkan status akademik, entah sebagai siswa berprestasi ataupun siswa unggul.
Perjalanan sebagai insan pelajar di tengah realitas sesungguhnya tidak berhenti dengan pelepasan atribut institusi atau gelar-gelar semacam itu. Pelepasan SMA bukanlah sebuah akhir penentu kesuksesan kita, melainkan sekadar bunyi lonceng yang menandakan bahwa kita tidak lagi dilindungi oleh legitimasi institusi.
Ketiadaan euforia adalah sebuah kesadaran bagi insan pelajar yang bebas, ia menjaga kita agar tidak terbawa arus oleh perayaan semu, dan mengingatkan bahwa hidup harus dimaknai lewat penentuan nasib sendiri, bukan lewat legitimasi feodal maupun tepuk tangan orang lain di hari perayaan.
Esai ini ditulis oleh Candranata, siswa kelas XII SMA Al Islam 1 Surakarta, Jawa Tengah.



No Comment! Be the first one.