Guru Besar UGM ini Sebut Orang Indonesia Punya “Gaya Sendiri” saat Berbahasa Inggris
Orang Indonesia cenderung tetap membawa nilai-nilai lokal seperti kesopanan, keharmonisan, dan penghormatan kepada lawan bicara, meski sedang menggunakan bahasa asing.
NUMLIT, JOGJA — Kemampuan masyarakat Indonesia dalam berbahasa Inggris ternyata tidak sekadar soal grammar atau pelafalan. Di balik cara berbicara orang Indonesia, tersimpan identitas budaya yang ikut terbawa hingga ke percakapan internasional.
Hal itulah yang disoroti Prof. Dr. Aris Munandar saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pragmatik Inggris di Universitas Gadjah Mada, Kamis (7/5/2026).
Dalam pidatonya yang berjudul Kompetensi Pragmatik Bahasa Inggris dalam Konteks Masyarakat Multilingual Indonesia, ia menegaskan bahwa masyarakat Indonesia memiliki karakter khas ketika menggunakan bahasa Inggris.
Menurut Aris, orang Indonesia cenderung tetap membawa nilai-nilai lokal seperti kesopanan, keharmonisan, dan penghormatan kepada lawan bicara, meski sedang menggunakan bahasa asing.
Hal itu terlihat dari cara menyampaikan pendapat, meminta maaf, hingga menjaga hubungan interpersonal dalam percakapan sehari-hari.
“Karakteristik bahasa Inggris yang digunakan masyarakat Indonesia memiliki kekhasan yang dipengaruhi bahasa Indonesia dan bahasa daerah,” ujarnya, dikutip dari ugm.ac.id.
Fenomena tersebut, kata Aris, muncul karena masyarakat Indonesia sejak lama hidup dalam lingkungan multilingual dengan ratusan bahasa daerah yang digunakan berdampingan. Kondisi itu membentuk pola komunikasi yang lebih lentur dan adaptif terhadap perbedaan budaya.
Ia menilai, pengalaman hidup dalam masyarakat multibahasa justru menjadi modal penting di era komunikasi global saat ini. Sebab, bahasa Inggris modern tidak lagi dimonopoli negara-negara penutur asli seperti Inggris atau Amerika Serikat.
“Bahasa Inggris bukan lagi bahasa yang monolingual, melainkan pluralistis,” kata Aris.
Dalam pandangannya, dunia saat ini sedang bergerak menuju realitas baru di mana komunikasi internasional lebih sering terjadi antarsesama penutur non-native speaker. Karena itu, kemampuan memahami konteks budaya dan menjaga relasi sosial menjadi sama pentingnya dengan penguasaan tata bahasa.
Aris juga mengkritik sistem pembelajaran bahasa Inggris yang masih terlalu terpaku pada standar penutur asli. Menurutnya, orientasi tersebut membuat variasi bahasa Inggris dari negara-negara lain, termasuk Indonesia, sering dianggap kurang ideal.
Padahal, penggunaan bahasa Inggris di tiap negara berkembang sesuai konteks sosial dan budaya masyarakatnya masing-masing.
“Bahasa Inggris yang dituturkan masyarakat Indonesia masih kurang mendapat perhatian,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa kemampuan berbahasa Inggris seharusnya tidak hanya diukur dari ketepatan struktur kalimat, tetapi juga dari kemampuan memahami situasi sosial dan budaya lawan bicara. Dengan begitu, komunikasi global bisa berlangsung lebih efektif dan manusiawi.
Bagi Aris, masyarakat Indonesia justru memiliki kekuatan tersendiri dalam komunikasi internasional karena terbiasa hidup di tengah keberagaman bahasa dan budaya. Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak merasa minder dengan aksen maupun gaya komunikasi lokal saat menggunakan bahasa Inggris.
“Masyarakat Indonesia tidak boleh terjebak pada orientasi monolingualisme,” pungkasnya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.