Dari Murojaah hingga Mahkota untuk Orang Tua, Wisuda Tahfiz Ini Penuh Haru
Wisuda tahfiz bukan hanya tentang capaian hafalan, tetapi juga pembentukan karakter dan spiritualitas siswa.
NUMLIT, SURAKARTA — Suasana Ballroom The Alana Hotel Solo, Jawa Tengah, mendadak hening saat lampu ruangan dipadamkan.
Di tengah suasana temaram, puluhan siswa SMP berjalan perlahan mendekati orang tua mereka sambil membawa mahkota dan surat cinta. Tak sedikit orang tua yang mulai menitikkan air mata.
Momen emosional itu menjadi bagian paling menyentuh dalam Wisuda Tahfiz Al-Qur’an SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta yang digelar Sabtu (16/5/2026).
Sebanyak 67 siswa mengikuti prosesi wisuda bertema “Membentuk Generasi Rabbani dengan Al-Qur’an”.
Bukan sekadar seremoni kelulusan hafalan, acara ini menjadi ruang apresiasi atas perjalanan panjang siswa dan keluarga dalam membersamai proses menghafal Al-Qur’an.
Sebelum prosesi pemberian mahkota, panitia memutar video dokumentasi perjuangan para siswa selama mengikuti program tahfiz. Mulai dari murojaah, setoran hafalan, hingga perjuangan menjaga konsistensi belajar di tengah aktivitas sekolah.

Saat para siswa memasangkan mahkota kepada orang tua masing-masing, suasana ballroom berubah penuh haru. Banyak wali murid tak kuasa menahan tangis ketika menerima surat cinta dari anak-anak mereka.
Dalam wisuda tersebut, capaian hafalan siswa beragam, mulai juz 1 hingga juz 29. Sebagian besar siswa berhasil menyelesaikan hafalan di juz 28 dan 29. Bahkan terdapat siswa yang mencapai hafalan hingga 12 juz.
Prestasi terbaik diraih oleh Juhaina Yafi’ah Fadhila sebagai wisudawan terbaik pertama dan Afham Rais Faizullah Swandono sebagai wisudawan terbaik kedua.
Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta, Abdul Kholiq Hasan, yang hadir dalam acara tersebut menegaskan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi anak menghafal Al-Qur’an.
Menurutnya, keberhasilan anak menjadi penghafal Quran tidak bisa dilepaskan dari dukungan orang tua di rumah.
“Kalau ingin anak mampu menghafal Al-Qur’an, maka orang tua juga harus punya komitmen untuk membersamai,” ujarnya.
Ia menyebut ada lima kunci penting dalam proses tahfiz, yakni murojaah harian, pendampingan keluarga, tasmi’, jadwal hafalan yang konsisten, serta doa.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah PK Kottabarat, Muhdiyatmoko, mengatakan wisuda tahfiz bukan hanya tentang capaian hafalan, tetapi juga pembentukan karakter dan spiritualitas siswa.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga memahami, menjaga, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Melalui program tahfiz tersebut, sekolah ingin menghadirkan pendidikan yang tidak hanya menekankan prestasi akademik, tetapi juga penguatan nilai religius dan kedekatan siswa dengan Al-Qur’an sejak usia remaja. (Aryanto)



No Comment! Be the first one.