Disdikbud Karanganyar Optimistis Karawitan Pelajar Terus Berkembang, Bibit Pengendang Muda Mulai Bermunculan
Di tengah gempuran budaya digital dan tren modern, minat generasi muda terhadap karawitan justru menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
NUMLIT, KARANGANYAR — Optimisme mulai tumbuh di kalangan pegiat budaya Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Di tengah gempuran budaya digital dan tren modern, minat generasi muda terhadap karawitan justru menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Hal itu terlihat dalam gelaran Festival Budaya Kabupaten Karanganyar 2026 yang menghadirkan para pelajar berbakat dengan kemampuan memainkan gamelan dan vokal tradisional yang semakin matang.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar, Heri Sutrisno S.Sn., M.M., mengatakan kualitas peserta festival tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya dari sisi jumlah peserta, tetapi juga kemampuan teknis dan kreativitas garapan yang ditampilkan para pelajar.
“Tahun ini persiapan dan kualitas peserta meningkat. Keterampilan mereka juga sudah luar biasa. Garapan-garapan yang sulit ternyata mereka juga bisa tampilkan dengan baik,” ujarnya, saat diwawancarai di Pendapa Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Kamis (21/5/2026).
Menurut Heri, peningkatan kemampuan peserta terlihat pada keberanian mereka membawakan variasi gending yang kompleks. Dalam lomba karawitan, peserta membawakan materi ketawang, ladrang, dan lancaran yang masing-masing memiliki ratusan variasi garapan.
“Pilihan guru pembimbingnya sangat variatif. Itu yang membuat tampilan peserta jadi asyik dan tidak membosankan,” katanya.
Namun yang paling membuat Disdikbud bangga, lanjut Heri, adalah munculnya bibit-bibit pengendang muda yang dinilai memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Bagian kendang selama ini dikenal sebagai salah satu unsur tersulit dalam karawitan karena membutuhkan ketepatan tempo, improvisasi, dan kemampuan memimpin permainan gamelan secara keseluruhan.
“Yang paling membanggakan justru di bagian kendang. Karanganyar punya bibit-bibit pengendang yang bagus,” ungkapnya.
Festival Budaya Karanganyar tahun ini digelar selama tiga hari, Rabu-Jumat (20-22/5/2026) dan menjadi ruang bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan seni tradisi mereka.

Pada hari kedua, Kamis (21/5/2026), festival diramaikan lomba karawitan tingkat SMP/MTs yang diikuti 19 sekolah. Mereka akan bersaing memperebutkan juara I hingga III serta juara Harapan I sampai III.
Dalam penilaian lomba, seluruh aspek menjadi perhatian dewan juri, mulai dari sajian pertunjukan, garap vokal, tabuhan ricikan, hingga kreativitas peserta dalam membawakan lagu. Untuk menjaga netralitas, panitia menghadirkan juri dari dosen karawitan Institus Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Salah satu sekolah yang turut ambil bagian adalah SMP Negeri 2 Karanganyar. Didampingi guru seni budaya Tri Suryanti S.Sn., para siswa tampil membawakan Gending Lancaran Penghijauan dan Ladrang Wirangrong.
Tri mengatakan proses latihan dilakukan cukup panjang, yakni selama tiga hingga empat bulan dengan intensitas latihan tiga hingga empat kali dalam sepekan.
“Yang paling susah itu sindenan dan kendang karena harus konsisten menjaga tempo dan membangun chemistry antarpemain,” ujarnya.
Dalam satu kelompok karawitan, seluruh pemain dituntut mampu menyatu agar sajian terdengar harmonis. Menurut Tri, tantangan terbesar bukan hanya menghafal lagu, tetapi juga membangun kekompakan dan rasa antarpemain.
Ia menyebut bagian sindenan menjadi salah satu materi paling sulit karena membutuhkan penguasaan cengkok vokal Jawa yang khas. Untuk menguasai satu tembang saja, siswa biasanya membutuhkan latihan intensif hingga satu bulan.
“Kalau vokal dan sindenan itu memang tidak mudah. Anak-anak harus benar-benar rutin latihan,” katanya.
Tiga siswa SMPN 2 Karanganyar yakni Neisya kelas 9E, Queen kelas 8D, dan Syila kelas 7H menjadi bagian dari tim yang tampil dalam festival tersebut. Sebagian siswa bahkan mengikuti les tambahan di sanggar seni di luar sekolah demi memperdalam kemampuan karawitan mereka.
Tri melihat antusiasme siswa terhadap seni tradisional terus meningkat dari tahun ke tahun. Banyaknya lomba budaya dan ruang tampil yang diberikan pemerintah daerah membuat semakin banyak siswa tertarik mengikuti ekstrakurikuler tari maupun karawitan.
“Sekarang yang ikut karawitan di sekolah kami lebih dari 30 siswa,” ujarnya.

Menurutnya, karawitan bukan sekadar kegiatan seni, tetapi juga media pendidikan karakter karena mengajarkan disiplin, kekompakan, kesabaran, dan rasa hormat terhadap budaya sendiri.
“Kita ingin meneruskan budaya Jawa, mengembangkan bakat anak-anak, sekaligus melestarikan budaya,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan generasi muda agar tidak hanya larut dalam media sosial, tetapi juga ikut menjaga tradisi daerah.
“Jangan jadi generasi muda yang hanya scrolling medsos. Mari bersama-sama melestarikan budaya,” katanya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.