Kepala BRIN Ajak Kampus Tak Sekadar Cetak Lulusan, Tapi Jadi Mesin Inovasi Bangsa
Konsep innovation university menempatkan kampus sebagai ruang tumbuh inovasi terapan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
NUMLIT, SURAKARTA — Perguruan tinggi di Indonesia dinilai tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah.
Kampus didorong menjadi pusat lahirnya inovasi, teknologi, hingga kewirausahaan yang mampu memberi dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi bangsa.
Pesan itu disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, saat membuka kegiatan Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MSA PTNBH) di Taman Balekambang Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (21/5/2026).
Dalam forum yang dihadiri pimpinan perguruan tinggi negeri badan hukum dari berbagai daerah tersebut, Arif menegaskan bahwa masa depan negara sangat ditentukan oleh kekuatan inovasi yang dibangun melalui riset dan pendidikan tinggi.
“Tidak ada cara lain bagi negara yang ingin maju secara ekonomi selain mendorong inovasi,” ujarnya.
Menurut Arif, negara-negara dengan tingkat kesejahteraan tinggi umumnya memiliki ekosistem inovasi yang kuat dan perguruan tinggi yang mampu melahirkan riset berdampak.
Ia mencontohkan Tiongkok dan Korea Selatan yang berhasil memanfaatkan bonus demografi melalui penguatan pendidikan, teknologi, dan inovasi nasional.
Indonesia sendiri dinilai masih memiliki peluang besar karena puncak bonus demografi diperkirakan terjadi pada 2030. Momentum tersebut, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk mempercepat transformasi kebijakan pendidikan tinggi dan riset nasional.
“Ini momentum penting agar riset dan pendidikan tinggi benar-benar menghasilkan dampak nyata bagi kemajuan bangsa,” katanya.
Dalam paparannya, Arif mengajak perguruan tinggi bertransformasi dari sekadar teaching university menjadi research university, lalu berkembang menuju innovation university.
Konsep innovation university, lanjutnya, menempatkan kampus sebagai ruang tumbuh inovasi terapan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
Kampus didorong memperkuat applied research, membangun pilot project industri, hingga melahirkan technopreneur dan sociopreneur dari lingkungan akademik.
“Spirit kewirausahaan teknologi dan kewirausahaan sosial harus tumbuh di kampus, mulai dari institusi, dosen, peneliti, mahasiswa hingga alumni,” jelasnya.

Ia menilai transformasi tersebut penting agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi benar-benar menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Selain itu, Arif juga menyoroti masih rendahnya investasi riset di Indonesia yang saat ini masih berada di bawah 0,3 persen dari GDP. Dampaknya terlihat pada jumlah paten nasional yang masih tertinggal jauh dibanding negara lain.
Pada 2024, jumlah paten Indonesia tercatat sekitar 15.000, sedangkan Tiongkok telah mencapai sekitar 1,8 juta paten.
“Kita perlu memperkuat pendanaan riset agar daya saing bangsa meningkat,” ujarnya.
Untuk mendukung hal tersebut, BRIN kini mendorong pengembangan BRIN Research Trust Fund sebagai skema pendanaan riset berkelanjutan yang tidak hanya bergantung pada APBN.
BRIN juga tengah membangun ekosistem inovasi nasional melalui program Rumah Inovasi Indonesia dan Rumah Inovasi Daerah. Program itu dirancang menjadi pusat layanan inovasi, inkubasi teknologi, pengelolaan kekayaan intelektual, hingga penghubung inovator dengan investor dan venture capital.
Menurut Arif, banyak ide inovatif lahir dari masyarakat maupun pelaku UMKM, tetapi sering terkendala dalam proses pengembangan dan validasi produk.
“Negara harus hadir membangun ekosistem yang mendukung inovasi,” terangnya.
Dalam kesempatan itu, Arif juga mendorong adanya jabatan fungsional peneliti di perguruan tinggi agar akademisi yang ingin fokus melakukan penelitian memiliki jalur karier yang lebih jelas.
“Kita ingin budaya riset di kampus semakin kuat dan para peneliti mendapatkan ruang yang layak untuk berkembang,” pungkasnya.
Kegiatan Majelis Senat Akademik PTNBH 2026 sendiri berlangsung di Kota Surakarta pada 21–23 Mei 2026 dan menjadi ruang diskusi strategis mengenai masa depan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi nasional di tengah tantangan global yang terus berkembang. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.