Mahasiswa Internasional Terpikat Wayang Kulit, UNS Hadirkan Pendamping Khusus
Di tengah arus internasionalisasi perguruan tinggi, UNS memperlihatkan bahwa budaya lokal tetap dapat menjadi jendela diplomasi yang efektif.
NUMLIT, SURAKARTA — Jarum jam terus bergerak menuju tengah malam. Di balik kelir, tokoh-tokoh wayang silih berganti tampil mengikuti alur lakon Pandhawa Labuh yang dimainkan dalang ternama Ki Purbo Asmoro.
Table Of Content
Iringan gamelan mengalun, sinden melantunkan tembang, sementara ratusan pasang mata larut menikmati pertunjukan dalam rangka Dies Natalis ke-50 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Di antara penonton malam itu, tampak wajah-wajah dari berbagai negara. Mereka datang bukan sekadar menyaksikan pertunjukan seni tradisi Jawa, tetapi mencoba memahami warisan budaya yang selama berabad-abad menjadi bagian dari identitas Nusantara.
Meski tak sepenuhnya memahami bahasa Jawa yang digunakan dalam pertunjukan, para mahasiswa internasional itu tetap bertahan hingga larut malam. Rahasianya ada pada sekelompok mahasiswa Program Studi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS yang bertugas menjadi “penerjemah budaya”.

Mereka bukan hanya menerjemahkan dialog dalang, tetapi juga menjelaskan makna cerita, filosofi tokoh, hingga simbol-simbol budaya yang muncul sepanjang pagelaran wayang kulit berlangsung.
Dari Solo untuk Madagaskar dan Nigeria
Bagi Aina Natacha Randriamalala, mahasiswa Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris asal Madagaskar, malam itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Untuk pertama kalinya ia menyaksikan langsung pertunjukan wayang kulit, salah satu mahakarya budaya Indonesia yang selama ini hanya ia dengar dari cerita.
“Saya jadi tahu seperti apa budaya Jawa. Melalui wayang kulit ini saya mengenal wayang, gamelan, sinden, dan unsur-unsur budaya lainnya,” ujarnya.
Namun di balik kekagumannya, Aina mengaku sempat kesulitan mengikuti alur cerita karena sebagian besar dialog menggunakan bahasa Jawa.
Kesulitan itulah yang kemudian dijembatani oleh mahasiswa Sastra Daerah UNS.
Mereka secara aktif memberikan penjelasan tentang tokoh, konflik cerita, hingga pesan moral yang terkandung dalam lakon Pandhawa Labuh.
Pendampingan tersebut membuat pengalaman menonton wayang tidak lagi sekadar menikmati visual pertunjukan, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Menjadi Penerjemah Budaya
Muhammad Syaifulloh, salah satu mahasiswa Sastra Daerah FIB UNS yang bertugas mendampingi mahasiswa internasional, mengatakan dirinya bersama sembilan mahasiswa lainnya mendapat amanah khusus dari panitia.
Mereka menjadi fasilitator yang membantu mahasiswa asing memahami jalannya pertunjukan.
“Kami ditugaskan untuk memfasilitasi mahasiswa internasional yang mengalami kesulitan memahami cerita yang disampaikan dalang selama pagelaran berlangsung,” ujarnya.
Bagi Syaifulloh dan rekan-rekannya, tugas tersebut bukan sekadar menerjemahkan bahasa.
Mereka harus mampu menjelaskan konteks budaya, latar cerita pewayangan, hingga pesan-pesan kehidupan yang tersimpan dalam setiap adegan.
Ia mengaku senang melihat antusiasme mahasiswa internasional yang tetap bertahan menyaksikan pertunjukan hingga dini hari.
“Kami berupaya memberikan pengalaman terbaik agar mereka dapat memahami cerita dan pesan yang disampaikan dalam pagelaran wayang kulit,” katanya, dikutip dari laman resmi UNS, Senin (15/6/2026).
Wayang Menyatukan Berbagai Bangsa
Pengalaman serupa dirasakan Anwar Ashiru Danburji, mahasiswa Fakultas Hukum UNS asal Nigeria.
Bagi Anwar, ini bukan kali pertama dirinya menyaksikan wayang kulit. Ia juga hadir pada pagelaran Dies Natalis ke-49 UNS tahun sebelumnya.

Namun pertunjukan tahun ini memberinya pemahaman yang lebih dalam karena adanya pendampingan dari mahasiswa Sastra Daerah.
“Saya jadi mengetahui apa itu wayang, bagaimana cara memainkannya, dan cerita yang disampaikan memiliki makna yang sangat mendalam,” ujarnya.
Menurut Anwar, wayang kulit bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan media yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan, kepemimpinan, kesetiaan, dan kebijaksanaan.
Hal itu membuatnya semakin tertarik mengenal budaya Jawa secara lebih dekat.
Internasionalisasi Berbasis Budaya
Pagelaran wayang kulit Dies Natalis ke-50 UNS pada akhirnya bukan hanya menjadi perayaan ulang tahun kampus.
Lebih dari itu, acara tersebut menjelma menjadi ruang perjumpaan budaya, tempat mahasiswa dari berbagai negara dapat mengenal Indonesia melalui salah satu warisan budayanya yang paling berharga.
Kehadiran mahasiswa Sastra Daerah sebagai pendamping menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan tradisi, tetapi juga dengan menghadirkannya dalam bahasa yang dapat dipahami generasi dan masyarakat global.
Di tengah arus internasionalisasi perguruan tinggi, UNS memperlihatkan bahwa budaya lokal tetap dapat menjadi jendela diplomasi yang efektif.
Malam itu, wayang kulit tidak hanya dimainkan di atas panggung. Ia juga hidup dalam percakapan, penjelasan, dan rasa ingin tahu yang menjembatani Solo dengan Madagaskar, Nigeria, dan berbagai belahan dunia lainnya.
Sebuah bukti bahwa seni tradisi mampu menembus batas bahasa dan menjadikan budaya Jawa sebagai bahasa universal yang dipahami oleh siapa saja yang mau mendengarkan ceritanya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.