Silaturahmi Pegiat Sastra Surakarta, Ruang Merawat Denyut Sastra di Tengah Arus Zaman
Keberlangsungan sastra sangat ditentukan oleh adanya percakapan dan interaksi antarpelaku maupun penikmatnya.
NUMLIT, SURAKARTA — Di tengah derasnya arus informasi digital, para pegiat sastra di Kota Surakarta memilih merawat tradisi yang tak lekang oleh waktu yaitu bertemu, berdiskusi, dan saling menghidupkan gagasan.
Semangat itu akan diwujudkan dalam Silaturahmi Pegiat Sastra Surakarta yang digelar pada Sabtu (20/6/2026) di sekretariat Nongkrong.co, Graha Aksara, Jalan Angkasa, Gulon, Kecamatan Jebres, Surakarta, mulai pukul 18.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan yang terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya ini dirancang sebagai ruang perjumpaan bagi penulis, penyair, pembaca, akademisi, hingga masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap dunia sastra.
Penggagas kegiatan sekaligus novelis, Han Gagas, mengatakan sastra tidak dapat tumbuh dalam ruang yang sunyi.

Menurutnya, keberlangsungan sastra sangat ditentukan oleh adanya percakapan dan interaksi antarpelaku maupun penikmatnya.
“Sastra tidak tumbuh sendirian. Ia hidup karena ada perjumpaan, percakapan, dan orang-orang yang terus merawatnya. Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan ruang untuk saling mengenal, berbagi gagasan, sekaligus menjaga denyut kehidupan sastra di Surakarta,” ujar Han Gagas, Kamis (18/6/2026).
Tak sekadar menjadi ajang silaturahmi, acara ini juga akan menghadirkan sejumlah agenda literasi yang mempertemukan karya dengan pembacanya. Salah satu agenda utama adalah peluncuran novel terbaru karya Han Gagas berjudul Kaok Burung Gagak di Kahayan.
Selain peluncuran buku, peserta juga diajak mengikuti tiga sesi diskusi karya sastra yang menghadirkan penulis dan pembahas dari kalangan pegiat literasi.
Buku puisi Memoaribilia karya Egi Raf akan dibedah oleh Sosiawan Leak, sementara kumpulan cerpen Sarekat Bajing Kelon karya Gunawan Tri Atmodjo akan didiskusikan bersama Beri Hanna. Adapun novel Seperti Lidah Api karya Yudi Agusta akan dikupas lebih mendalam oleh Yuditeha.

Han Gagas menilai forum seperti ini penting untuk menjaga ekosistem sastra tetap hidup. Menurutnya, sebuah karya tidak berhenti ketika diterbitkan, melainkan terus menemukan makna baru melalui dialog dan pembacaan bersama.
“Ketika penulis, pembaca, dan pegiat sastra berkumpul dalam satu ruang, akan lahir banyak perspektif baru. Dari situlah sastra terus berkembang dan menemukan relevansinya dengan kehidupan masyarakat,” katanya.
Menariknya, panitia juga menyediakan fasilitas kamar menginap gratis bagi peserta dari luar kota.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat memperluas partisipasi pegiat sastra dari berbagai daerah sehingga forum ini tidak hanya menjadi milik Surakarta, tetapi juga menjadi ruang pertemuan komunitas sastra yang lebih luas.
Dengan mengusung semangat “Sastra menyatukan, kata menghidupkan persaudaraan”, Silaturahmi Pegiat Sastra Surakarta diharapkan menjadi momentum untuk mempererat jejaring komunitas literasi sekaligus memperkuat posisi Solo sebagai salah satu kota dengan tradisi sastra yang terus hidup dan berkembang.
Acara ini terbuka bagi siapa saja yang ingin datang, berdiskusi, dan merayakan sastra bersama.
“Datang, berdiskusi, bersilaturahmi. Sastra kita, Surakarta kita,” tutup Han Gagas. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.