Dari Bengkel Listrik ke Puncak Tata Kelola UGM
Prof. Tumiran lekat dengan dunia teknik elektro. Karier akademiknya dibangun melalui proses panjang sebagai pendidik, peneliti, sekaligus pemikir di bidang energi dan ketenagalistrikan.
NUMLIT, JOGJA — Di balik pergantian kepemimpinan Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta periode 2026–2031, tersimpan kisah inspiratif tentang konsistensi, ketekunan, dan pengabdian panjang seorang akademisi.
Table Of Content
Sosok itu adalah Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., yang kini dipercaya memimpin organ tertinggi pengambil kebijakan di UGM.
Jumat (19/6/2026), di Balai Senat UGM, Tumiran resmi menerima estafet kepemimpinan MWA dari Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc.
Serah terima jabatan tersebut menandai babak baru perjalanan seorang dosen teknik yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk pendidikan tinggi, riset, dan pembangunan bangsa.
Namun bagi banyak orang di lingkungan UGM, terpilihnya Tumiran bukanlah sebuah kejutan.
Ia dikenal sebagai sosok yang tumbuh bersama kampus, memahami denyut kehidupan akademik dari dekat, dan memiliki rekam jejak panjang dalam berbagai posisi strategis.
Tumbuh dari Dunia Teknik dan Pendidikan
Nama Tumiran lekat dengan dunia teknik elektro. Karier akademiknya dibangun melalui proses panjang sebagai pendidik, peneliti, sekaligus pemikir di bidang energi dan ketenagalistrikan.
Bagi Tumiran, kampus bukan sekadar tempat bekerja. UGM adalah ruang pengabdian yang membentuk perjalanan hidupnya.
Dari ruang kuliah, laboratorium, hingga berbagai forum kebijakan pendidikan tinggi, ia terus terlibat dalam upaya memperkuat kualitas akademik dan relevansi perguruan tinggi terhadap kebutuhan masyarakat.
Kolega-koleganya mengenal Tumiran sebagai pribadi yang tenang, lugas, dan lebih sering bekerja dalam senyap dibanding tampil di panggung publik.
Karakter itulah yang membuatnya dipercaya mengemban berbagai amanah strategis, baik di lingkungan universitas maupun tingkat nasional.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan global, Tumiran konsisten menyuarakan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Kepemimpinan yang Berangkat dari Kolaborasi
Saat menerima amanah sebagai Ketua MWA UGM, Tumiran tidak berbicara tentang kekuasaan ataupun otoritas. Ia justru menekankan pentingnya kolaborasi.

Menurutnya, kemajuan UGM yang terlihat hari ini merupakan hasil kerja bersama banyak pihak selama bertahun-tahun. Karena itu, kepemimpinan MWA ke depan harus dibangun di atas semangat dialog, keterbukaan, dan sinergi antarelemen kampus.
“Kami menyampaikan penghargaan atas berbagai capaian yang telah diwujudkan oleh MWA periode sebelumnya dalam mendukung kemajuan UGM,” ujar Tumiran dalam sambutannya, dikutip dari laman resmi UGM.
Ia menilai UGM telah memiliki fondasi kuat, mulai dari tata kelola yang semakin baik, fasilitas yang terus berkembang, hingga reputasi internasional yang terus meningkat.
Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan dampak yang lebih luas.
Bagi Tumiran, keberhasilan universitas tidak hanya diukur dari posisi dalam pemeringkatan dunia, tetapi juga dari kontribusinya dalam menyelesaikan persoalan bangsa.
Menjaga Daya Saing Global
Di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat, Tumiran melihat tantangan terbesar UGM adalah mempertahankan relevansi sekaligus meningkatkan daya saing global.
Ia menekankan pentingnya penguatan kualitas akademik, riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia agar UGM tetap menjadi rujukan pendidikan tinggi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat internasional.
Menurutnya, berbagai fasilitas dan infrastruktur yang telah dibangun harus dioptimalkan untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih berkualitas dan menghasilkan lulusan yang mampu menjawab kebutuhan zaman.
“Berbagai capaian yang telah diraih perlu terus dioptimalkan agar memberikan dampak yang lebih besar bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan perjalanan UGM yang dalam beberapa tahun terakhir terus memperkuat posisi sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia dengan reputasi yang semakin diperhitungkan di tingkat global.
Dari Pengabdian Menuju Warisan
Bagi Tumiran, memimpin MWA bukan sekadar jabatan administratif. Amanah itu merupakan bagian dari tanggung jawab menjaga arah perjalanan UGM sebagai universitas kerakyatan yang lahir dari semangat perjuangan bangsa.

Ia memahami bahwa masa depan pendidikan tinggi akan diwarnai berbagai tantangan baru, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan dunia kerja, hingga kebutuhan akan inovasi yang lebih cepat.
Karena itu, ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus menjaga semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan utama UGM.
“MWA tidak akan berarti tanpa dukungan seluruh sivitas akademika, sehingga sinergi dan kolaborasi menjadi kunci untuk membawa UGM semakin maju,” tegasnya.
Di tangan Tumiran, estafet kepemimpinan MWA kini berlanjut. Dari seorang akademisi teknik yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di ruang kelas dan laboratorium, ia kini memikul amanah mengawal arah salah satu universitas terbesar di Indonesia.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari sorotan.
Kadang, ia tumbuh dari ketekunan yang dijalani bertahun-tahun, dari pengabdian yang konsisten, dan dari keyakinan bahwa pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan bangsa. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.