Belajar Shibori, Warga Gunungkidul Diajak Ubah Kain Menjadi Sumber Penghasilan
Research Group (RG) Sejarah Kebudayaan Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS Surakarta menggelar pelatihan pembuatan kain shibori di Gunungkidul, Yogyakarta.
NUMLIT, GUNUNGKIDUL — Selembar kain putih yang semula tampak biasa perlahan berubah menjadi karya penuh warna dan motif unik.
Bagi puluhan peserta pelatihan di Sanggar Seni Tresna Budaya, Kelurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, pengalaman itu bukan sekadar belajar teknik pewarnaan kain, melainkan membuka peluang baru untuk menambah penghasilan keluarga.
Melalui pelatihan pembuatan kain shibori yang digelar Research Group (RG) Sejarah Kebudayaan Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, masyarakat diajak melihat bahwa kreativitas dapat menjadi modal ekonomi yang menjanjikan.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (21/6/2026) tersebut merupakan lanjutan dari kerja sama antara RG Sejarah Kebudayaan FIB UNS dan Sanggar Seni Tresna Budaya.
Setelah sebelumnya sukses menggelar pelatihan ecoprint, kali ini fokus diberikan pada keterampilan membuat kain shibori yang memiliki nilai seni sekaligus potensi pasar.
Ketua tim kegiatan, Drs. Tundjung Wahadi Sutirta, M.Si., mengatakan pelatihan ini dirancang tidak hanya untuk memperkenalkan teknik kriya tekstil, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan produk kreatif yang bernilai ekonomi.
“Kami sangat senang dapat kembali bekerja sama dengan Sanggar Tresna Budaya. Melalui pelatihan shibori ini, kami berharap masyarakat memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi produk unggulan sehingga mampu meningkatkan nilai ekonomi keluarga dan komunitas,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UNS.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapat pendampingan langsung dari Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn., dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS yang bertindak sebagai instruktur.
Ia memperkenalkan berbagai teknik dasar shibori, mulai dari proses pencucian kain, pelipatan, pengikatan, hingga pewarnaan.
Teknik yang berasal dari Jepang itu menghasilkan motif yang unik karena setiap lipatan dan ikatan menciptakan pola berbeda yang tidak bisa diulang secara persis.
Momen paling menarik terjadi saat peserta membuka ikatan kain setelah proses pewarnaan selesai.
Rasa penasaran bercampur antusias terlihat dari wajah para peserta ketika motif-motif tak terduga muncul di atas kain yang mereka buat sendiri.
“Pelatihan tidak berhenti pada kemampuan membuat produk. Masyarakat juga perlu memahami cara menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual yang wajar agar usaha yang dijalankan dapat memberikan keuntungan dan berkembang secara berkelanjutan,” kata Dyah.
Karena itu, selain praktik membuat shibori, peserta juga mendapatkan materi kewirausahaan.

Mereka diajak memahami cara menyusun blueprint usaha, menghitung Harga Pokok Produksi (HPP), menentukan Break Even Point (BEP), hingga menetapkan harga jual produk.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti sebagai hobi, tetapi dapat berkembang menjadi usaha kreatif yang berkelanjutan.
Pengelola Sanggar Seni Tresna Budaya, Sugiyono, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan semacam ini memberikan wawasan baru sekaligus peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis kreativitas.
“Kami sangat senang dan berterima kasih kepada tim RG Sejarah Kebudayaan FIB UNS yang kembali hadir memberikan pelatihan kepada masyarakat. Kegiatan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan baru yang sangat bermanfaat. Kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut karena akan membuat sanggar kami semakin berkembang dan maju,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Sutini, salah seorang peserta pelatihan. Ia mengaku baru pertama kali mengenal teknik shibori dan terkejut melihat hasil karya yang berhasil dibuatnya.
“Ini pengalaman pertama saya membuat kain shibori. Hasilnya sangat mengejutkan karena motif yang muncul ternyata indah sekali. Bu Dyah mendampingi kami dengan sabar sehingga kami merasa senang dan mudah memahami prosesnya,” tuturnya.
Bagi UNS, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan budaya dan ekonomi kreatif.
Tidak hanya melestarikan keterampilan seni tekstil, pelatihan juga diharapkan mampu melahirkan produk-produk kreatif lokal yang memiliki daya saing di pasar.
Dari tangan-tangan warga Gunungkidul, selembar kain kini tidak lagi sekadar bahan sandang. Dengan kreativitas dan sentuhan kewirausahaan, kain dapat menjelma menjadi peluang usaha baru yang memberi nilai tambah bagi keluarga dan komunitas. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.