Pementasan Teater Adalah Proses Bertumbuh Bersama
Titik balik produksi terjadi saat tim artistik mulai menyaksikan latihan para aktor dan perlahan mengembangkan berbagai ide visual untuk memperkuat cerita.
NUMLIT, SURAKARTA – Sebuah pementasan teater bukan hanya soal sorotan lampu, dialog, dan tepuk tangan penonton. Di balik layar, ada proses panjang yang mengajarkan tentang kepemimpinan, empati, hingga keberanian menghadapi luka batin.
Hal itulah yang ingin ditunjukkan Kelas B Sastra Inggris angkatan 2024 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS melalui pementasan “Five of Cups”, karya Deana Adelia Chelsea, yang dihidupkan melalui interpretasi sutradara Alexandria Hartono.
Bagi Alexandria, naskah tersebut lebih dari sekadar cerita di atas panggung. Ia melihatnya sebagai refleksi kehidupan yang dekat dengan banyak orang, terutama tentang bagaimana luka emosional dapat diwariskan melalui kata-kata.
“Pesan yang paling ingin kami sampaikan adalah jangan sampai ketakutan mengulangi kesalahan membuat kita lupa bahwa selalu ada harapan dalam hidup,” ujarnya saat diwawancarai seusai pementasan di SMKN 8 Surakarta, Sabtu (11/7/2026) malam.
Melalui tokoh Sharon dan Eloise, pementasan mengangkat isu tentang kekerasan verbal dalam keluarga.
Sharon digambarkan sebagai seorang ibu yang tanpa sadar menanamkan ketakutannya kepada sang anak melalui kalimat-kalimat yang terus membekas. Menurut Alexandria, luka akibat ucapan sering kali jauh lebih dalam dibanding luka fisik.
“Naskah ini ingin menunjukkan bahwa sebuah kalimat bisa membekas lebih lama daripada sebuah luka. Ketakutan Sharon akhirnya menjadi ketakutan Eloise hingga membawa mereka pada sebuah tragedi,” jelasnya.
Di antara seluruh karakter, Sharon menjadi tokoh yang paling menantang untuk diwujudkan.

Karakter tersebut menuntut aktris Rahma Fitri Utami menampilkan dua sisi yang bertolak belakang. Manipulatif sekaligus penuh kasih kepada anaknya.
Untuk membangun kedalaman emosi para pemain, proses latihan tidak hanya berisi pembacaan naskah dan blocking panggung.
Setiap sesi diawali dengan meditasi, kemudian ditutup dengan refleksi bersama mengenai pengalaman emosional selama memerankan karakter.
“Latihan itu membantu kami benar-benar masuk ke dalam jiwa karakter masing-masing,” kata Alexandria.
Menurutnya, titik balik produksi terjadi saat tim artistik mulai menyaksikan latihan para aktor dan perlahan mengembangkan berbagai ide visual untuk memperkuat cerita.
Sejak saat itu, ia merasa seluruh elemen produksi memiliki visi yang sama dalam menerjemahkan naskah ke atas panggung.
Kolaborasi tersebut tidak hanya dirasakan di sisi artistik. Di balik kelancaran produksi, terdapat peran penting Khallysta sebagai Pimpinan Produksi yang bertugas menyatukan berbagai divisi, mulai dari pemain, artistik, musik, tata cahaya, hingga kostum.
Menariknya, tantangan terbesar yang ia hadapi bukan persoalan teknis, melainkan membangun ruang yang aman bagi seluruh anggota tim.
“Aku ingin semua orang merasa aman untuk menyampaikan kekhawatiran, ide, bahkan rasa marah mereka. Setiap divisi punya masalah yang berbeda, dan aku ingin mereka tahu bahwa semua itu penting,” tutur Khallysta.
Dari pengalaman tersebut, Khallysta belajar bahwa inti kepemimpinan bukan sekadar memberi arahan, melainkan kemampuan mendengarkan.
Menurutnya, ketika setiap anggota tim merasa dihargai dan didengar, mereka akan dengan sendirinya memberikan kemampuan terbaiknya.
“Aku berusaha memahami kekhawatiran masing-masing. Saat mereka merasa dilihat dan dihargai, mereka otomatis memberikan yang terbaik untuk tim,” ujarnya.
Ide Terbaik Lahir dari Percakapan Sederhana
Kepercayaan itu mencapai puncaknya tepat pada hari pementasan. Setelah berbulan-bulan menjalani latihan hingga larut malam, Khallysta akhirnya memutuskan mempercayakan seluruh hasil kerja kepada timnya.
“Aku yakin mereka tidak akan mengecewakan semua usaha yang sudah kita bangun selama berbulan-bulan. Dan mereka membuktikannya. Kita berhasil. Aku benar-benar bangga sama kita semua,” kenangnya.
Di balik berbagai keputusan kreatif, ternyata ide-ide terbaik justru lahir dari percakapan sederhana setelah latihan maupun saat sesi evaluasi.
“Semua ide muncul dari obrolan ringan antara kepala-kepala yang punya pandangan berbeda, tetapi tujuan yang sama,” katanya.
Bagi Khallysta, proses produksi ini menjadi ruang belajar yang tidak akan ditemukan di ruang kelas. Selain mengasah kemampuan manajerial, para mahasiswa juga belajar memimpin, mengelola waktu, menyelesaikan konflik, hingga mengambil keputusan di bawah tekanan.
Melalui pementasan “Five of Cups”, Kelas B tidak hanya menghadirkan sebuah karya teater yang mengajak penonton merenungkan luka dan harapan.
Lebih dari itu, proses di balik panggung menjadi laboratorium nyata yang membentuk karakter para mahasiswa.
Dari ruang latihan yang dipenuhi diskusi, empati, dan saling percaya, lahirlah sebuah pertunjukan yang bukan hanya berhasil menghibur penonton, tetapi juga menjadi bukti bahwa seni mampu menjadi ruang untuk bertumbuh bersama. (Ditya Sri Pramudita)



No Comment! Be the first one.