SD Muhammadiyah 1 Surakarta Bentuk Karakter Siswa Lewat Pembiasaan Ibadah
Selama salat berjamaah berlangsung, guru tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga mengamati ketepatan gerakan dan bacaan salat siswa.
NUMLIT, SURAKARTA – Di tengah tantangan pendidikan yang semakin kompleks, SD Muhammadiyah 1 Surakarta memilih membangun karakter siswa melalui cara yang sederhana tetapi konsisten.
Bukan hanya mengajarkan teori agama di dalam kelas, sekolah ini membiasakan peserta didik menjalani rangkaian ibadah setiap hari, mulai dari doa pagi, murojaah Al-Qur’an, hingga salat berjamaah yang berlangsung tertib dan penuh pendampingan.
Program pembiasaan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diterapkan sejak siswa memasuki lingkungan sekolah. Tujuannya bukan sekadar membentuk kebiasaan beribadah, tetapi juga menanamkan disiplin, tanggung jawab, kemandirian, serta adab dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala SD Muhammadiyah 1 Surakarta, Sri Sayekti, mengatakan seluruh aktivitas belajar diawali dengan pembiasaan keagamaan yang dilaksanakan secara terstruktur.
“Setiap pagi siswa memulai kegiatan dengan doa bersama dan hafalan doa harian sesuai jadwal pada buku mutaba’ah selama lima menit,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).
Usai berdoa, seluruh siswa berdiri menyanyikan lagu nasional sebagai bentuk penanaman rasa cinta tanah air. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan murojaah, yakni mengulang hafalan surat-surat pendek Al-Qur’an selama 10 menit, disusul ziyadah atau penambahan hafalan selama 10 menit.
Rangkaian pembiasaan pagi ditutup dengan pembelajaran membaca Al-Qur’an menggunakan metode Al-Qur’an maupun buku alHusna selama sekitar 30 menit.
Dalam sesi ini, guru mendampingi setiap siswa agar bacaan sesuai kaidah tajwid sekaligus meningkatkan kelancaran membaca Al-Qur’an.
Menurut Sri Sayekti, pembiasaan tersebut menjadi fondasi sebelum siswa mengikuti proses pembelajaran akademik di kelas.
Tidak hanya pada kegiatan pagi, budaya religius juga diterapkan melalui pelaksanaan salat berjamaah yang melibatkan seluruh guru dan tenaga kependidikan.
Sebelum salat dimulai, siswa didampingi wali kelas menuju tempat wudu. Guru memastikan setiap anak memahami tata cara berwudu dengan benar, mulai dari urutan gerakan hingga kebersihan pakaian yang dikenakan.

Setelah itu, siswa mengenakan perlengkapan salat sesuai ketentuan. Siswa putra memastikan seragam tetap rapi dan bersih, sedangkan siswa putri mengenakan mukena lengkap sebelum menuju tempat salat.
Perjalanan menuju Masjid Al Wustho maupun area salat di lingkungan sekolah juga menjadi bagian dari proses pendidikan karakter.
Guru membimbing siswa menata sandal dengan rapi, melangkahkan kaki kanan saat memasuki masjid, membaca doa masuk masjid, menjaga ketenangan, hingga melaksanakan salat sunah qabliyah sebelum salat berjamaah dimulai.
Untuk menjaga ketertiban, sekolah mengatur lokasi salat berdasarkan jenjang kelas. Siswa kelas I dan II melaksanakan salat di serambi Masjid Al Wustho, kelas III dan IV berada di dalam masjid, sedangkan kelas V dan VI menempati halaman sekolah.
Penempatan tersebut dilakukan secara bergilir setiap bulan agar seluruh siswa memperoleh pengalaman yang sama.
Selama salat berjamaah berlangsung, guru tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga mengamati ketepatan gerakan dan bacaan salat siswa. Guru putra maupun putri mendapat jadwal khusus untuk memberikan bimbingan secara langsung selama pelaksanaan salat.
Setelah salat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan zikir dan doa bersama. Guru kemudian mengarahkan siswa melipat perlengkapan salat dengan rapi, membaca doa keluar masjid, melangkah menggunakan kaki kiri, dan kembali ke kelas secara tertib bersama wali kelas.
Sri Sayekti menegaskan bahwa pembiasaan tersebut merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter religius dan disiplin.
Melalui rutinitas yang dilakukan setiap hari, SD Muhammadiyah 1 Surakarta berharap nilai-nilai ibadah tidak berhenti di lingkungan sekolah, melainkan menjadi kebiasaan yang terus dibawa siswa dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga maupun masyarakat. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.