Risang Wikan Yoghananta, Jembatan yang Menyatukan Dua Kepala di Satu Panggung
Bagi Risang, memimpin bukan berarti harus mengerjakan semuanya sendiri. Justru, kepemimpinan dibangun dengan memberikan kepercayaan kepada orang-orang yang telah diberi tanggung jawab.
NUMLIT, SURAKARTA — Menyatukan dua kelompok dengan dua cara pandang yang berbeda bukan perkara mudah. Apalagi ketika masing-masing memiliki visi, keinginan, dan kepentingan yang ingin diwujudkan dalam satu panggung pertunjukan.
Table Of Content
Di tengah situasi itulah Risang Wikan Yoghananta mengambil peran.
Di atas dua pimpinan produksi yang mengepalai kelas masing-masing, ada satu posisi yang tahun ini menjadi kunci yaitu Kepala Pelaksana Angkatan. Risang dipercaya mengemban jabatan tersebut untuk memimpin produksi gabungan Kelas A dan B Sastra Inggris angkatan 2024 FIB UNS.
Posisi itu menjadikannya semacam jembatan. Ia harus memastikan dua kelas yang biasanya berjalan sendiri-sendiri dapat berbagi panggung, sumber daya, dan tanggung jawab tanpa kehilangan identitas masing-masing.
Namun, tantangan terbesar bukan soal teknis produksi. Bagi Risang, tantangan sesungguhnya adalah menyatukan dua kepala.
“Dua kelas ini punya kemauan dan visi masing-masing. Menyeimbangkan pengabulan keinginan mereka tanpa memberatkan salah satunya adalah pekerjaan terberat pementasan tahun ini,” ujar Risang saat diwawancarai seusai pementasan di SMKN 8 Surakarta, Sabtu (11/7/2026) malam.
Karena itu, Risang memilih tidak mengambil alih semua urusan. Ia membagi kewenangan secara tegas.
Hal-hal besar seperti koordinasi antardivisi utama, pengambilan keputusan ketika terjadi perbedaan pendapat, hingga memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar menjadi tanggung jawabnya.
Sementara kebutuhan teknis produksi di masing-masing kelas tetap diserahkan kepada pimpinan produksi.
Mulai dari tata rias, busana, properti, tata suara, hingga tata cahaya menjadi wilayah kerja masing-masing pimpinan produksi.
“Aku tidak ikut campur karena kupercayakan sepenuhnya ke mereka. Baru kalau ada masalah yang menyangkut kebutuhan dua kelas, aku yang mengoordinasikan jalan tengahnya,” jelasnya.
Bagi Risang, memimpin bukan berarti harus mengerjakan semuanya sendiri. Justru, kepemimpinan dibangun dengan memberikan kepercayaan kepada orang-orang yang telah diberi tanggung jawab.
Prinsip itu juga ia terapkan kepada para kepala divisi. Ia tidak merasa harus selalu berada di setiap ruang persiapan. Kepercayaan diberikan kepada mereka yang sejak awal bersedia mengambil tanggung jawab.
Namun, ketika terjadi perbedaan kepentingan, Risang akan turun tangan. Salah satunya terjadi ketika muncul persoalan enam tiket donasi dari dosen.
Divisi publikasi mengusulkan tiket tersebut dijual dengan skema promo beli satu gratis satu untuk menarik lebih banyak penonton. Namun, divisi keuangan menolak karena khawatir promo tersebut justru mengurangi pendapatan dari penjualan tiket secara langsung.

Kedua pihak sama-sama bertahan dengan argumentasinya. Di titik itulah Risang mengambil posisi sebagai penengah.
“Aku jadi penengah dan akhirnya mengambil keputusan untuk tetap menjalankan promo itu meskipun ada risiko mengurangi pendapatan langsung,” kenangnya.
Keputusan tersebut menunjukkan bagaimana posisi Risang bukan sekadar menjalankan fungsi administratif. Ia harus berani mengambil keputusan ketika kepentingan dua pihak tidak menemukan titik temu.
Ketika Sekat Kelas Mulai Hilang
Menariknya, selama proses produksi berlangsung, Risang justru tidak melihat adanya persaingan antara Kelas A dan B. Sebaliknya, ia menyaksikan batas-batas antarkelas perlahan melebur.
Salah satu pengalaman yang paling ia ingat terjadi saat gladi. Jusa, penanggung jawab tata suara dari Kelas B, turut membantu menyiapkan kebutuhan tata suara untuk Kelas A. Ia bahkan ikut menyiapkan mikrofon yang akan digunakan bersama.
“Di situ aku jadi paham bahwa ternyata ada yang tidak cuma memikirkan kelasnya, tapi memikirkan acara secara keseluruhan,” tuturnya.
Bagi Risang, momen tersebut menjadi gambaran bahwa kolaborasi yang dibangun dalam produksi gabungan mulai menemukan bentuknya.
Dua kelompok yang semula memiliki ruang kerja masing-masing akhirnya belajar melihat pertunjukan sebagai satu kesatuan. Bukan lagi tentang kelas A atau kelas B. Melainkan tentang satu produksi yang harus berhasil bersama.
Jabatan Baru untuk Meredam Konflik Lama
Penggabungan dua kelas tersebut, menurut Risang, merupakan instruksi dari dosen pengampu.
Begitu pula dengan posisi Kepala Pelaksana Angkatan yang baru muncul pada tahun ini.
Ia menduga, pembentukan posisi tersebut tidak terlepas dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya yang kerap diwarnai perbedaan antara Kelas A dan B, baik dalam urusan artistik maupun nonartistik.
“Biasanya selalu berakhir dengan keluhan ini-itu ke dosen. Jadi mungkin jabatan baru ini sebagai upaya meredam konflik antar kelas,” ujarnya sambil tersenyum.
Karena itu, Risang menyadari bahwa tugasnya bukan hanya memastikan produksi berjalan sesuai rencana. Ia juga harus menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik. Dalam setiap persoalan, ia berusaha mengembalikan pembicaraan kepada satu tujuan yang sama.
Memilih Panggung, Menimbang Banyak Kemungkinan
Perjalanan produksi juga tidak lepas dari persoalan memilih lokasi pertunjukan.
Sejumlah tempat sempat menjadi pilihan, mulai dari kampus seni ISI Surakarta, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), hingga Taman Balekambang.
TBJT sebenarnya menjadi lokasi yang paling diharapkan. Selain biaya yang relatif terjangkau, lokasinya juga dekat dengan kampus. Namun, tempat tersebut sudah penuh dipesan.
Pilihan kemudian mengerucut pada dua lokasi, Taman Balekambang dan SMKI (SMKN 8 Surakarta). Melalui pemungutan suara, SMKI akhirnya menjadi pilihan.
Bagi Risang dan panitia inti, keputusan tersebut merupakan pilihan paling realistis.
“Lebih baik pusing memikirkan cara agar mikrofon klip bisa digunakan daripada pusing soal teknis lain seperti parkir dan tiket di Balekambang,” jelasnya.
Pilihan itu kembali menunjukkan satu hal yang menjadi bagian penting dari tugas Risang: mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama.
Bukan Drama A Melawan Drama B
Di tengah segala perbedaan, Risang memegang satu prinsip sederhana bahwa komunikasi harus terbuka dan keputusan tidak boleh berat sebelah.
Ia terus mengingatkan semua pihak bahwa produksi tersebut bukanlah ruang untuk mempertentangkan dua kelas. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan sebuah pertunjukan bersama.
“Aku selalu mencoba memastikan komunikasi yang terbuka dan keputusan yang tidak memberatkan satu kelas. Kembali lagi, tujuannya bukan pentas drama A melawan drama B, tapi pentas drama Sastra Inggris 2024,” tegasnya.
Dari posisi yang mungkin tidak banyak terlihat di atas panggung, Risang menjalankan peran yang justru menentukan bagaimana sebuah pertunjukan dapat berdiri sebagai satu kesatuan.
Ia menjadi penghubung ketika dua kepentingan berseberangan. Menjadi penengah ketika keputusan sulit diambil. Dan, menjadi orang yang mengingatkan bahwa setiap divisi memiliki peran penting dalam sebuah produksi.
Pada akhirnya, tugas Risang bukan membuat salah satu kelas menang atas kelas lainnya. Ia justru memastikan tidak ada yang perlu dikalahkan.
Sebab, ketika dua kelas mampu berjalan seirama, kemenangan terbesar bukan milik Kelas A atau Kelas B.
Kemenangan itu menjadi milik seluruh angkatan yang berhasil membuktikan bahwa dua kepala dengan visi berbeda dapat menemukan satu irama, berdiri di satu panggung, dan merayakan keberhasilan bersama. (Ditya Sri Pramudita)



No Comment! Be the first one.