Naik Whoosh dan Belajar Kompos, Cara Anak Yatim Mengubah Liburan Menjadi Bekal Masa Depan
Program Eduwisata Yatim dan Dhuafa yang digelar BSI Maslahat bersama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) dan PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC).
NUMLIT, JAKARTA – Bagi sebagian anak, menaiki kereta cepat Whoosh mungkin merupakan pengalaman biasa. Namun, bagi Almira, perjalanan dengan kereta cepat pertama di Indonesia itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Anak asuh Yayasan Rumah Dongeng Ceria tersebut untuk pertama kalinya merasakan perjalanan menggunakan Whoosh dalam program Eduwisata Yatim dan Dhuafa yang digelar BSI Maslahat bersama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) dan PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC).
“Senang banget bisa naik Whoosh. Keretanya nyaman dan sepanjang perjalanan pemandangannya indah. Ini jadi pengalaman baru yang berkesan buat aku,” ujar Almira.
Namun, perjalanan itu bukan sekadar mengajak anak-anak menikmati pengalaman baru. Di balik perjalanan menggunakan kereta cepat, terselip pesan yang jauh lebih besar yaitu mengajak anak mengenal teknologi, membangun karakter, sekaligus belajar menjaga bumi.
Mengusung tema “Peduli Yatim, Peduli Bumi”, kegiatan yang berlangsung pada 22–23 Juli 2026 di Bumi Perkemahan Cikole, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, tersebut dirancang sebagai edutrip yang memadukan rekreasi dengan pembelajaran berbasis pengalaman.
Puluhan anak asuh dari 11 yayasan mitra Program Sahabat Kebaikan Yatim binaan BSI Maslahat di wilayah Jabodetabek menjadi peserta kegiatan.
Perjalanan mereka dimulai dengan kunjungan ke area operasional Whoosh. Di sana, anak-anak tidak hanya mendapatkan kesempatan menaiki kereta cepat, tetapi juga diperkenalkan dengan teknologi transportasi modern.
Bagi anak-anak, pengalaman tersebut menjadi jendela baru untuk mengenal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung.
Dari perjalanan menggunakan Whoosh, pembelajaran kemudian berlanjut ke alam terbuka.
Di Bumi Perkemahan Cikole, anak-anak diajak mengenal cara mengelola sampah dan limbah, membuat kompos, hingga menerapkan gaya hidup zero waste.

Mereka juga mendapatkan pembinaan kepemimpinan, penguatan karakter, dan pembinaan keagamaan. Berbagai aktivitas tersebut dirancang untuk melatih kemandirian, tanggung jawab, keberanian, kerja sama, serta akhlak mulia.
Bagi Malik, anak asuh Yayasan Raudhatun Nikmah, pengalaman tersebut memberikan lebih dari sekadar kesenangan selama mengikuti kegiatan.
“Saya dapat banyak ilmu baru dari kegiatan ini. Mulai dari belajar membuat pupuk kompos, memilah dan mengelola sampah, mengenali potensi diri, membangun pola pikir, sampai belajar keterampilan bertahan hidup di alam. Semua pengalaman ini akan menjadi bekal bagi saya di masa depan,” katanya.
Melalui pembelajaran berbasis aktivitas, anak-anak juga diajak menghadapi berbagai tantangan bersama. Interaksi dengan lingkungan baru dan kerja sama dalam kelompok diharapkan dapat membantu mereka membangun kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, keterampilan memecahkan masalah, sekaligus ketahanan mental.
Direktur Operasional BSI Maslahat, Rusdi Musa Ishak, mengatakan pengalaman yang diperoleh anak-anak diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan menyenangkan.
“Kami meyakini bahwa pengalaman seperti ini akan memberikan kesan yang mendalam bagi adik-adik. Sehingga diharapkan, setelah mengikuti kegiatan ini, adik-adik dapat memperoleh pengalaman yang tidak hanya menjadi kenangan yang membahagiakan, tetapi juga memberikan wawasan dan nilai-nilai positif yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di yayasan,” ujarnya.
Program tersebut juga menjadi bagian dari kolaborasi BSI Maslahat, BSI, dan KCIC yang terwujud melalui dukungan donasi sebesar Rp74.004.985 dari 2.673 transaksi kebaikan.
Selain pengalaman edukatif, seluruh peserta juga mendapatkan santunan dan bingkisan. Dukungan tersebut diharapkan memberikan kebahagiaan sekaligus menghadirkan rasa diperhatikan dan semangat baru bagi anak-anak untuk terus berkembang.
Bagi BSI Maslahat, program ini merupakan bagian dari upaya mengelola dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) serta dana sosial lainnya menjadi program yang memberikan manfaat berkelanjutan.
Tidak berhenti pada bantuan sesaat, pendekatan yang diusung adalah memberikan pengalaman dan pembelajaran yang dapat menjadi bekal bagi anak-anak untuk tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, berprestasi, dan berakhlak mulia.
Pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Anak-anak diajak memahami bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah, mengurangi limbah, dan mengelola sampah organik menjadi kompos.
Program ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas, Tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Pada akhirnya, perjalanan anak-anak tersebut bukan hanya tentang naik Whoosh atau berkemah di Cikole.
Ada pengalaman baru yang mereka bawa pulang. Ada pengetahuan tentang lingkungan. Ada keberanian yang tumbuh. Ada kemampuan bekerja sama yang terasah.
Dan yang tak kalah penting, ada pesan bahwa kepedulian terhadap bumi dan masa depan dapat dimulai dari siapa saja, termasuk dari anak-anak yang belajar mengubah pengalaman sederhana menjadi kebiasaan baik. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.