BSI Maslahat Dorong Sekolah Jadi Pusat Urban Farming
Urban farming diposisikan sebagai solusi yang menjawab tiga tantangan sekaligus, yakni pengelolaan limbah rumah tangga, keterbatasan lahan perkotaan, dan penguatan ketahanan pangan.
NUMLIT, DEPOK — Di tengah meningkatnya persoalan limbah rumah tangga dan semakin terbatasnya ruang hijau di kawasan perkotaan, BSI Maslahat bersama IIK BSI Pusat menghadirkan solusi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu membangun ketahanan pangan masyarakat.
Melalui program Urban Farming, keduanya mendorong sekolah menjadi pusat edukasi sekaligus praktik pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyaluran bantuan sarana urban farming kepada Yayasan Pendidikan Islam Fitri (YPI Fitri) di TKIT Fitri, Cimanggis, Depok, Jawa Barat.
Bantuan senilai Rp23 juta itu diserahkan secara simbolis oleh Pembina IIK BSI Pusat, Lisa Yovita Siregar, kepada Ketua Yayasan Pendidikan Islam Fitri, Sepriati Segerow, disaksikan Pembina IIK BSI Pusat Bidang Kesejahteraan Sosial Lia Dhaliawati serta Head of Retail and Network Group BSI Maslahat Dina Handayani.
Program ini lahir sebagai respons terhadap persoalan pengelolaan sampah rumah tangga yang masih menjadi tantangan di Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui PODES 2024, sebagian besar desa dan kelurahan masih menangani limbah rumah tangga dengan cara dibakar atau dibuang ke lubang, drainase, hingga sungai dan laut. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan baru yang mampu mengubah limbah menjadi sumber daya yang bernilai.
Melalui program Urban Farming, BSI Maslahat dan IIK BSI Pusat ingin menunjukkan bahwa lahan terbatas bukan penghalang untuk menciptakan lingkungan yang produktif. Bantuan yang diberikan dimanfaatkan untuk membangun kebun sayur serta kandang ayam petelur yang saling terintegrasi dalam satu ekosistem pertanian perkotaan.
Pembina IIK BSI Pusat Bidang Kesra, Lia Dhaliawati, mengatakan program tersebut berangkat dari kepedulian terhadap persoalan lingkungan sekaligus melihat potensi besar yang telah dimiliki Yayasan Fitri.
“Kami melihat Yayasan Fitri memiliki kelompok wanita tani yang menjadi penggerak urban farming di lingkungan sekitarnya. Karena itu IIK BSI Pusat bersama BSI Maslahat hadir memberikan dukungan agar cakupan dan kebermanfaatan program ini semakin luas,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Ia berharap kolaborasi tersebut tidak hanya dirasakan oleh lingkungan sekolah, tetapi juga mampu menginspirasi masyarakat sekitar untuk menerapkan pola pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Ketua Yayasan Pendidikan Islam Fitri, Sepriati Segerow, menyambut baik dukungan tersebut. Menurutnya, urban farming bukan sekadar menghasilkan sayuran atau telur, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter bagi anak-anak.
Ia berharap kebun yang dikembangkan di lingkungan sekolah mampu menumbuhkan generasi yang mencintai alam, peduli terhadap lingkungan, serta mampu mengelola karunia Allah secara bertanggung jawab sejak usia dini.
Sementara itu, Head of Retail and Network Group BSI Maslahat, Dina Handayani, menegaskan sinergi bersama IIK BSI Pusat merupakan bagian dari komitmen menghadirkan program sosial yang memiliki dampak nyata dan berkelanjutan.
Menurutnya, lembaga filantropi tidak cukup hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga harus mampu menciptakan solusi yang dapat terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Usai prosesi penyerahan bantuan, peserta diajak melihat langsung implementasi konsep integrated farming. Kegiatan diawali dengan demonstrasi penggunaan alat pencacah ranting oleh Petugas Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian RI, Iqbal, yang memperlihatkan bagaimana limbah organik dapat diolah menjadi bahan yang lebih bermanfaat.
Peserta kemudian mengunjungi kebun sayur untuk memanen kangkung yang telah siap dipetik, dilanjutkan melihat kandang ayam petelur sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu yang menghubungkan pengolahan limbah, budidaya tanaman, dan peternakan dalam satu siklus yang saling mendukung.
Melalui program ini, BSI Maslahat menegaskan perannya sebagai lembaga yang tidak hanya menyalurkan dana sosial, tetapi juga membangun model pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.
Urban farming diposisikan sebagai solusi yang menjawab tiga tantangan sekaligus, yakni pengelolaan limbah rumah tangga, keterbatasan lahan perkotaan, dan penguatan ketahanan pangan.
Dengan menjadikan sekolah sebagai laboratorium hidup, program ini diharapkan mampu melahirkan budaya baru dalam memanfaatkan ruang sempit menjadi ruang produktif, mengubah limbah menjadi sumber manfaat, serta menanamkan kesadaran lingkungan kepada generasi muda sejak dini. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.