Warisan Rasa dalam Kaleng: Perjuangan Dian Haryanto Membawa Tengkleng Solo Menembus Pasar Nasional
Setiap kaleng Tengkleng Mas Ker selalu membawa identitas yang sama, yaitu resep turun-temurun Mbah Sadhi sejak 1968, daging kambing berkualitas, rempah autentik, tanpa bahan pengawet, dan diproses...
NUMLIT, SOLO — Bagi sebagian besar orang, tengkleng adalah kuliner yang harus disantap hangat langsung dari dapur. Aroma rempah yang mengepul, kuah gurih yang masih mendidih, dan daging kambing yang empuk menjadi pengalaman yang sulit dipisahkan dari hidangan khas Solo tersebut.
Table Of Content
Namun, anggapan itulah yang justru ingin dipatahkan oleh Dian Haryanto, generasi ketiga pewaris resep legendaris Tengkleng Mbah Sadhi Astana Oetara.
Di tengah tantangan zaman, ia memilih jalan yang tidak mudah. Ia ingin mengubah kuliner tradisional menjadi produk modern tanpa kehilangan cita rasa aslinya.
Hasilnya adalah Tengkleng Mas Ker, pelopor tengkleng dalam kemasan kaleng yang kini mulai dikenal sebagai oleh-oleh khas Solo dengan daya simpan hingga satu tahun lamanya.
Inovasi tersebut bahkan mengantarkannya meraih Juara III UMKM Award Politeknik Indonusa 2026, sekaligus mempertegas bahwa warisan kuliner juga bisa bertumbuh melalui sentuhan teknologi.
Berawal dari Masalah Saat Mengikuti Lomba
Ide membuat tengkleng dalam kaleng ternyata bukan lahir dari laboratorium, melainkan dari pengalaman sederhana yang berulang kali dialami Dian.
Setiap mengikuti kompetisi maupun pameran UMKM, panitia selalu meminta peserta membawa produk siap saji untuk dinilai dewan juri. Bagi pelaku usaha tengkleng, hal itu bukan perkara mudah.
“Setiap ikut lomba, juri pasti harus mencicipi tengkleng yang sudah matang. Akhirnya saya berpikir, bagaimana kalau tengkleng dibuat dalam kemasan kaleng sehingga lebih praktis dibawa ke mana saja,” kenangnya, saat diwawancarai di kantornya di Jl. Kelud Selatan Cengklik RT 03/RW 20, Nusukan, Banjarsari, Solo, Kamis (6/8/2026).
Pengalaman serupa kembali ia rasakan ketika mengikuti pameran bersama Dinas Koperasi dan UMKM Kota Surakarta di Jakarta.

Membawa tengkleng berkuah segar ternyata merepotkan. Tim harus memasak ulang di lokasi pameran agar kualitas rasa tetap terjaga. Dari situlah muncul gagasan besar.
Bukan sekadar mengawetkan makanan, tetapi bagaimana menghadirkan tengkleng khas Solo yang praktis, aman, dan tetap mempertahankan cita rasa warisan keluarga.
Menjaga Resep Mbah Sadhi Sejak 1968
Dian bukan memulai usaha dari nol. Ia mewarisi resep Mbah Sadhi, pendiri warung Tengkleng Astana Oetara yang berdiri sejak 1968 di kawasan belakang Pasar Nusukan, Solo, Jawa Tengah.
Selama puluhan tahun, resep tersebut diwariskan turun-temurun dan tetap dipertahankan hingga sekarang.
Menurut Dian, tantangan terbesar bukan menciptakan rasa baru, melainkan menjaga rasa lama agar tetap sama meski dikemas dengan teknologi modern.
“Judul perjuangan kami sebenarnya sederhana, yaitu bagaimana melestarikan warisan leluhur dalam kemasan kaleng,” ujarnya.
Karena itu, Tengkleng Mas Ker tidak menggunakan bahan pengawet. Daya tahan produk hingga 12 bulan diperoleh melalui proses sterilisasi modern yang membuat makanan tetap aman dikonsumsi tanpa mengubah karakter rasa maupun aroma rempah khas Solo.
Kini tersedia dua varian, yakni Tengkleng Kuah Segar seharga Rp52.000 per kaleng dan Tengkleng Masak Spesial Pedas seharga Rp57.000 per kaleng. Cukup dipanaskan sebelum disajikan.
Mengubah Cara Orang Menikmati Tengkleng
Menurut Dian, tantangan terbesar justru bukan soal produksi, melainkan mengubah pola pikir masyarakat.
Selama ini, banyak orang meyakini bahwa tengkleng hanya nikmat jika dimakan langsung di warung.
Padahal, menurutnya, kuliner tradisional juga dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.
“Yang paling sulit adalah mengubah stereotipe bahwa tengkleng harus dimakan di tempat, masih segar, dan tidak bisa dijadikan oleh-oleh. Padahal sekarang bisa dibawa pulang, praktis, aman, dan rasanya tetap sama,” katanya.
Harapan besarnya, Tengkleng Mas Ker suatu hari nanti tidak hanya menjadi buah tangan khas Solo, tetapi juga tersedia di berbagai pusat oleh-oleh di Indonesia bahkan pasar Asia.
“Kalau orang datang ke Solo tetapi belum makan tengkleng, rasanya belum lengkap. Saya ingin nanti orang yang tidak sempat datang pun tetap bisa menikmati rasa Solo dari mana saja,” tuturnya.
Dari 100 Kaleng Sebulan Menuju Mimpi Besar
Saat ini, kapasitas produksi Tengkleng Mas Ker masih sekitar 100 kaleng setiap bulan. Angka tersebut jauh dari target yang ingin dicapai Dian. Ia bermimpi suatu saat mampu memproduksi 100 kaleng setiap hari.
Namun, untuk menuju tahap itu diperlukan dukungan investasi agar kapasitas produksi dapat ditingkatkan.
Usaha yang dijalankan bersama tiga karyawan tersebut juga masih melayani pesanan tengkleng kuali untuk berbagai acara keluarga, akikah, pengajian hingga pesta.
Satu kuali berisi tengkleng mampu dinikmati 25–35 orang dengan harga mulai Rp1 juta, dimasak secara tradisional menggunakan kuali tanah liat dan rempah pilihan. Sedangkan untuk porsi yang lebih besar yang dapat dinikmati 40-50 orang cukup ditebus dengan harga Rp1,6 juta.

Ketika Tradisi Bertemu Teknologi
Bagi Dian, inovasi tidak berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, teknologi justru menjadi alat untuk menjaga agar tradisi tetap hidup.
Kemasan kaleng hanyalah media. Yang terpenting adalah rasa, cerita, dan nilai budaya yang tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itulah setiap kaleng Tengkleng Mas Ker selalu membawa identitas yang sama, yaitu resep turun-temurun Mbah Sadhi sejak 1968, daging kambing berkualitas, rempah autentik, tanpa bahan pengawet, dan diproses melalui sterilisasi agar aman dinikmati kapan saja.
Membangun Mental Wirausaha
Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, Dian juga menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak takut memilih jalan sebagai wirausaha.
Menurutnya, banyak anak muda masih terpaku pada pola pikir mencari pekerjaan, padahal peluang menciptakan lapangan kerja terbuka sangat luas jika mampu melihat nilai dari sebuah produk lokal.
“Mindset kita kebanyakan masih ingin menjadi pegawai. Padahal menjadi pengusaha memang berat, tetapi harus dicoba. Mental harus siap, skill harus siap, dan marketing juga harus kuat,” ujarnya.
Ia mengajak anak-anak muda belajar melihat potensi yang sering dianggap biasa.
“Benda sederhana pun sebenarnya punya nilai. Tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi sesuatu yang dibutuhkan pasar.”

Perjalanan Tengkleng Mas Ker membuktikan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.
Terkadang, inovasi justru lahir dari keberanian merawat warisan lama dengan cara yang relevan untuk zaman sekarang.
Dari dapur sederhana di Nusukan, Solo, Dian Haryanto sedang membuktikan bahwa semangkuk tengkleng bukan hanya kuliner tradisional, tetapi juga identitas budaya yang layak menembus pasar nasional, bahkan internasional. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.