Tak Harus Memilih antara Panen dan Tanah, Regenerative Agriculture Mulai Diuji di Sukoharjo
Regenerative agriculture tidak harus dimulai dengan janji besar. Ia bisa dimulai dari satu lahan, satu kelompok tani, satu musim tanam, kemudian dibandingkan dengan praktik yang selama ini dilakukan.
Kepala Desa Plesan, Wiyono (berdiri) memberikan sambutan pada Forum Akhir Musim: Publikasi Hasil Sekolah Lapang Regenerative Agriculture, Sabtu (12/9/2026), di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. (Damar Sri Prakoso) NUMLIT, SUKOHARJO — Menjadi petani selama ini kerap dibayangkan sebagai pekerjaan yang membutuhkan biaya besar, tenaga fisik, serta ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia. Namun di sebuah lahan uji coba di Sukoharjo, cara pandang itu mulai ditantang.
Table Of Content
Di lahan tersebut, pertanian tidak hanya dihitung dari seberapa banyak hasil yang dipanen. Petani juga diajak menghitung berapa biaya yang dikeluarkan, bagaimana kondisi tanah setelah ditanami, hingga seperti apa kualitas hasil pertaniannya.
Pendekatan itu dikenal sebagai regenerative agriculture atau pertanian regeneratif.
Pembelajaran dari Sekolah Lapang Regenerative Agriculture yang digelar Yayasan Gita Pertiwi menunjukkan pertanian yang lebih berorientasi pada kesehatan tanah ternyata tidak otomatis membuat hasil panen turun.
Pada budidaya bawang merah, misalnya, lahan dengan praktik regenerative agriculture menghasilkan 408,76 kilogram. Sementara lahan yang menggunakan pola konvensional menghasilkan 413,16 kilogram. Selisihnya hanya 4,40 kilogram.

Namun ketika biaya produksi dihitung, perbedaannya justru lebih menarik. Harga Pokok Produksi (HPP) bawang merah dari lahan regenerative agriculture tercatat Rp10.379 per kilogram, sedangkan lahan konvensional mencapai Rp11.269 per kilogram.
Artinya, biaya produksi pada lahan regenerative agriculture dapat ditekan sekitar 7,9 persen.
Temuan sederhana itu menghadirkan pertanyaan penting bagi masa depan pertanian. Apakah petani memang harus memilih antara hasil panen yang baik atau tanah yang sehat? Pengalaman di Sukoharjo menunjukkan, keduanya mungkin saja berjalan beriringan.
Petani Muda Mulai Melihat Pertanian dengan Cara Berbeda
Bagi Bima Farel Pamungkas (19), pertanian bukan lagi pekerjaan yang identik dengan masa lalu.
Petani muda itu justru tertarik masuk ke dunia pertanian karena melihat lingkungan sekitar dan mendapatkan motivasi untuk mencoba.
“Saya tertarik jadi petani karena pengaruh lingkungan sekitar dan ada motivasi juga dari saya pribadi. Bertani itu ternyata enggak sulit,” kata dia saat diwawancarai, Sabtu (12/9/2026).
Bima kemudian terus meningkatkan pengetahuannya melalui perkumpulan gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan mengikuti program Sekolah Lapang yang digelar Gita Pertiwi.
Dari sana ia mengenal regenerative agriculture sebagai pendekatan pertanian berkelanjutan yang secara perlahan mengurangi penggunaan pupuk kimia. Menurutnya, perubahan praktik tersebut mulai terlihat dari hasil tanaman.
“Hasil pertanian lebih bagus. Buahnya lebih besar dan berisi,” ujar dia yang baru saja lulus SMA ini.
Namun Bima juga menyadari bahwa persoalan terbesar bukan selalu berada di lahan. Tantangan yang jauh lebih sulit adalah mengubah cara berpikir petani yang sudah terbiasa dengan pola konvensional.
“Tantangan mengubah mindset petani konvensional ke organik itu sangat sulit. Namun kami edukasi terus,” tambah dia.

Kalimat itu menunjukkan bahwa transisi menuju pertanian regeneratif tidak bisa dilakukan secara instan. Perubahan membutuhkan proses belajar, pembuktian, dan pendampingan yang terus-menerus.
Belajar dari Lahan, Bukan Sekadar dari Buku
Inilah yang coba dibangun melalui Sekolah Lapang Regenerative Agriculture.
Direktur Yayasan Gita Pertiwi Titik Eka Sasanti menjelaskan Sekolah Lapang tersebut sekaligus menjadi proses training of trainer (ToT) bagi para peserta.
Peserta tidak hanya diberi teori, tetapi diajak melihat langsung perbedaan praktik budidaya melalui lahan uji coba seluas sekitar 1.000 meter persegi.
Lahan tersebut dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian menggunakan pola konvensional, sedangkan bagian lainnya menerapkan regenerative agriculture. Perbandingan itu membuat proses belajar menjadi lebih konkret.
Menurut Titik, tujuan akhirnya bukan menjadikan lahan uji coba sebagai satu-satunya lokasi praktik.
“Harapannya selanjutnya direplikasi di lahan milik pertanian masing-masing,” kata dia.
Petani tidak ditempatkan hanya sebagai penerima teknologi. Mereka menjadi orang yang mengamati, mencoba, mencatat, membandingkan, kemudian menentukan praktik yang paling sesuai dengan kondisi lahannya.
Kompos dari Apa yang Ada di Sekitar
Dosen Program Studi S-1 Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Mercy Bientri Yunindanova, S.P., M.Si., Ph.D., melihat pendekatan tersebut relevan dengan pembelajaran di perguruan tinggi.
Menurut Mercy, regenerative agriculture pada dasarnya mendorong perubahan dari ketergantungan pada bahan kimia menuju pemanfaatan bahan organik yang tersedia di sekitar petani.
Bahan seperti gulma dan kotoran hewan dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pengelolaan bahan organik.
“Apa yang ada di sekitar, digunakan saja sebagai kompos. Gulma, kohe sapi, dan lain-lain.”
Ia bahkan menilai istilah “kompos plus” yang digunakan dalam praktik perlu dilihat kembali karena pada dasarnya sebagian besar bahan yang digunakan tetap didominasi kompos.
Bagi Mercy, hal terpenting adalah bagaimana petani memahami kebutuhan nutrisi tanaman dan kondisi lahannya.
Ia juga menilai kualitas hasil panen dari praktik regenerative agriculture telah menunjukkan hasil yang baik di lapangan. Namun, ada satu faktor lain yang tidak kalah penting yaitu komunikasi antara petani dan penyuluh.
“Kuncinya itu komunikasi dengan penyuluh sangat intens. Itu bisa membuat panen optimal. Ada penyuluh datang, saatnya kita bertanya.”
Mercy mencontohkan pertanian di Jepang yang menurutnya berkembang salah satunya karena hubungan petani dengan penyuluh sangat dekat. Petani tidak menyembunyikan persoalan yang mereka hadapi di lapangan, sehingga masalah dapat segera didiskusikan.
Bukan Sekadar Urusan Petani
Bagi Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, perubahan tersebut juga perlu dimulai dari skala kecil.
Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo Hadi Pramono menilai keberadaan petani muda justru membuka peluang baru bagi sektor pertanian.
“Petani muda, petani modern itu sangat menjanjikan. Tidak perlu kotor, tidak berbiaya besar,” kata Hadi.
Ia mendorong penerapan pertanian terintegrasi dimulai dari lingkungan masing-masing.
Menurut Hadi, pengelolaan yang memanfaatkan sumber daya alam dan bahan organik dapat membantu membangun ekosistem pertanian yang lebih sehat.
“Kita dorong mulai dari yang kecil dulu di lingkungan masing-masing. Pertanian terintegrasi. Ekosistem lingkungan tanah, udara akan berjalan. Tidak perlu pakai obat-obatan. Pakai alam semua. Organik,” tandas dia.

Dorongan tersebut menjadi penting karena perubahan pertanian tidak mungkin hanya mengandalkan satu kelompok atau satu program.
Petani membutuhkan pengetahuan. Penyuluh membutuhkan ruang pendampingan. Perguruan tinggi dapat memberikan dukungan riset. Pemerintah dapat memperkuat kebijakan. Sementara pasar harus mampu memberikan penghargaan terhadap produk pertanian berkualitas.
Dari Lahan ke Meja Makan
Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo Muhammad Fathul Anwar melihat persoalan pertanian dari sisi yang lebih luas.
Menurutnya, tantangan pertanian Indonesia ke depan bukan hanya bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana produk tersebut memiliki daya saing dari sisi kualitas dan harga.
Ia membuka peluang kolaborasi penelitian dan pengabdian bersama untuk memperkuat sektor pertanian.
Fathul mencontohkan Vietnam yang mampu membangun supply chain management pertanian dengan peran pemerintah yang kuat. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah petani mampu menghasilkan bawang merah, cabai, melon, atau komoditas lainnya.
“Pertanyaan berikutnya adalah apakah produk tersebut dapat sampai ke konsumen dengan harga yang kompetitif sekaligus memberikan keuntungan yang layak bagi petani?” kata dia.
Di sinilah isu pertanian regeneratif bertemu dengan persoalan pangan yang lebih besar.
Evaluasi yang dilakukan bersama Universitas Sebelas Maret Surakarta terhadap potensi pertanian di Boyolali dan Sukoharjo juga memperlihatkan bahwa hasil pertanian tetap menjadi bagian penting dari kebutuhan pangan masyarakat.
Mercy menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu contoh bahwa kebutuhan pangan tidak akan pernah bisa dilepaskan dari sektor pertanian.
“Mau ganti tahun berapa pun, kita tetap makannya dari hasil pertanian. Tidak mungkin ganti.”
Karena itu, ia mengapresiasi anak muda yang mulai masuk ke sektor tersebut.
Pertanian bukan sekadar profesi yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Ia merupakan bagian dari sistem pangan yang menentukan apa yang tersedia di meja makan masyarakat.
Pertanian Masa Depan Dimulai dari Cara Melihat Tanah
Pembelajaran Sekolah Lapang Regenerative Agriculture kemudian dipublikasikan melalui Forum Akhir Musim: Publikasi Hasil Sekolah Lapang Regenerative Agriculture, Sabtu (12/9/2026), di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Sekitar 50 peserta hadir dalam forum tersebut, terdiri atas petani, pemerintah desa, penyuluh, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo, perguruan tinggi, pelaku usaha, koperasi, serta berbagai pihak lainnya.
Forum itu menjadi ruang untuk membicarakan bagaimana praktik dari lahan uji coba dapat diperluas menjadi pembelajaran dan praktik bersama. Sebab angka hasil panen bawang merah memberikan pelajaran penting.
Regenerative agriculture tidak harus dimulai dengan janji besar. Ia bisa dimulai dari satu lahan, satu kelompok tani, satu musim tanam, kemudian dibandingkan dengan praktik yang selama ini dilakukan.
Hasilnya dicatat. Biayanya dihitung. Tanahnya diamati. Tanamannya dilihat. Lalu petani menentukan sendiri apakah praktik tersebut layak diterapkan.

Jika regenerative agriculture mampu menghasilkan panen yang relatif setara dengan biaya produksi yang lebih rendah, maka persoalannya bukan lagi sekadar apakah pendekatan itu mungkin dilakukan.
Tantangannya adalah seberapa luas praktik tersebut dapat direplikasi dan seberapa kuat ekosistem pertanian mendukung perubahan tersebut.
Bagi petani muda seperti Bima, pertanian bahkan sudah mulai dilihat sebagai sesuatu yang perlu terus di-upgrade, bukan pekerjaan yang berhenti pada cara-cara lama.
Dan bagi Sukoharjo, perubahan itu mungkin memang harus dimulai dari cara paling mendasar. Bagaimana melihat tanah bukan sekadar tempat menanam dan memanen, tetapi sebagai aset yang harus tetap hidup agar bisa terus menghasilkan.
Karena pertanian yang benar-benar berkelanjutan bukan hanya tentang berapa banyak yang dipanen hari ini, melainkan juga tentang berapa sehat tanah yang ditinggalkan untuk musim tanam berikutnya, seberapa efisien biaya yang dikeluarkan petani, dan seberapa kuat sistem pangan lokal menopang kebutuhan masyarakat di masa depan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.