Bukan Sekadar Kantong Belanja, Paper Bag Modular Ini Dirancang untuk Menyatukan Identitas Batik Laweyan
Paper bag modular dirancang sebagai media yang mempertemukan tiga kepentingan sekaligus yaitu identitas kawasan, branding komunitas, dan identitas individual pelaku usaha.
Perwakilan tim dosen Program Studi DKV FSRD ISI Surakarta menyerahkan paper bag modular kepada Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) Alpha Febela Priyatmono (kanan), Selasa (15/9/2026). (istimewa) NUMLIT, SURAKARTA — Di sebuah kawasan yang setiap sudutnya memiliki cerita tentang batik, satu persoalan branding ternyata tidak sesederhana membuat logo atau mencetak nama kawasan.
Table Of Content
Kampoeng Batik Laweyan memiliki banyak pelaku usaha dengan identitas masing-masing. Di sisi lain, kawasan tersebut juga membutuhkan identitas bersama yang mampu memperkuat posisinya sebagai kawasan heritage sekaligus ruang ekonomi kreatif.
Dilema itulah yang coba dijawab tim dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta melalui sebuah paper bag modular.
Bukan sekadar kemasan untuk membawa produk, paper bag tersebut dirancang sebagai media yang mempertemukan tiga kepentingan sekaligus yaitu identitas kawasan, branding komunitas, dan identitas individual pelaku usaha.
Inovasi itu resmi diserahkan kepada Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), Selasa (15/9/2026), setelah melalui proses perancangan selama sekitar tiga bulan.
Program pengabdian kepada masyarakat yang didanai melalui DIPA ISI Surakarta Tahun 2026 tersebut berlangsung sejak 2 Juli 2026. Tahapannya meliputi observasi dan pengumpulan data pada Juli, perancangan serta pembuatan purwarupa pada Agustus, hingga uji coba dan produksi akhir pada September.
Ketua tim pengabdian, Ipung Kurniawan Yunianto, mengatakan tantangan utama perancangan bukan hanya menciptakan kemasan yang menarik secara visual, tetapi bagaimana sebuah kemasan dapat membawa identitas bersama tanpa menghapus karakter setiap pelaku usaha.
“Paper bag ini harus mampu membawa nama FPKBL sebagai komunitas, mengangkat Batik Heritage Laweyan (BLH) sebagai lini produk kolektif yang berkelanjutan, sekaligus tetap memberi ruang bagi identitas masing-masing pelaku usaha independen tanpa menimbulkan resistensi,” jelas Ipung.
Konsep modular menjadi kunci desain tersebut. Pada paper bag terdapat saku berukuran kartu nama yang dibuat dari limbah kain batik. Saku tersebut dapat digunakan masing-masing pelaku usaha untuk menyisipkan identitas bisnis mereka.
Dengan mekanisme itu, satu kemasan dapat membawa identitas kawasan dan komunitas, tetapi tetap dapat “berbicara” atas nama pelaku usaha yang menjual produk di dalamnya.
Desain tersebut sekaligus memanfaatkan material yang memiliki hubungan langsung dengan karakter Laweyan, yakni kain batik.
“Limbah kain batik kami manfaatkan sebagai elemen fungsional, yaitu saku seukuran kartu nama pada paper bag. Saku ini memungkinkan setiap pelaku usaha menyisipkan identitas mereka sendiri,” kata Ipung.
Material utama paper bag juga menggunakan kertas degradable, yang dirancang selaras dengan prinsip keberlanjutan yang diusung lini produk Batik Heritage Laweyan.
Menurut Ipung, pendekatan tersebut menempatkan desain komunikasi visual bukan hanya sebagai persoalan estetika, tetapi sebagai alat untuk menjawab persoalan komunikasi dan kebutuhan nyata sebuah komunitas.
Dari Kemasan Menjadi Media Branding Kawasan
Bagi FPKBL, paper bag tersebut memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar wadah produk.
Ketua FPKBL Alpha Febela Priyatmono mengatakan inovasi tersebut dapat menjadi sarana taktis untuk memperkuat branding kawasan heritage sekaligus mendukung gagasan ekonomi sirkular.
“Melalui kegiatan ini, paper bag modular diserahkan langsung kepada pihak pengelola dan perwakilan masyarakat sebagai sarana penunjang branding kawasan heritage yang adaptif terhadap isu keberlanjutan, baik dari aspek komunitas, lingkungan, maupun sektor komersial,” ungkap Alpha.
Dengan kata lain, setiap paper bag yang keluar dari Laweyan berpotensi membawa cerita tentang kawasan tersebut ke luar kawasan. Kemasan menjadi titik temu antara produk, pelaku usaha, komunitas, dan identitas destinasi.
Pendekatan semacam ini juga relevan bagi kawasan heritage yang tidak hanya mengandalkan bangunan bersejarah, tetapi membutuhkan aktivitas ekonomi dan kreativitas masyarakat agar tetap hidup.

Karena itu, program pengabdian tersebut diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan desain kemasan, tetapi juga mendukung kegiatan edukasi dan wisata sejarah di kawasan Laweyan.
Laweyan sebagai Laboratorium Branding Komunitas
Proses perancangan selama tiga bulan memperlihatkan bahwa persoalan desain tidak selalu selesai melalui satu gambar atau satu logo.
Tim DKV ISI Surakarta harus terlebih dahulu memahami karakter komunitas, kebutuhan pelaku usaha, serta kemungkinan munculnya persoalan ketika sebuah identitas kolektif diterapkan kepada banyak pihak dengan kepentingan berbeda.
Dari proses tersebut lahir pendekatan branding berbasis kolektivitas. Laweyan kemudian tidak hanya menjadi lokasi penerapan desain, tetapi juga semacam laboratorium branding komunitas. Laweyan menjadi ruang tempat desain diuji untuk menjawab persoalan nyata antara identitas bersama, kepentingan individu, komersialitas, dan keberlanjutan.
Pendekatan itu sekaligus memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran dalam persoalan pengembangan kawasan melalui disiplin ilmu yang dimilikinya.
Bagi DKV, desain tidak berhenti pada menghasilkan karya visual. Desain dapat menjadi perangkat untuk menghubungkan pesan, manusia, produk, dan ruang.
Jangan Berhenti sebagai Proyek Pengabdian
Dalam penyerahan inovasi tersebut, harapan keberlanjutan justru menjadi perhatian penting.
Lurah Laweyan, Kasriyati, berharap program tersebut tidak berhenti sebagai proyek pengabdian masyarakat atau sekadar menghasilkan media branding kawasan.
Ia berharap desain yang telah dibuat benar-benar dimanfaatkan dan terus digunakan oleh komunitas.
Harapan tersebut menjadi penting karena keberhasilan sebuah desain komunitas pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh bagaimana desain itu dibuat, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat menggunakannya dalam aktivitas sehari-hari.
Jika digunakan secara konsisten, paper bag modular tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman konsumen ketika membeli produk Laweyan.
Setiap kantong membawa produk. Namun pada saat yang sama, ia juga membawa nama kawasan, identitas komunitas, cerita batik, dan identitas pelaku usaha yang ada di dalamnya.
Di situlah desain tersebut mencoba melakukan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mempercantik kemasan. Ia membangun identitas bersama tanpa meminta setiap orang kehilangan identitasnya.
Dan bagi sebuah kawasan heritage seperti Laweyan, barangkali justru di situlah tantangan branding sesungguhnya. Bagaimana menjadi satu komunitas tanpa harus menjadi seragam. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.