KKN Tematik Khusus, 15 Mahasiswa Kedokteran UGM Berangkat ke NTT Bawa Misi Kemanusiaan
Program KKN Tematik Khusus Peduli Bencana berlangsung selama sekitar 30 hari, mulai 23 September hingga 23 Oktober 2026.
15 Mahasiswa Kedokteran UGM Yogyakarta bersiap berangkat ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menjalani program KKN Tematik Khusus Peduli Bencana. Foto diambil Senin (21/9/2026). (dok Firsto/UGM) NUMLIT, JOGJA — Bagi 15 mahasiswa Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), perjalanan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan sekadar bagian dari kewajiban akademik.
Table Of Content
Mereka berangkat membawa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah sekaligus misi untuk membantu masyarakat yang tengah menghadapi situasi kebencanaan.
Kelima belas mahasiswa tersebut diterjunkan dalam program KKN Tematik Khusus Peduli Bencana selama sekitar 30 hari, mulai 23 September hingga 23 Oktober 2026. Mereka akan bertugas di Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai, NTT, dengan fokus membantu pelayanan kesehatan di dua puskesmas dan sejumlah posko kesehatan.
Di balik keberangkatan itu terdapat satu pesan utama yaitu ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, menegaskan bahwa program tersebut harus dipahami lebih dari sekadar tugas perkuliahan.
“Bukan saja sebagai mahasiswa yang menjalankan tugas kuliah kerja, yang pertama dan sekali itu pada misi kemanusiaan. Kita punya misi mulia untuk kemanusiaan,” ujar Arie saat melepas mahasiswa di Gedung Pusat UGM, Senin (21/9/2026).
Datang untuk Membantu, Bukan Mengambil Alih
Kehadiran mahasiswa di wilayah bencana sekaligus membawa tantangan tersendiri. Kondisi lapangan tidak sama dengan ruang praktik atau lingkungan pelayanan kesehatan dalam situasi normal.
Karena itu, Arie mengingatkan para mahasiswa untuk menempatkan keselamatan dan kompetensi sebagai prinsip utama selama menjalankan pengabdian.
Mahasiswa diminta menjaga kondisi fisik dan mental, bekerja sebagai bagian dari tim, serta menghormati tenaga kesehatan dan pihak-pihak yang selama ini telah bekerja di lapangan.
“Bekerja sebagai bagian dari tim dan hormat tenaga kesehatan maupun pihak yang selama ini sudah dilakukan dan bekerja tetap sesuai dengan kompetensi tahap pendidikan dan pengetahuan serta jangan sekali lagi mengambil alih tindakan di luar batas,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena misi kemanusiaan tidak selalu berarti melakukan sebanyak-banyaknya tindakan. Dalam situasi bencana, kemampuan memahami batas kewenangan dan bekerja bersama justru menjadi bagian dari profesionalisme.
Sekretaris DPkM UGM, Dr. Djarot Heru Santoso, M.Hum., menjelaskan bahwa 15 mahasiswa yang diberangkatkan merupakan mahasiswa Kedokteran dari FK-KMK UGM.

Program tersebut dirancang sebagai KKN Tematik Khusus karena membutuhkan keterampilan spesifik yang disesuaikan dengan kondisi kebencanaan dan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Selama berada di Manggarai, mahasiswa akan membantu pelayanan di dua puskesmas dan posko kesehatan setempat.
“Kehadiran mahasiswa diarahkan sebagai bentuk bantuan sekaligus ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk memahami kondisi masyarakat dan memberikan kontribusi sesuai kompetensi yang dimiliki,” jelas Djarot.
Belajar Kedokteran di Tengah Situasi Bencana
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menghadirkan ruang belajar yang berbeda. Gabriella Audrey Widiarso, salah satu mahasiswa KKN Peduli Bencana NTT, mengatakan keberangkatannya dilandasi keinginan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Menurutnya, kondisi kebencanaan juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami penanganan kasus medis dalam situasi yang berbeda dibandingkan pelayanan kesehatan sehari-hari.
Namun Gabriella tidak ingin kontribusi mahasiswa hanya diukur dari aspek medis. Ia melihat masyarakat terdampak bencana juga membutuhkan dukungan secara mental dan psikologis.
“Saya berharap, semoga kehadiran kami mahasiswa dapat memberikan dampak nyata dan membantu meringankan beban masyarakat NTT sesuai dengan kapasitas kami sebagai mahasiswa,” ujarnya.
Ia ingin mahasiswa dapat hadir bukan hanya untuk membantu pelayanan kesehatan fisik, tetapi juga memberikan dukungan psikologis melalui interaksi dan aktivitas yang dapat menghibur warga.
“Tidak hanya membantu secara kesehatan fisik, tetapi support secara mental dengan membantu menghibur agar bersama-sama kita bisa bangkitkan NTT lagi,” lanjutnya.
Ilmu yang Turun dari Kampus ke Tengah Masyarakat
KKN Peduli Bencana UGM mendapat dukungan dari FK-KMK UGM, pemerintah daerah setempat, serta jaringan alumni UGM yang berada di wilayah terdampak.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa tidak berdiri sendiri. Mereka ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem penanganan di lapangan, bukan menggantikan peran pemerintah maupun tenaga profesional yang telah bekerja di wilayah tersebut.
Bagi UGM, pola pengabdian seperti ini sekaligus menjadi cara untuk mempertemukan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan nyata masyarakat.
Selama 30 hari di NTT, para mahasiswa tidak hanya akan menghadapi persoalan kesehatan, tetapi juga belajar membaca situasi sosial masyarakat dalam kondisi bencana.
Pada akhirnya, perjalanan 15 mahasiswa kedokteran tersebut membawa pelajaran yang lebih besar daripada sekadar pengalaman KKN.
Mereka berangkat dengan ilmu yang sudah dipelajari, tetapi juga dengan kesadaran bahwa ilmu tersebut memiliki makna ketika dapat digunakan untuk membantu orang lain.
Di tengah situasi bencana, mereka datang bukan sebagai penyelamat tunggal. Mereka datang sebagai bagian dari tim, belajar dari tenaga kesehatan dan masyarakat setempat, sekaligus memberikan kontribusi sesuai kapasitasnya.
Sebab dalam misi kemanusiaan, terkadang kontribusi paling berarti bukan tentang seberapa banyak yang bisa dilakukan, melainkan tentang kesediaan untuk hadir, bekerja bersama, dan membantu mereka yang sedang membutuhkan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.