Tak Lulus SD, Suparni Bertahan 30 Tahun di Pasar agar Anaknya Bisa Kuliah
Selama 30 tahun, warung makan sederhana itu telah menjadi ruang perjuangan untuk membesarkan keluarga dan membuka pintu pendidikan bagi anak-anaknya.
Suparni (68) memasak di warung makannya di lantai III Pasar Jongke, Surakarta, Rabu (23/9/2026). (Nurul Hidayah) NUMLIT, SURAKARTA — Suparni tidak pernah menyelesaikan sekolah dasar (SD). Namun, perempuan 68 tahun itu menghabiskan sebagian besar hidupnya memastikan anak-anaknya mendapatkan kesempatan pendidikan yang dulu tak pernah ia miliki.
Selama sekitar 30 tahun, warung makan sederhana di dalam Pasar Jongke, Surakarta, menjadi tempat Suparni menggantungkan hidup sekaligus jalan bagi keluarganya untuk bertahan. Dari meja-meja makan di pasar, ia menabung harapan sedikit demi sedikit agar anak-anaknya bisa sekolah lebih tinggi darinya. Kini, ketika Pasar Jongke semakin sepi, Suparni masih berada di sana.
Rabu (23/9/2026) itu, aktivitasnya tetap berlangsung seperti biasa. Warung makan di lantai III Pasar Jongke menjadi saksi perjalanan panjang perempuan asal Solo tersebut, dari masa ketika pasar masih menempati bangunan lama, berpindah ke pasar darurat di lapangan SMPN 9 Surakarta, hingga akhirnya menempati bangunan Pasar Jongke saat ini.
Tiga dekade berlalu, tetapi satu hal yang tidak berubah yaitu Suparni tetap bekerja. Bukan semata karena ingin mempertahankan warungnya. Ada perjalanan keluarga yang membuatnya memilih untuk terus bertahan.
Pendidikan yang Tak Sempat Dirasakan
Suparni hanya sempat mengenyam pendidikan dasar. Ia tidak dapat melanjutkan sekolah karena kondisi keluarga.
Sebagai satu-satunya anak perempuan di antara saudara-saudaranya yang mayoritas laki-laki, ia diminta berhenti sekolah untuk membantu keluarga. Pengalaman itu membekas.
Alih-alih menjadikan keterbatasan pendidikan sebagai alasan untuk menyerah, Suparni justru menyimpan keinginan agar anak-anaknya memiliki kesempatan yang berbeda. Ia ingin kedua anaknya bersekolah setinggi mungkin.
“Rapapa aku ora tutug sekolah, sing penting anak-anakku isa sekolah dhuwur, ora kaya aku (Tidak apa-apa aku tidak bisa menyelesaikan sekolah. Yang penting, anak-anakku bisa sekolah tinggi dan tidak mengalami nasib sepertiku),” ujar dia saat diwawancarai, Rabu (23/9/2026).
Kalimat sederhana itu menjadi semacam prinsip yang ia pegang selama bertahun-tahun.
Penghasilan dari warung makan selama ini menjadi tumpuan Suparni untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Tono, anak pertama Suparni, mengingat bagaimana sejak kecil dirinya dan adiknya dibiayai dari warung tersebut.
“Iya, Ibu membiayai saya dan adik saya dari hasil warung yang dimiliki Ibu,” kenang Tono.
Namun perjalanan keluarga itu bukan tanpa usaha dari sang anak. Ketika kondisi ekonomi keluarga membutuhkan tambahan, Tono dan adiknya ikut membantu. Salah satunya dengan menjadi tukang parkir.
Bagi keluarga Suparni, pendidikan bukan sesuatu yang datang dengan mudah. Ada pekerjaan, penghematan, dan kebersamaan yang harus dijalani agar anak-anak tetap bisa bersekolah.
Perjuangan itu perlahan membuahkan hasil. Tono kemudian berhasil menempuh pendidikan di jurusan otomotif Universitas Surakarta (UNSA).
Bagi Suparni, pencapaian tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar ijazah. Ia melihat sesuatu yang dulu terasa jauh dari kehidupannya. Anaknya bisa mencapai bangku perguruan tinggi.
Setelah puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan Pasar Jongke, Suparni kini menghadapi tantangan baru. Warung makan yang berada di lantai tiga tidak lagi seramai dahulu.
Menurut Suparni, keberadaan pedagang makanan menggunakan gerobak di lantai dasar membuat sebagian pembeli memilih tidak naik ke lantai atas. Harga makanan yang lebih terjangkau juga menjadi salah satu pertimbangan.
“Tempat makan di lantai III sepi karena ada pedagang asongan yang memakai alat dorongan di lantai dasar. Harganya lebih terjangkau, seperti nasi bungkusan. Jadi orang-orang malas naik ke lantai III,” tuturnya.
Bagi pedagang yang menggantungkan pendapatan harian dari warung, perubahan itu tentu bukan persoalan kecil. Namun Suparni tetap bertahan karena selama tiga puluh tahun, ia sudah terbiasa menghadapi perubahan.
Ia pernah berjualan di pasar lama. Pernah mengikuti perpindahan ke pasar darurat. Dan kini menjalani hari-hari di pasar yang kondisinya berbeda dari masa lalu. Warung itu mungkin tidak lagi seramai dulu. Tetapi bagi Suparni, tempat tersebut bukan sekadar ruang untuk berjualan. Di sanalah sebagian besar hidupnya berlangsung.
Ketika Anak Memilih Tetap Dekat dengan Ibu
Setelah menyelesaikan pendidikan, Tono memiliki kesempatan untuk menempuh kehidupan di luar lingkungan ibunya. Namun ia memilih tetap berada di dekat Suparni. Pilihan itu menjadi bentuk dukungan lain dalam keluarga tersebut.
Selama puluhan tahun, Suparni menjadi salah satu tumpuan keluarga. Kini, ketika usianya telah mencapai 68 tahun, anak-anaknya menjadi bagian dari kekuatan yang membuatnya tetap menjalani aktivitas sehari-hari.
Ada semacam lingkaran yang kembali bertemu. Dulu Suparni bekerja agar anak-anaknya bisa sekolah. Kini, anak-anaknya hadir untuk membantu dan mendampingi ibunya.
Kisah Suparni pada akhirnya bukan hanya tentang pedagang yang bertahan di tengah pasar yang sepi.
Ini adalah cerita tentang seorang ibu yang mengukur keberhasilan hidup bukan dari seberapa jauh dirinya bersekolah, tetapi dari seberapa tinggi anak-anaknya dapat melangkah.
Ia mungkin tidak memiliki ijazah pendidikan tinggi. Ia mungkin tidak memiliki usaha besar. Namun selama tiga dekade, warung makan sederhana itu telah menjadi ruang perjuangan untuk membesarkan keluarga dan membuka pintu pendidikan bagi anak-anaknya.
Di usia 68 tahun, Suparni masih berjualan. Pasarnya mungkin berubah. Jumlah pembeli mungkin tidak sebanyak dulu. Tantangannya pun semakin beragam. Tetapi ada satu hasil yang tidak bisa dihapus oleh sepinya pasar. Anak yang pernah ia biayai dari hasil warung kini telah merasakan bangku perguruan tinggi.
Dari tangan seorang ibu yang pendidikannya terhenti di sekolah dasar, lahir sebuah keyakinan bahwa pendidikan anak tidak boleh ikut berhenti. Dan mungkin, itulah keuntungan terbesar yang pernah dihasilkan sebuah warung kecil di Pasar Jongke.



No Comment! Be the first one.