Dari Mencangkul ke Panggung Jakarta, Petani Lereng Merbabu Hidupkan Kembali Tari Soreng
Program ECOSORENG: Pendampingan Penciptaan Tari “Penari Petani”, yang digagas tim Pascasarjana dan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026.
Latihan menjadi bagian proses penting, tidak hanya melatih fisik dan ketrampilan tetapi juga sebagai bentuk sosialisasi dengan penduduk sekitar. (istimewa) NUMLIT, MAGELANG – Gerakan mencangkul, memikul beban, menanam, menyiangi rumput hingga memanen selama ini menjadi bagian dari keseharian petani di lereng Gunung Merbabu. Namun di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, gerakan-gerakan itu menemukan bentuk lain menjadi bahasa tubuh di atas panggung.
Table Of Content
Dari sanalah lahir “Penari Petani”, karya tari yang mengolah pengalaman hidup masyarakat agraris menjadi pertunjukan kontemporer tanpa meninggalkan akar tradisi Soreng.
Karya tersebut lahir melalui program ECOSORENG: Pendampingan Penciptaan Tari “Penari Petani”, yang digagas tim Pascasarjana dan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026.
Bukan sekadar menciptakan repertoar baru, program ini membawa misi yang lebih besar yaitu membuat kesenian rakyat tetap hidup di tengah perubahan zaman sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk kembali merasa memiliki tradisi desanya.
Tari Soreng sendiri telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bandungrejo sejak puluhan tahun lalu. Sanggar Soreng Warga Setuju (SWS), salah satu penjaga tradisi tersebut, berdiri sejak 1964.
Namun perjalanan panjang itu bukan tanpa tantangan. Dominasi penari senior, berkurangnya keterlibatan anak muda, serta pola pewarisan seni yang masih banyak berlangsung secara lisan membuat keberlanjutan tradisi Soreng menghadapi persoalan regenerasi.
Di sisi lain, perkembangan pariwisata dan festival budaya berpotensi membuat kesenian rakyat hanya tampil sebagai tontonan, sementara hubungan dengan kehidupan masyarakat yang melahirkannya semakin jauh. Program ECOSORENG mencoba menjawab persoalan itu dengan cara berbeda.
Pulang ke kampung, belajar dari petani
Alih-alih datang sebentar untuk memberikan pelatihan, tim pendamping memilih tinggal dan berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui pendekatan residensi seni “pulang ke kampung”.
Selama delapan bulan, Februari hingga September 2026, tim menjalankan pendampingan dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Salah satu pusat kegiatan berada di Kemah Budaya Kaliandong, ruang terbuka di tengah lingkungan agraris Bandungrejo.

Di tempat tersebut, akademisi, seniman, mahasiswa, pemuda desa, dan masyarakat bertemu bukan dalam posisi guru dan murid yang kaku. Mereka berdiskusi, berlatih, tinggal bersama, bahkan ikut merasakan aktivitas bertani.
Pengalaman keseharian masyarakat kemudian menjadi bahan penciptaan. Gerakan mencangkul, memikul, mengolah tanah, memilih bibit, menanam, merawat tanaman hingga memanen tidak sekadar diamati, tetapi diterjemahkan menjadi kosakata gerak baru dalam tari Soreng. Dengan demikian, tubuh petani menjadi sumber pengetahuan artistik.
Pendekatan ini sekaligus mengubah posisi generasi muda. Mereka tidak hanya diminta menjadi penonton atau mengikuti instruksi penari senior, tetapi dilibatkan sebagai bagian dari proses kreatif.
Mulai dari menggali cerita kehidupan agraris, mengeksplorasi gerak, mengikuti latihan hingga menangani dokumentasi dan media sosial sanggar.

Hasilnya mulai terlihat pada perayaan ulang tahun Sanggar SWS pada Juli 2026. Keterlibatan generasi muda tercatat mencapai 90 persen dari total partisipan aktif pementasan desa.
Mereka bukan hanya tampil sebagai penari, tetapi juga ikut menangani aspek teknis acara dan dokumentasi media sosial.
Ketika tradisi desa menembus panggung nasional
Proses panjang tersebut kemudian melahirkan karya “Penari Petani” berdurasi sekitar 45 menit.
Karya ini dikembangkan bersama EkosDance Company dengan tetap mempertahankan idiom keprajuritan dalam tari Soreng. Unsur musik gending Soreng dikembangkan, sementara aspek artistik, kostum, video mapping, dan dramaturgi turut diperkuat.
Yang dibawa ke panggung bukan sekadar gerakan tari baru, melainkan cerita tentang kehidupan masyarakat yang selama ini menjadi rumah bagi tradisi tersebut.
Karya “Penari Petani” kemudian memperoleh kesempatan tampil di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, Jakarta, pada 2 Mei 2026. Pementasan berlangsung dalam dua sesi, pukul 15.00 WIB dan 19.00 WIB.
Bagi kesenian rakyat dari sebuah desa di lereng Merbabu, panggung tersebut menjadi lebih dari sekadar tempat pentas. Namun, menjadi ruang pembuktian bahwa seni yang tumbuh dari kehidupan agraris dapat dibawa ke ruang pertunjukan nasional tanpa harus kehilangan identitas lokalnya.
Membangun masa depan sanggar
ECOSORENG tidak berhenti pada penciptaan karya. Pendampingan juga diarahkan untuk membenahi tata kelola Sanggar SWS yang sebelumnya berjalan secara informal dan banyak mengandalkan komunikasi lisan.
Tim kemudian membantu membangun pembagian kerja yang lebih jelas, antara lain bidang artistik, logistik/produksi, serta media dan dokumentasi.
Sistem pengarsipan digital juga mulai dibangun melalui dokumentasi latihan dan pertunjukan yang dikelola secara lebih sistematis melalui kanal YouTube dan Instagram sanggar.
Peremajaan instrumen musik pengiring dan kostum pementasan juga dilakukan melalui dukungan hibah PISN 2026 senilai Rp80 juta, dengan capaian luaran fisik 90 persen.
Transformasi tersebut membuat pendampingan tidak hanya menghasilkan satu karya tari, tetapi juga meninggalkan sistem yang dapat digunakan sanggar untuk mengembangkan kegiatannya setelah program berakhir.
Tradisi tidak harus membeku
Bagi masyarakat Bandungrejo, Soreng bukan sekadar kesenian yang dipentaskan ketika ada acara. Ia lahir dari lingkungan sosial dan agraris yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar bagaimana mempertahankan bentuk lama, tetapi bagaimana membuat tradisi tetap memiliki hubungan dengan generasi yang hidup pada zaman berbeda.
Melalui “Penari Petani”, pengalaman bertani justru menjadi pintu masuk untuk memperbarui bahasa artistik Soreng. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi diajak berdialog dengan perkembangan seni pertunjukan kontemporer.

Pada titik inilah ECOSORENG menawarkan gagasan penting bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan kesenian dalam bentuk yang sama. Tradisi juga dapat bertahan dengan cara tumbuh, beradaptasi, dan membuka ruang bagi generasi baru untuk ikut menciptakannya.
Program tersebut menunjukkan bahwa ketika masyarakat ditempatkan sebagai subjek, bukan sekadar objek pelestarian, seni rakyat dapat berkembang menjadi ruang dialog budaya yang hidup.
Dari lereng Merbabu, gerakan para petani akhirnya sampai ke panggung Jakarta. Namun yang lebih penting dari perjalanan itu adalah apa yang tertinggal di Bandungrejo. Anak-anak muda yang kembali terlibat, sanggar yang mulai tertata, pengetahuan lokal yang terdokumentasi, dan sebuah keyakinan bahwa tradisi masih memiliki masa depan selama masyarakatnya terus diberi ruang untuk ikut menentukan arah.
Sebab pada akhirnya, menjaga kesenian bukan hanya soal mempertahankan gerak yang diwariskan. Namun, juga tentang memastikan masih ada generasi yang mau bergerak bersama tradisinya. (Redaksi)
Tulisan ini diolah dari artikel Ecosoreng “Penari Petani”: Model Pendampingan Residensial Partisipatif Dalam Penciptaan Seni Dan Regenerasi Kultural Sanggar Soreng Warga Setuju Bandungrejo Magelang, karya Eko Supriyanto, Aries Budi Marwanto, Eko Supendi dari Pascasarjana dan Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Surakarta.



No Comment! Be the first one.