Belajar di Alam Jadi Cara Memahami Anak, Mahasiswa Psikologi Usahid Diajak Melihat Pendidikan Lebih Mendalam
Kuliah tamu tidak hanya menjadi ruang belajar teori psikologi pendidikan, tetapi juga ruang refleksi bagi mahasiswa untuk melihat kembali makna belajar, cara mendidik anak, dan pentingnya memahami...
NUMLIT, SURAKARTA — Suasana perkuliahan di Ruang 409 Universitas Sahid (Usahid) Surakarta, Jawa Tengah, pada Senin (25/5/2026) terasa berbeda.
Mahasiswa semester II Program Studi Psikologi tidak hanya diajak mendengarkan teori, tetapi juga diajak menertawakan cara berpikir mereka sendiri tentang pendidikan.
Melalui kuliah tamu bertema “Belajar di Alam dari Perspektif Psikologi Pendidikan dalam Membangun Pembelajaran Mendalam”, dosen tamu Didik W. Kurniawan mengajak mahasiswa lebih peka melihat realitas pendidikan dasar di Indonesia.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai humas di SD Muhammadiyah Alam Surya Mentari Surakarta itu membuka diskusi dengan cara ringan dan mengundang tawa.

“Mengapa Spiderman memiliki jaring?” tanya Didik kepada peserta kuliah, menirukan rasa penasaran anak-anak.
“Karena laba-laba,” jawab salah satu mahasiswi.
Didik kemudian melanjutkan, “Kenapa nelayan menggunakan jaring?”
“Untuk menangkap ikan,” sahut peserta lainnya.
“Berarti Spiderman itu nelayan?”
Ruangan pun pecah oleh gelak tawa mahasiswa.
Bagi Didik, percakapan sederhana seperti itu menunjukkan betapa besar rasa ingin tahu anak-anak. Menurutnya, dunia pendidikan seharusnya mampu menangkap rasa penasaran tersebut sebagai pintu masuk pembelajaran yang bermakna.
Ia menilai, selama ini pendidikan sering kali terlalu fokus pada materi akademik tanpa benar-benar memahami kebutuhan belajar anak.
“Jangan-jangan yang selama ini dipelajari di sekolah bukan hal-hal yang benar-benar dibutuhkan anak,” ujarnya.
Menurut Didik, salah satu metode pembelajaran yang paling efektif adalah belajar bersama alam. Aktivitas sederhana seperti mengamati pertumbuhan kacang hijau di atas kapas basah, menurutnya, dapat menjadi media belajar lintas pelajaran.
Dari satu aktivitas itu, anak-anak bisa belajar membaca, menulis, berhitung, mencatat hasil pengamatan, hingga memahami nilai-nilai agama dan kehidupan.
“Sesederhana memelihara hewan atau mengamati tumbuhan, sebenarnya sudah bisa menjadi pembelajaran yang mendalam dan bermakna,” katanya.
Dalam kuliah tersebut, Didik juga menyoroti persoalan inner child yang menurutnya masih banyak memengaruhi cara berpikir seseorang hingga dewasa.
Ia kemudian meminta dua mahasiswa maju ke depan kelas dan menghafalkan Pembukaan UUD 1945 di hadapan peserta lain. Namun keduanya tampak kesulitan menghafal secara lancar.
Melihat situasi itu, Didik kembali melontarkan pertanyaan yang memancing refleksi peserta.
“Pembukaan UUD 1945 itu harus dihafal atau cukup dibaca? Saat upacara bendera, dibaca atau dihafal? Kenapa tidak ada yang bertanya?” ujarnya sambil tersenyum.
Mahasiswa kembali tertawa, tetapi sekaligus mulai memahami pesan yang ingin disampaikan.
Menurut Didik, pengalaman masa kecil sering membentuk cara seseorang memandang proses belajar, termasuk anggapan bahwa anak pintar adalah anak yang mampu menghafal.
“Itu juga bentuk inner child. Dulu mungkin kita terbiasa berpikir kalau hafal berarti pintar. Padahal tidak semua hal harus dihafalkan. Ada yang cukup dibaca dan dipahami,” jelasnya.

Dosen pengampu mata kuliah, Dr. Anniez Rachmawati Musslifah, M.Psi., Psikolog, menutup perkuliahan dengan menegaskan pentingnya calon psikolog memahami kondisi dirinya sendiri sebelum membantu orang lain.
Menurutnya, seorang psikolog setidaknya perlu berdamai dengan pengalaman dan luka masa kecil yang dimiliki, termasuk pola pikir yang terbentuk sejak masa sekolah.
Kuliah tamu tersebut pun tidak hanya menjadi ruang belajar teori psikologi pendidikan, tetapi juga ruang refleksi bagi mahasiswa untuk melihat kembali makna belajar, cara mendidik anak, dan pentingnya memahami manusia secara lebih utuh. (Didik W. Kurniawan)



No Comment! Be the first one.