Dari Dapur Pondok ke Jalanan, Santri Muhammad Al Fatih Belajar Jadi Wirausahawan Sejak Remaja
Kegiatan berjualan susu kedelai menjadi pengalaman tersendiri karena para santri belajar langsung mengenal dunia perdagangan.
NUMLIT, SUKOHARJO — Sore hari, ketika sebagian remaja mungkin mulai mencari waktu untuk bersantai, sejumlah santri Pondok Pesantren Muhammad Al Fatih, Ngemplak, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, justru bersiap membawa dagangan.
Table Of Content
Selepas Salat Asar hingga menjelang Magrib, mereka keluar dari lingkungan pondok. Di tangan mereka bukan sekadar barang dagangan, melainkan sebuah pengalaman yaitu menawarkan susu kedelai buatan pondok kepada masyarakat sekitar.
Bagi para santri, kegiatan itu adalah bagian dari program kewirausahaan yang diterapkan pesantren.
Salah satunya Ardi Saputra, 15 tahun. Remaja tersebut mengaku kegiatan berjualan susu kedelai menjadi pengalaman tersendiri karena mereka belajar langsung mengenal dunia perdagangan.
“Ini merupakan program kewirausahaan dari pondok,” ujar Ardi, saat diwawancarai, Rabu (9/9/2026).
Setiap susu kedelai yang berhasil dijual memberikan keuntungan Rp500 bagi santri. Hasil tersebut kemudian menjadi tambahan uang saku.
Nominalnya memang tidak besar. Namun bagi santri seusia Ardi, pengalaman mendapatkan uang dari hasil menawarkan dan menjual produk sendiri memiliki arti yang lebih panjang.
Mereka belajar bahwa mendapatkan penghasilan membutuhkan keberanian untuk memulai, menawarkan, dan menghadapi kemungkinan dagangan tidak seluruhnya laku.
17 Santri Bergiliran Menjajal Pasar
Tidak semua santri berjualan setiap hari. Kegiatan tersebut dilakukan secara bergiliran.
Dalam satu hari, sebanyak 17 santri mendapat giliran. Mereka kemudian menyebar ke sejumlah lokasi di sekitar pondok untuk menawarkan susu kedelai kepada masyarakat.
Ada hari ketika seluruh dagangan habis terjual. Namun ada pula kesempatan ketika masih terdapat susu yang tersisa. Situasi semacam itu justru menjadi bagian dari pengalaman belajar.
Di lapangan, para santri tidak hanya mengenal bagaimana memperoleh keuntungan, tetapi juga merasakan bahwa dunia usaha tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Hari ini dagangan bisa habis. Di hari lain, sebagian produk mungkin harus dibawa kembali.
Pengalaman sederhana tersebut menjadi ruang bagi mereka untuk belajar menghadapi hasil yang tidak pasti.
Bukan Sekadar Dagangan, tetapi Produk Pondok
Yang menarik, susu kedelai yang dijajakan para santri bukan produk yang dibeli dari luar.
Minuman tersebut merupakan produk buatan pondok pesantren sendiri. Proses pembuatannya ditangani oleh tim khusus di bagian dapur pondok.
Dengan pola tersebut, kegiatan kewirausahaan berjalan dari hulu hingga hilir.
Ada tim yang menyiapkan produk di dapur, sementara para santri mendapat pengalaman di bagian pemasaran dan penjualan.
Para santri pun tidak sekadar menjadi penjual produk orang lain. Mereka berhadapan langsung dengan produk yang berasal dari lingkungan mereka sendiri.
Dari sinilah pengalaman kewirausahaan itu menjadi lebih konkret: mengenal produk, membawanya ke pasar, menawarkan kepada calon pembeli, hingga mengetahui apakah produk tersebut diterima masyarakat.
Mimpi yang Dimulai dari Susu Kedelai
Bagi Ardi, pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti ketika ia menyelesaikan masa belajar di pondok.
Ia berharap kebiasaan berdagang yang diperoleh sejak remaja dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan dan mengembangkan jiwa kewirausahaan pada masa depan.
“Semoga dengan belajar kewirausahaan melalui berdagang, kami bisa menjadi orang sukses,” kata Ardi.
Harapan itu mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari aktivitas sederhana seperti itulah keberanian untuk berwirausaha dapat mulai tumbuh.
Setiap sore, ketika 17 santri bergantian membawa susu kedelai keluar pondok, yang mereka bawa sebenarnya bukan hanya minuman untuk dijual.
Mereka membawa kesempatan untuk belajar berani menawarkan, berani menghadapi penolakan, memahami hasil usaha, dan menghargai proses mendapatkan penghasilan.
Dan barangkali, beberapa tahun mendatang, pengalaman kecil menjual susu kedelai selepas salat Asar itu akan menjadi salah satu cerita yang mereka ingat ketika mulai membangun usaha sendiri.



No Comment! Be the first one.